![]() |
| Masjid Agung Buahbatu (sumber : gmaps/MABB) |
Di masa perjuangan, masjid bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat berkumpul, tempat musyawarah, ruang penguatan spiritual, bahkan pos konsolidasi perjuangan rakyat. Di tengah arus informasi terbatas dan situasi politik yang tidak menentu, masjid hadir sebagai ruang pengikat masyarakat. Menariknya, beberapa masjid bersejarah itu masih berdiri tegak hingga hari ini, bertahan di antara pesatnya pertumbuhan kota. Salah satunya adalah Masjid Agung Buahbatu—sebuah bangunan tua yang menyimpan kisah panjang perjalanan Bandung Selatan.
Berlokasi tepat di depan Pasar Kordon, Masjid Agung Buahbatu yang kini tampak megah di Jalan Margacinta, Kecamatan Buahbatu, merupakan salah satu ikon religi sekaligus saksi sejarah terpenting di wilayah selatan Kota Bandung. Usianya mendekati satu abad, menjadikannya sebagai masjid tertua di kawasan tersebut.
Prasasti yang Menguak Jejak Sejarah
Keberadaan masjid ini sebagai yang tertua ditegaskan melalui sebuah prasasti batu marmer berwarna putih keabu-abuan yang terpasang dekat pintu utama. Prasasti itu mencatat detail pembangunan masjid menggunakan ejaan lama. Di sana tertulis bahwa Masjid Agung Buahbatu—dulu bernama Masjid Kaoem Boeahbatoe—dibangun pada 17 Ramadan 1357 H, bertepatan dengan 10 November 1938.
Prasasti itu menyebutkan nama-nama tokoh penting yang terlibat dalam proses pembangunan. Raden AA Wiranatakusumah V, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung, meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Para pejabat lain turut hadir menyaksikan momen bersejarah tersebut.
Nama lain yang tercantum adalah Raden Wiriadiputra, Wedana Ujungberung pada masa itu. Ia ditunjuk sebagai pelindung kepanitiaan pembangunan atau beschermheer, sebagaimana istilah yang ditulis dalam prasasti. Sementara arsitektur masjid ditangani oleh N. Goedbloed Bouwkundige. Setelah melalui hampir satu tahun pengerjaan, masjid ini akhirnya diresmikan pada 9 Juli 1939.
Dari Atap Sirap ke Kubah Bulat: Jejak Renovasi Panjang
Seiring berjalannya waktu, Masjid Agung Buahbatu mengalami berbagai renovasi. Catatan yang tertera di bagian kanan masjid menyebutkan renovasi besar dilakukan pada 1988 saat HD Cherman E menjabat Bupati Bandung.
Penelitian berjudul “Masjid Agung Buahbatu: Sejarah dan Aktivitas Keagamaan Tahun 1988–2019” yang disusun oleh Rezky Rojabi dari UIN Sunan Gunung Djati mencatat bahwa renovasi terjadi beberapa kali: pada 1988, kemudian pada rentang 1992–2000.
Pada 1988, struktur dalam masjid mengalami perubahan signifikan. Selanjutnya, antara 1992 hingga 2000, dua kali renovasi dilakukan, termasuk mengganti atap sirap kayu menjadi genting serta mulai menerapkan kubah bulat berbahan seng atau aluminium. Desain kubah ini mirip dengan kubah Masjid Besar Banjaran tempo dulu.
Renovasi terbesar dilakukan pada periode 2000–2010. Seluruh bangunan asli dihancurkan dan dibangun ulang. Hal ini dilakukan karena banjir kerap melanda masjid ketika hujan deras melanda kawasan Buahbatu. Air meluap hingga ke dalam bangunan, sehingga diperlukan struktur yang lebih tinggi dan kokoh. Hasilnya, lahirlah bangunan masjid yang lebih modern, luas, dan nyaman seperti yang dapat dilihat saat ini.
Ruang Ibadah yang Tak Pernah Sepi Aktivitas
Masjid Agung Buahbatu bukan hanya bangunan tua, tetapi juga pusat aktivitas keagamaan yang hidup hingga sekarang. Berbagai kegiatan rutin berlangsung setiap hari, mulai dari pengajian, kajian keagamaan, hingga agenda besar seperti peringatan hari-hari besar Islam (PHBI).
Suhara Efendi, mantan pengurus DKM Masjid Agung Buahbatu, menegaskan bahwa masjid ini adalah salah satu peninggalan penting karena telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka. Ia menjadi saksi perubahan zaman sekaligus tempat masyarakat tumbuh bersama dalam aktivitas keagamaan dan sosial.

