![]() |
| Ngangkring Sukadana Satu dari Empat Budaya Ciamis Ditetapkan sebagai WBTB Jawa Barat 2026 (Facebook/Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis) |
Kalau kamu mencari destinasi wisata yang bukan cuma indah secara alam, tapi juga kaya cerita dan tradisi, Kabupaten Ciamis layak masuk bucket list. Daerah di timur Jawa Barat ini baru saja menorehkan kabar baik di dunia budaya. Pada 2026, empat tradisi khas Ciamis resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat. Status ini makin menegaskan Ciamis sebagai tujuan wisata budaya yang autentik dan penuh makna.
Empat budaya tersebut adalah Ngangkring Sukadana dan Wayang Ruwat Tambaksari, yang masuk kategori tradisi serta ekspresi lisan. Dua lainnya, Upacara Ritual Mupunjung Surandil Rancah dan Tradisi Nyepuh Ciomas Panjalu, termasuk dalam adat istiadat, ritus, dan perayaan. Keempatnya masih hidup dan dijalankan oleh masyarakat, bukan sekadar cerita masa lalu.
Bagi wisatawan, tradisi-tradisi ini menawarkan pengalaman unik. Ngangkring Sukadana, misalnya, bukan hanya soal berkumpul, tetapi juga ruang interaksi sosial yang sarat nilai kebersamaan. Sementara Wayang Ruwat Tambaksari menghadirkan seni pertunjukan tradisional dengan nuansa spiritual dan filosofi kehidupan yang kuat.
Tak kalah menarik, Ritual Mupunjung Surandil Rancah dan Tradisi Nyepuh Ciomas Panjalu sering digelar di lokasi-lokasi yang masih asri. Wisatawan bukan hanya bisa menyaksikan prosesi adat, tetapi juga menikmati suasana pedesaan, situs sejarah, hingga lanskap alam yang menenangkan. Inilah daya tarik wisata budaya Ciamis: tradisi dan alam berjalan beriringan.
Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana, menyebutkan bahwa penetapan WBTB tingkat provinsi ini menjadi langkah awal menuju pengakuan nasional. Pemerintah daerah juga aktif mengembangkan potensi budaya dengan pendekatan modern, salah satunya melalui digitalisasi titik koordinat situs budaya agar mudah diakses dan dikenal wisatawan.
Menariknya lagi, pelestarian budaya di Ciamis juga berdampak langsung pada pariwisata dan ekonomi lokal. Saat upacara adat digelar, pelaku UMKM ikut bergerak—mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga produk lokal lainnya. Wisata budaya pun menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.
Sebelum empat tradisi ini ditetapkan, Ciamis sudah memiliki 11 Warisan Budaya Tak Benda, seperti Tradisi Nyangku Panjalu, Galendo, Peuyeum Koroto, hingga Kopi Godog. Artinya, berkunjung ke Ciamis bukan hanya soal jalan-jalan, tapi juga menyelami kekayaan budaya yang terus dijaga.
Bagi pencinta wisata berbasis budaya dan kearifan lokal, Ciamis menawarkan pengalaman yang otentik, edukatif, sekaligus berkesan. Sebuah destinasi yang mengajak kita pulang dengan cerita, bukan sekadar foto.

