![]() |
| Masjid Raya Cipaganti (Sumber : gmaps/Lukman Hakim) |
Di balik padatnya lalul-lintas wilayah Bandung Utara yang dikenal dengan kawasan elit dan suasananya yang sejuk, tersimpan sebuah bangunan bersejarah yang telah berdiri hampir satu abad lamanya — Masjid Cipaganti. Tak sekadar tempat ibadah, masjid ini menjadi saksi perjalanan panjang Kota Bandung, mulai dari masa kolonial hingga kemerdekaan. Yang membuatnya semakin istimewa, Presiden Soekarno pernah mengunjungi dan menunaikan salat di sini.
Bagi para pecinta wisata religi dan sejarah, Masjid Cipaganti adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Selain keindahan arsitekturnya yang memukau, masjid ini juga memancarkan aura ketenangan dan nilai historis yang kuat, menjadikannya salah satu ikon spiritual paling menarik di Bandung Utara.
Sejarah Berdirinya Masjid Cipaganti
Masjid Cipaganti berdiri di Jalan R.A.A. Wiranatakusumah No. 85, kawasan yang dulunya dikenal sebagai Jalan Cipaganti atau Nylandweg di masa kolonial Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan pada 7 Februari 1933, dan tepat setahun kemudian, pada 27 Januari 1934, masjid ini resmi berdiri di atas lahan seluas 2.675 meter persegi.
Yang menarik, masjid ini dirancang oleh Prof. C.P. Wolff Schoemaker, arsitek asal Belanda yang juga guru besar di Technische Hogeschool Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung). Ia dikenal lewat karya-karya legendaris seperti Gedung Asia Afrika, Hotel Preanger, Gereja Katedral Bandung, dan Vila Isola.
Sebagaimana bangunan rancangannya yang lain, Masjid Cipaganti menampilkan perpaduan indah antara gaya art deco khas Eropa dengan unsur seni tradisional Jawa dan kaligrafi Timur Tengah. Dari luar, tampilan fasad masjid ini mengingatkan pada Gereja Bethel di Bandung, terutama pada bagian pintu utama yang menjorok dengan dua pilar besar di sisinya — sebuah ciri khas arsitektur kolonial pada zamannya.
Arsitektur yang Memadukan Timur dan Barat
Begitu melangkah ke halaman masjid, nuansa klasik langsung terasa. Dinding berwarna lembut, pilar bata ekspos, serta lampu gantung antik dari logam kuning keemasan menciptakan kesan elegan nan hangat. Beberapa elemen seperti kaligrafi di pintu utama, ukiran kayu di sokoguru, dan plafon orisinal masih dipertahankan seperti saat masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1933.
Keindahan arsitektur Masjid Cipaganti bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga pada maknanya: sebuah simbol harmonisasi budaya antara timur dan barat, antara modernitas dan spiritualitas. Tak heran, banyak wisatawan — baik lokal maupun mancanegara — datang ke sini untuk mengagumi keunikan desainnya.
Masjid di Tengah Kawasan Elite Kolonial
Menariknya, Masjid Cipaganti merupakan masjid pertama dan tertua di wilayah Bandung Utara. Saat dibangun, kawasan ini dikenal sebagai Een Western Enclave — permukiman elite yang diperuntukkan bagi bangsa Eropa dan bangsawan pribumi.
Masjid ini berdiri berkat peran besar seorang pengusaha susu asal Italia bernama PA Ursone. Melalui istrinya, Nyi Oerki, ia mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, agar para pekerja Muslim di perusahaannya memiliki tempat beribadah. Dukungan pun datang dari tokoh-tokoh Bandung, termasuk Bupati Bandung Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja, yang turut meletakkan batu pertama pembangunan.
Uniknya lagi, ornamen keramik masjid dibuat oleh Keramich Laboratorium Bandung, sementara ukiran kayunya dikerjakan oleh murid pribumi dari Sekolah Teknik Haminte. Semua elemen disatukan dengan keahlian tinggi hingga menghasilkan karya arsitektur yang abadi.
Jejak Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan
Tak hanya menjadi rumah ibadah, Masjid Cipaganti juga menyimpan kisah heroik dalam perjuangan bangsa. Pada era 1950-an, masjid ini pernah dijadikan markas Tentara Pembela Tanah Air (PETA) sekaligus tempat berkumpul para pejuang kemerdekaan.
Beberapa sumber menyebutkan, Ir. Soekarno kerap mengunjungi masjid ini untuk berdiskusi dan bermusyawarah dengan para tokoh lokal. Kisah tentang sang proklamator yang pernah salat di Masjid Cipaganti pun masih menjadi cerita turun-temurun di kalangan warga sekitar.
Wisata Religi yang Selalu Hidup
Kini, Masjid Raya Cipaganti menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit di Bandung. Tak hanya wisatawan lokal, banyak pengunjung dari Malaysia dan Belanda datang untuk melihat langsung keindahan dan sejarah masjid ini — apalagi arsiteknya berasal dari negeri kincir angin.
Kompleks masjid kini juga dilengkapi dengan TK Alquran, sekretariat Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), serta kantor biro perjalanan haji dan umrah. Setiap Ramadan, suasana masjid semakin semarak dengan kegiatan tarawih berjamaah, tadarus, buka bersama, hingga bazar buku dan pelatihan pemulasaraan jenazah.
Menjelang Idulfitri, ribuan warga memenuhi halaman masjid untuk melaksanakan salat Id dan menunaikan zakat fitrah, menjadikan tempat ini pusat aktivitas keagamaan yang hidup hingga kini.
Jika kamu ingin menjelajahi Bandung dengan cara yang lebih bermakna, sempatkan mampir ke Masjid Cipaganti. Di sinilah kamu bisa merasakan ketenangan spiritual sekaligus menyelami sejarah panjang kota kembang yang tak lekang oleh waktu.
Masjid Cipaganti bukan sekadar bangunan tua, tapi simbol keharmonisan lintas zaman — tempat di mana keindahan, sejarah, dan spiritualitas berpadu dalam satu bingkai. Sebuah warisan Bandung yang patut dijaga, dikenang, dan dikunjungi.

