![]() |
| Ritual Pesta Dadung dari Kuningan (Disparbud Jabar) |
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memiliki kekayaan tradisi budaya yang berakar kuat pada kehidupan agraris masyarakat Sunda. Salah satu yang masih lestari hingga kini adalah Pesta Dadung atau yang dikenal juga dengan sebutan Ombyok Dadung. Tradisi adat ini rutin digelar setiap tiga tahun sekali di Desa Legokherang, Kecamatan Subang, dan menjadi simbol rasa syukur masyarakat terhadap limpahan hasil pertanian dan peternakan.
Jejak sejarah Pesta Dadung diyakini telah ada sejak abad ke-18. Hingga saat ini, upacara tersebut tetap dijaga dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Di tengah perkembangan zaman, Pesta Dadung tetap bertahan sebagai ruang refleksi sekaligus pengingat pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam.
Secara makna, Pesta Dadung merupakan wujud doa bersama agar hasil panen, sawah, ladang, dan ternak warga terhindar dari gangguan hama maupun risiko gagal panen. Tradisi ini juga menjadi harapan kolektif masyarakat agar kehidupan ke depan dipenuhi keberkahan dan kesejahteraan. Tidak heran jika ritual ini selalu dinanti, bahkan oleh warga Legokherang yang merantau ke luar daerah dan rela pulang demi menyaksikannya.
Pesta Dadung juga kerap disebut sebagai Pesta Budak Angon, merujuk pada peran penting para penggembala dalam kehidupan masyarakat agraris. Dalam tradisi ini, para budak angon didoakan agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kekuatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari mereka. Peran mereka dianggap vital karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan ternak, yang menjadi salah satu penopang ekonomi desa.
Rangkaian upacara Pesta Dadung dimulai dengan pengumpulan dadung, yaitu tali tambang yang biasa digunakan untuk mengikat hewan ternak. Dadung ini dipandang memiliki nilai simbolik dan sakral karena menjadi bagian dari aktivitas pertanian dan peternakan masyarakat. Setelah dikumpulkan, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan mantra khusus oleh sesepuh adat, diiringi alunan gamelan yang menambah suasana khidmat.
Tak hanya ritual spiritual, Pesta Dadung juga menghadirkan unsur kesenian tradisional. Tarian ronggeng menjadi bagian dari prosesi, disusul pembacaan mantra-mantra adat yang sarat makna filosofis. Puncaknya, dadung beserta simbol hama tanaman diarak menuju Bukit Situ Hyang untuk kemudian dibuang. Prosesi ini melambangkan pembersihan desa serta penghapusan segala gangguan yang dapat merusak hasil bumi.
Lebih dari sekadar ritual membuang hama, Pesta Dadung mencerminkan warisan budaya agraris Sunda yang menjunjung tinggi keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari keseimbangan semesta yang harus dijaga bersama.
Keunikan Pesta Dadung semakin terasa dengan hadirnya berbagai kesenian khas, seperti tari Jalak Pengkor dan musik tradisional kangsréng. Unsur-unsur ini tidak hanya memperkaya rangkaian acara, tetapi juga menjadi sarana pelestarian seni tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Dalam perkembangannya, Pesta Dadung kini menjadi bagian dari rangkaian besar upacara adat Seren Taun yang dipusatkan di Cigugur, Kuningan. Tradisi ini menjadi titik temu antara masyarakat, pemerintah desa, dan para tokoh adat dalam upaya menjaga dan merawat budaya lokal.
Melalui Pesta Dadung, masyarakat Sunda tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga meneguhkan identitas budaya mereka. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai leluhur masih relevan dan terus hidup di tengah masyarakat modern, sekaligus menjadi daya tarik budaya yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi mendatang.

