Menyelami Sejarah Gedung BAT Cirebon, Sentuhan Eropa di Jantung Kota Udang

Jabar Tourism
0

Gedung BAT Cirebon (sumber: google maps/Jeanne Sanjaya)

Jika suatu hari kamu punya waktu luang dan bingung mau ke mana, cobalah melipir ke Kota Tua Cirebon. Di sana, setiap sudutnya seakan membisikkan cerita masa lalu yang menggoda untuk ditelusuri. Salah satu titik yang wajib disambangi adalah Gedung BAT Cirebon—bangunan bergaya Eropa klasik yang berdiri megah di tengah denyut modernitas kota.


Gedung BAT, singkatan dari British American Tobacco, bukan sekadar bangunan tua biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang industri rokok di Indonesia, sekaligus salah satu ikon arsitektur warisan kolonial yang masih berdiri kokoh hingga kini. Lokasinya strategis, tepat di pojok perempatan Jalan Pasuketan No. 1, Kampung Kebumen, Kelurahan Lemahwungkuk, Cirebon. Tepat di seberangnya berdiri Bank Mandiri yang menjadi penanda keberadaan gedung ini bagi para pendatang.


Meskipun tak lagi digunakan sebagai tempat produksi, Gedung BAT tetap dipelihara dengan baik dan telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya oleh Pemerintah Kota Cirebon. Dengan luas lahan mencapai 1,1 hektar, kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang panjang dan memikat.


Dari Rokok ke Warisan Budaya

Gedung ini dulunya bukanlah milik BAT sejak awal. Catatan sejarah menyebutkan bahwa bangunan tersebut awalnya dimiliki oleh Indo Egyptian Cigarettes Company. Namun pada tahun 1923, perusahaan tersebut diakuisisi oleh British American Tobacco Company, sebuah perusahaan raksasa asal London, Inggris.


Setahun setelahnya, tepatnya tahun 1924, gedung ini mengalami renovasi besar-besaran. Dua arsitek kenamaan dari Belanda, FD Cuypers dan Hulswit, merombaknya menjadi bangunan bergaya art deco yang elegan—gaya yang saat itu sangat populer di Eropa. Tak hanya penampilannya yang berubah, saat itu pula dimulailah pembangunan pabrik rokok putih yang konon menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.


Namun kejayaan itu sempat terhenti ketika Perang Dunia II pecah pada 1942. Seluruh aset perusahaan disita oleh pemerintah Jepang yang saat itu menguasai Indonesia. Operasional pun terpaksa berhenti total selama beberapa tahun.


Pasca perang, tahun 1949, perusahaan kembali bangkit dengan nama baru: British American Tobacco Manufacture (Indonesia) Limited. Sayangnya, pada 1963, ketika diketahui bahwa perusahaan masih dimiliki pihak asing, pemerintah Indonesia mengambil alih sebagai bagian dari kebijakan nasionalisasi aset asing di era Orde Baru.


Situasi mulai berubah ketika pada tahun 1979, perusahaan menjual 30% sahamnya kepada masyarakat Indonesia dan berganti nama menjadi PT BAT Indonesia. Produksi rokok pun berlanjut di gedung ini hingga akhirnya pada Mei 2010, seluruh aktivitas dipindahkan ke Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu, Gedung BAT Cirebon tak lagi menjadi pabrik, tapi menjadi monumen bisu yang sarat makna.


Dari Pabrik ke Spot Favorit Milenial

Kini, Gedung BAT bukan lagi tempat berderu mesin dan aroma tembakau, melainkan lokasi favorit para pecinta sejarah, fotografer, hingga milenial yang berburu latar Instagramable. Bangunannya yang megah dan klasik menawarkan nuansa Eropa tempo dulu yang sulit ditemukan di kota lain.


Di malam hari, suasana di sekitar gedung justru makin hidup. Warung-warung dadakan bermunculan, menyulap area ini menjadi tempat nongkrong yang asyik. Lampu-lampu jalan yang temaram berpadu dengan keanggunan bangunan tua menciptakan atmosfer romantis khas kota tua.


Tak sedikit pula wisatawan dari luar kota, bahkan mancanegara, yang penasaran datang untuk menyaksikan langsung keindahan arsitektur Gedung BAT. Mereka datang bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk menyelami sejarah panjang yang tersimpan dalam tiap detail dindingnya.


Gedung BAT Cirebon memang bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah cermin dari perjalanan sejarah industri, politik, dan budaya yang membentuk wajah Cirebon hari ini. Mengunjunginya bukan hanya soal menikmati keindahan visual, tapi juga tentang menyambung benang-benang kisah dari masa silam.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)