![]() |
| Seni Durcing Cimahi (youtube/Karang Taruna Ciawitali 10) |
Tak banyak yang tahu, di balik wajah modern Kota Cimahi, tersimpan sebuah kesenian tradisional yang masih setia hidup dan dipentaskan hingga kini. Namanya Seni Durcing atau Dzuhur Cicing, kesenian buhun khas Kampung Ciawitali yang menjadi saksi perjalanan panjang budaya masyarakat Sunda dari masa kolonial hingga era modern.
Bagi wisatawan yang tertarik pada wisata budaya, menyaksikan Seni Durcing bukan sekadar menikmati pertunjukan. Ia adalah pengalaman menyelami jejak sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Cimahi.
Jejak Sejarah Seni Durcing dari Masa Kolonial
Seni Durcing diyakini telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada masa itu, kesenian ini kerap hadir dalam berbagai peristiwa penting masyarakat, seperti hajatan, khitanan, hingga syukuran panen. Pertunjukan Durcing menjadi ruang berkumpul warga, tempat berbagi doa, harapan, sekaligus hiburan rakyat.
Nama Dzuhur Cicing sendiri memiliki makna filosofis yang kuat. Dalam pemaknaan lokal, istilah ini menggambarkan ketenangan, kekhusyukan, dan kedekatan manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai inilah yang membuat Seni Durcing tumbuh bukan sebagai tontonan semata, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat Ciawitali.
Pertunjukan Penuh Energi dan Unsur Tradisi
Keunikan Seni Durcing terletak pada bentuk pertunjukannya yang kaya unsur. Dalam satu pementasan, penonton akan disuguhkan perpaduan berbagai kesenian tradisional, mulai dari Lengser yang tampil sebagai pembuka dengan gaya jenaka, pencak silat yang memperlihatkan ketangkasan, hingga kuda lumping dan barongsai yang memikat secara visual.
Tak jarang, beberapa penari mengalami kondisi trance atau kesurupan. Unsur magis ini menjadi ciri khas Seni Durcing dan memperlihatkan kuatnya akar spiritual dalam kesenian buhun Sunda. Meski begitu, seluruh proses pertunjukan tetap berada dalam pengawasan pawang dan disajikan sebagai bagian dari tradisi, bukan sekadar atraksi sensasional.
Dari Ritual Magis Menuju Kemasan Artistik
Seiring perubahan zaman, Seni Durcing pun mengalami perkembangan. Pada era 1980-an, khususnya sekitar tahun 1981, pertunjukan Durcing masih sangat kental dengan nuansa ritual dan magis. Namun kini, kesenian ini telah mengalami proses pembaruan atau reborn.
Tanpa menghilangkan nilai filosofisnya, Seni Durcing dikemas lebih artistik dan komunikatif. Tata busana diperindah, alur pertunjukan dibuat lebih rapi, dan durasi disesuaikan agar nyaman dinikmati oleh penonton dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda dan wisatawan.
Lingkung Seni Pusaka Paksi, Penjaga Tradisi
Eksistensi Seni Durcing hingga saat ini tidak lepas dari peran Lingkung Seni Pusaka Paksi, komunitas seni yang secara konsisten melakukan pelestarian dan regenerasi. Melalui latihan rutin, pementasan budaya, hingga keikutsertaan dalam berbagai festival seni, mereka menjaga agar Seni Durcing tetap hidup dan dikenal luas.
Bagi wisatawan, kehadiran komunitas ini menjadi jembatan untuk mengenal Seni Durcing lebih dekat. Tak hanya menonton, pengunjung juga bisa belajar tentang filosofi, sejarah, hingga proses latihan para penari.
Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat
Nilai penting Seni Durcing akhirnya mendapat pengakuan resmi ketika kesenian ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Jawa Barat pada tahun 2026. Penetapan ini menegaskan bahwa Seni Durcing bukan sekadar milik Cimahi, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Jawa Barat yang patut dijaga bersama.
Bagi pencinta wisata budaya, Seni Durcing menawarkan pengalaman berbeda: menyaksikan tradisi lama yang tetap relevan di tengah kota. Ia menjadi bukti bahwa budaya tidak pernah benar-benar usang, selama masih ada yang merawat dan menceritakannya kembali.
Menyaksikan Seni Durcing sebagai Wisata Budaya Cimahi
Jika berkunjung ke Cimahi, luangkan waktu untuk mencari jadwal pementasan Seni Durcing, terutama saat acara budaya atau hajatan warga. Di sanalah, wisatawan bisa merasakan langsung denyut budaya lokal yang autentik—sebuah perjalanan singkat ke masa lalu, tanpa harus meninggalkan masa kini.
Seni Durcing bukan hanya tentang tari dan musik. Ia adalah cerita tentang identitas, kebersamaan, dan ketahanan budaya yang terus menari mengikuti zaman.

.jpeg)