Mengenal Opak Linggar: Camilan Legendaris dari Bandung Timur yang Tetap Bertahan dengan Cara Tradisional

Jabar Tourism
0

Opak Linggar khas Rancaekek Bandung (sumber: gmaps/Didin Hernanto)

Jika Anda pernah melintasi wilayah Bandung Timur, mungkin Anda akan menemukan sebuah camilan sederhana yang aromanya langsung menggoda dari kejauhan. Namanya Opak Linggar—keripik berbahan dasar tepung beras yang tampilannya sekilas terlihat sederhana, namun menyimpan cita rasa yang sulit dilupakan. Dengan warna kecoklatan eksotis, bentuknya bundar dengan permukaan bergelombang, dan bercak hitam panggangan yang khas, opak ini seolah membawa kita kembali pada suasana desa yang akrab dan hangat.


Opak Linggar tidak hanya sekadar camilan. Ia adalah bagian dari perjalanan kuliner masyarakat Desa Linggar, sebuah daerah kecil di Bandung Timur yang sejak puluhan tahun lalu menjadi sentra pembuatan opak. Di sini, tradisi membuat opak bukan hanya diwariskan, tetapi juga dijaga seperti pusaka keluarga. Tak heran jika rasa dan teksturnya tetap konsisten hingga kini.


Tiga Varian Rasa, Satu Cita Rasa Khas Linggar

Meski tampil sederhana, Opak Linggar punya tiga karakter rasa berbeda.


Ada versi asin yang gurihnya bikin nagih, versi manis yang cocok jadi teman teh hangat, serta varian jetruk yang lebih menonjolkan aroma dan rasa kelapa parut. Ketiga varian ini menawarkan pengalaman yang berbeda, namun tetap menyimpan identitas kuat yang hanya dimiliki Opak Linggar.


Seorang pengrajin opak senior di Linggar, Uking (59), bercerita bahwa kelezatan opak buatannya telah dikenal luas karena rasa gurihnya yang lebih “ngepros” dibanding opak dari daerah lain. “Rahasia kami ada pada resep turun-temurun dari tahun 70-an. Campuran dua jenis tepung beras berkualitas membuat rasanya tetap sama sejak dulu,” ujarnya sambil tersenyum bangga.


Harga Terjangkau, Pilihan Kemasan Lengkap

Untuk menikmati Opak Linggar, Anda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Satu bungkus berisi 25 keping opak dibanderol sekitar Rp12.500 saja. Bagi yang ingin membeli dalam jumlah besar—biasanya untuk acara seperti pernikahan atau untuk dijual kembali—tersedia pula kemasan kaleng. Satu kaleng yang memuat sekitar 170 opak dihargai Rp120.000. Menurut Uking, pembeli borongan ini datang dari berbagai daerah, bahkan banyak diantaranya yang rutin memesan.


Tetap Bertahan dengan Cara Produksi Tradisional

Meski zaman sudah serba cepat, proses pembuatan Opak Linggar tetap setia pada metode lama. Uking menjelaskan bahwa ia dan para pengrajin lainnya masih menggunakan lesung batu untuk menumbuk adonan. Mereka pernah mencoba beralih ke mesin, tetapi hasilnya tidak memuaskan—opak tidak mengembang sebagaimana mestinya dan rasanya berubah.


Untuk proses pemanggangan, mereka juga tetap memanfaatkan hawu tradisional dengan bahan bakar arang. Cara ini bukan hanya menjaga aroma yang khas, tetapi juga mempertahankan cita rasa orisinil yang menjadi identitas Opak Linggar sejak puluhan tahun lalu.


Desa Linggar, Satu-satunya Sentra Opak di Bandung Timur

Tak banyak yang tahu bahwa Desa Linggar merupakan satu-satunya pusat pembuatan opak di wilayah Bandung Timur. Hal inilah yang membuat nama Opak Linggar begitu dikenal bahkan hingga ke luar kota. Banyak pedagang yang sengaja datang ke desa ini untuk membeli opak dalam jumlah besar sebelum mereka memasarkannya kembali ke daerah lain.


Seperti banyak usaha kecil lainnya, pandemi Covid-19 juga meninggalkan jejak pahit bagi pengrajin Opak Linggar. Penjualan menurun drastis karena banyak pembeli enggan keluar rumah. Produksi pun tidak lagi dilakukan setiap hari, karena jumlah pemesanan ikut menurun.


“Sekarang sudah agak sepi. Orang-orang mungkin masih takut, jadi jarang datang. Kami juga tidak produksi setiap hari, menyesuaikan pesanan saja,” tutur Uking, mengakhiri pembicaraan dengan nada pasrah.


Opak Linggar adalah sebuah kisah tentang ketekunan, warisan budaya, dan rasa yang tidak lekang oleh waktu. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan dedikasi para pengrajin yang menjaga autentisitas rasa sejak puluhan tahun lalu. Dengan tetap mempertahankan metode tradisional, Opak Linggar bukan hanya camilan—tetapi juga simbol sejarah kuliner Bandung Timur.


Jika suatu hari Anda berkunjung ke Bandung, sempatkanlah mampir ke Desa Linggar. Siapa tahu, dari sepotong opak sederhana, Anda bisa merasakan kehangatan tradisi yang tetap hidup hingga hari ini.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)