| Kue Tapel Cirebon, Kuliner Jadul yang Legendaris dan Wajib Diburu Wisatawan (gmaps/Rossana) |
Berwisata ke Cirebon tak hanya soal menjelajahi keraton, batik megamendung, atau panorama pesisir utara Jawa. Kota udang ini juga menyimpan kekayaan rasa yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. Salah satu kuliner jadul yang hingga kini tetap eksis dan diburu wisatawan adalah Kue Tapel Cirebon.
Di tengah menjamurnya jajanan modern, Kue Tapel hadir sebagai simbol ketahanan kuliner tradisional. Tidak banyak yang menjualnya, namun justru di situlah daya tariknya. Kue ini dikenal sebagai jajanan khas Cirebon yang autentik, diproduksi secara tradisional, dan diwariskan lintas generasi.
Sejarah Kue Tapel, Warisan Tiga Generasi
Kue Tapel bukan sekadar camilan manis biasa. Di balik rasanya yang legit, tersimpan cerita panjang tentang warisan keluarga. Usaha ini bermula dari seorang perempuan bernama Rokila yang merintis pembuatan Kue Tapel secara rumahan. Dari dapur sederhana, ia memperkenalkan jajanan ini kepada warga sekitar.
Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh putrinya, Ratini, yang mulai mengembangkan usaha dengan membuka kios di kawasan Jalan Pagongan, Cirebon. Seiring waktu, estafet usaha berpindah ke generasi ketiga, yakni Lena, yang hingga kini masih setia menjaga resep dan cara pembuatan asli.
Keberlanjutan inilah yang membuat Kue Tapel tetap otentik. Tidak ada perubahan signifikan dalam resep maupun teknik memasak. Semua tetap mempertahankan cita rasa khas seperti dulu.
Proses Pembuatan yang Masih Tradisional
Salah satu keunikan Kue Tapel Cirebon terletak pada cara memasaknya. Prosesnya sekilas mirip dengan pembuatan kerak telor, di mana adonan dimasukkan bertahap ke dalam wajan dan dimasak hingga matang sempurna. Bahan dasarnya terdiri dari: Tepung beras, Parutan kelapa, Ketan, Pisang, dan Gula merah.
Semua bahan tersebut dipadukan dan dimasak dengan api sedang. Namun yang membuatnya istimewa, proses pembakaran masih menggunakan kayu bakar, bukan kompor gas. Tanpa minyak goreng, adonan dimasak langsung di atas wajan hingga menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru dengan teknik modern.
Untuk meratakan adonan, alat yang digunakan pun sangat tradisional: daun pandan dan batok kelapa. Teknik ini tidak hanya mempertahankan keaslian rasa, tetapi juga menghadirkan sensasi nostalgia yang kuat.
Aroma asap kayu yang menyatu dengan manisnya gula merah dan lembutnya pisang menjadi kombinasi yang membuat siapa pun ingin kembali mencicipinya.
Cita Rasa Manis Legit yang Khas
Kue Tapel dikenal dengan rasa manis yang seimbang dan tekstur yang unik. Dalam satu hari produksi, pembuatnya bisa menghabiskan sekitar dua kilogram campuran tepung beras dan kelapa, sepuluh batang gula merah, serta lima sisir pisang.
Ada dua jenis pisang yang digunakan, yaitu pisang saba dan pisang raja. Keduanya dipilih karena memiliki tekstur lembut dan rasa manis alami yang kuat. Perpaduan pisang dengan gula merah menciptakan rasa legit yang khas, tidak berlebihan, dan tetap terasa ringan di lidah.
Bagian luarnya sedikit kering dengan aroma bakaran, sementara bagian dalamnya lembut dan manis. Sensasi inilah yang membuat Kue Tapel berbeda dari jajanan pasar lainnya.
Kue Tapel dan Popularitasnya di Luar Cirebon
Meski merupakan kuliner khas Cirebon, jajanan serupa ternyata bisa ditemui di daerah lain dengan nama berbeda. Di Indramayu, misalnya, dikenal dengan sebutan Kue Lindri. Sementara di Tegal, ada versi yang disebut mengadopsi konsep Kue Tapel dari Cirebon.
Namun, bagi para penikmat kuliner tradisional, mencicipi langsung Kue Tapel di kota asalnya tentu memberikan pengalaman berbeda. Selain rasa yang lebih autentik, wisatawan juga bisa menyaksikan langsung proses pembuatannya yang masih menggunakan kayu bakar.
Tak heran jika wisatawan dari luar kota seperti Jakarta dan Bandung kerap memburunya sebagai oleh-oleh. Banyak yang penasaran setelah melihat ulasan di media atau media sosial yang menyoroti proses memasaknya yang unik dan tradisional.
Kenapa Kue Tapel Wajib Masuk Daftar Wisata Kuliner Cirebon?
Jika Anda sedang menyusun itinerary wisata ke Cirebon, Kue Tapel layak masuk daftar kuliner yang wajib dicoba. Berikut alasannya:
- Autentik dan legendaris – Resep turun-temurun hingga generasi ketiga.
- Proses tradisional – Masih menggunakan kayu bakar dan alat sederhana.
- Rasa khas dan berbeda – Kombinasi gula merah, pisang, dan aroma bakaran.
- Jarang ditemui – Tidak dijual di sembarang tempat, sehingga terasa eksklusif.
- Cocok sebagai oleh-oleh khas Cirebon – Unik dan memiliki nilai cerita.
Di tengah modernisasi kuliner, Kue Tapel membuktikan bahwa cita rasa tradisional tetap punya tempat istimewa. Ia bukan hanya tentang rasa manis, tetapi juga tentang sejarah, ketekunan, dan komitmen menjaga warisan keluarga.
Wisata kuliner Cirebon memang tak pernah kehabisan cerita. Dari empal gentong hingga nasi jamblang, setiap sajian memiliki identitas kuat. Namun, jika ingin merasakan sisi lain dari kekayaan rasa Kota Udang, Kue Tapel adalah jawabannya.
Kuliner jadul ini menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar makan. Ia mengajak kita menyelami tradisi, merasakan proses, dan menikmati cita rasa yang tetap setia pada akar budayanya.
Jadi, saat berkunjung ke Cirebon, jangan lupa sisihkan waktu untuk berburu Kue Tapel. Siapa tahu, dari satu gigitan kecil, Anda justru menemukan kenangan rasa yang tak terlupakan.
