Mengenal Sirup Tjampolay, Kuliner Tradisional Cirebon yang Bertahan Sejak 1936

Jabar Tourism
0

Sirup Tjampolay khas Cirebon (pinterest)

Berlibur ke Cirebon rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Selain empal gentong dan nasi jamblang, ada satu minuman legendaris yang tak boleh dilewatkan, yaitu Sirup Tjampolay. Sirup tradisional ini telah menjadi ikon kuliner Cirebon sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini masih setia menemani wisatawan maupun warga lokal.


Sirup Tjampolay bukan sekadar minuman penyegar. Di balik rasanya yang manis dan khas, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, warisan keluarga, dan cita rasa autentik yang terus dijaga lintas generasi. Tak heran jika produk ini sering diburu sebagai oleh-oleh khas Cirebon.


Asal-Usul Sirup Tjampolay, Terinspirasi dari Sebuah Mimpi

Sirup Tjampolay pertama kali diproduksi pada 11 Juli 1936 oleh Tan Tjek Tjiu, seorang warga Cirebon keturunan Tionghoa. Kisah kelahirannya terbilang unik. Konon, ide pembuatan sirup ini berawal dari mimpi, di mana sang pendiri bermimpi sedang menikmati minuman manis dengan rasa yang begitu membekas.


Berbekal mimpi tersebut, Tan Tjek Tjiu melakukan berbagai percobaan hingga akhirnya menemukan bahan yang tepat, yakni buah Tjampolay. Buah ini dulunya tumbuh di kawasan pegunungan Jawa Barat dan dikenal masyarakat Cirebon dengan sebutan Sawo Walanda atau Sawo Belanda.


Dari sinilah lahir sirup dengan karakter rasa yang berbeda dari sirup pada umumnya—lebih pekat, segar, dan memiliki aroma khas.


Cita Rasa Autentik dari Bahan Berkualitas

Salah satu keunggulan Sirup Tjampolay terletak pada penggunaan gula murni, bukan pemanis buatan. Hal ini membuat rasanya terasa lebih natural dan tidak meninggalkan rasa getir di tenggorokan. Ciri khas lainnya, sirup ini bisa mengkristal beberapa bulan setelah dibuka, tanda bahwa tidak banyak bahan tambahan kimia di dalamnya.


Pada awal produksinya, Sirup Tjampolay hanya hadir dalam tiga varian rasa, yaitu rossen, asam jeruk, dan nanas. Namun seiring perkembangan zaman, varian rasanya semakin beragam dan mengikuti selera pasar.


Varian Favorit yang Jadi Incaran Wisatawan

Memasuki era 1990-an, Sirup Tjampolay mengalami perkembangan pesat di bawah pengelolaan generasi penerus keluarga. Jumlah varian rasa pun bertambah menjadi sembilan pilihan, di antaranya pisang susu, melon, leci, mangga gedong, jeruk nipis, hingga kopi moka.


Dari semua varian tersebut, pisang susu menjadi rasa paling favorit dan banyak diburu wisatawan. Rasanya lembut, manis, dan mudah dipadukan dengan es batu—sangat cocok dinikmati saat cuaca Cirebon sedang terik.


Bagi masyarakat lokal, Sirup Tjampolay identik dengan momen kebersamaan, terutama saat bulan Ramadhan. Namun kini, sirup legendaris ini juga menjadi bagian dari pengalaman wisata kuliner Cirebon.


Banyak wisatawan sengaja membeli Sirup Tjampolay sebagai buah tangan karena praktis, tahan lama, dan memiliki nilai historis. Rasanya yang khas membuatnya berbeda dari sirup kemasan lain yang beredar di pasaran.


Mudah Ditemukan dan Cocok untuk Oleh-Oleh

Produksi Sirup Tjampolay saat ini berlokasi di kawasan Perumnas Kota Cirebon, dengan kapasitas produksi mencapai ribuan botol per hari. Distribusinya pun sudah menjangkau berbagai kota besar di Indonesia, bahkan tersedia di gerai ritel modern.


Meski begitu, membeli langsung di Cirebon tetap memberikan sensasi tersendiri. Sirup Tjampolay bisa ditemukan di pusat oleh-oleh, toko tradisional, hingga beberapa supermarket di Kota Udang.


Warisan Kuliner yang Tetap Bertahan

Di tengah gempuran minuman kekinian, Sirup Tjampolay membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa. Dari sebuah mimpi sederhana hingga menjadi ikon kuliner Cirebon, sirup ini terus mempertahankan cita rasa dan identitasnya.


Jika kamu berencana menjelajahi Cirebon, jangan lupa memasukkan Sirup Tjampolay ke dalam daftar kuliner wajib coba. Segelas sirup dingin ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menghadirkan cerita panjang tentang sejarah dan budaya Cirebon dalam setiap tegukann

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)