Viaduct Bandung: Jembatan Besi yang Menyambung Sejarah dari Kolonial hingga Kota Modern

Jabar Tourism
0

Jembatan Viaduct Bandung (sumber : pinterest)

Di tengah riuhnya denyut Kota Bandung yang terus berlari menuju modernitas, berdirilah sebuah saksi bisu yang tak lekang oleh waktu — Viaduct Bandung. Lebih dari sekadar jembatan rel kereta api, bangunan megah ini adalah penghubung antara masa kolonial Belanda dan wajah Bandung masa kini. Di bawahnya, gemericik Sungai Cikapundung berpadu dengan deru roda besi yang melintas di atasnya, menghadirkan pemandangan yang seolah mempertemukan dua zaman dalam satu frame sejarah.


Menelusuri jejaknya berarti membuka lembaran panjang perjalanan kota. Di akhir abad ke-19, ketika uap lokomotif masih memenuhi langit Priangan, viaduct pertama dibangun di kawasan Pasir Kalikiweg sekitar tahun 1890-an. Deretan tiang beton berdiri gagah, tersusun rapat bak pasukan yang menjaga perlintasan penting bagi kereta yang menuju dan meninggalkan Bandung. Istilah “viaduct” sendiri berasal dari bahasa Latin — via berarti jalan, dan ductus berarti saluran — menggambarkan perannya sebagai jalur yang “mengalirkan” kendaraan besi menuju arah baru di tanah Priangan.


Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1939, viaduct kedua berdiri di kawasan Kebon Jukut. Jembatan ini menghubungkan Jalan Parapatan Pompa (sekarang Jalan Suniaraja) dengan Jalan Braga, yang saat itu masih berakhir di Gang Effendi. Pembangunan ini membuka jalur baru yang menembus kawasan Banceuy hingga Jalan Naripan, menciptakan tata ruang kota yang revolusioner di zamannya. Dari sinilah wajah Bandung modern mulai terbentuk, dengan viaduct sebagai urat nadi transportasinya.


Kini, dua viaduct utama masih berdiri tegak — satu di sisi barat Stasiun Bandung di Jalan Pasirkaliki, dan satu lagi di sisi timur di Jalan Viaduct Kebon Jukut. Yang terakhir kerap menjadi titik favorit wisatawan dan fotografer. Selain karena kereta yang melintas hampir setiap jam, lokasi ini juga strategis, dikelilingi berbagai ikon sejarah seperti Patung Laswi, Patung Tentara Pelajar, monumen lokomotif tua, hingga gedung kantor lama PT Kereta Api Indonesia. Dari atas jembatan, pemandangan rel baja yang melayang di atas jalan raya dan aliran sungai menghadirkan kontras visual antara masa lalu dan masa kini. Tak jauh dari sana, berdiri Gedung Indonesia Menggugat (GIM) — simbol perjuangan kemerdekaan yang memperkaya nuansa historis kawasan ini.


Jembatan Viaduct Bandung Dahulu (sumber : pinterest)

Namun, keindahan Viaduct Bandung tak hanya terletak pada struktur dan sejarahnya. Ia menyimpan filosofi yang lebih dalam: tentang keteguhan menghadapi perubahan zaman. Selama lebih dari seabad, jembatan ini tetap menjadi urat nadi transportasi kota dan saksi bisu dinamika Bandung yang tak pernah berhenti bergerak.


Bagi sebagian orang, Viaduct Bandung adalah spot foto yang “Instagramable” di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan — tempat di mana kereta, jalan raya, dan sungai berpadu dalam satu pemandangan ikonik. Namun bagi para pencinta sejarah, jembatan ini adalah artefak hidup yang membuktikan kehebatan arsitektur kolonial dan daya tahan infrastruktur masa lalu.


Dan setiap kali kereta melintas di atasnya dengan gemuruh yang menggema, seolah ada pesan dari masa silam yang ikut bergetar di udara: Bandung tidak pernah berhenti bergerak, ia hanya berganti arah.


Kunjungi Viaduct Bandung — sebelum kilau modern menenggelamkan kisah besi tua yang masih setia menjaga denyut sejarah kota ini.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)