Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung – Tradisi Unik yang Menyiram Sejarah di Majalengka

Jabar Tourism
0

Prosesi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung (sumber : facebbok/Majalengka Cenghar Cetar)

Kalau kamu berkunjung ke Majalengka, jangan cuma mampir ke spot-spot instagramable atau kuliner khasnya saja. Di kota ini, ada satu tradisi tahunan yang nggak cuma unik, tapi juga sarat makna sejarah. Namanya Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung — ritual sakral yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh keturunan Kerajaan Talaga Manggung.


Bayangin, sebuah prosesi adat yang memadukan sejarah kerajaan, nilai religi, dan kebersamaan warga dalam satu rangkaian acara. Nggak heran kalau tradisi ini sekarang mulai dilirik sebagai wisata budaya dan religi yang sayang banget dilewatkan.


Asal Usul & Waktu Pelaksanaan

Tradisi Nyiramkeun Pusaka dilaksanakan setiap hari Senin di pertengahan bulan Safar (kalender Hijriah), biasanya jatuh di antara tanggal 11 hingga 19 Safar. Pemilihan tanggal ini bukan asal-asalan, tapi mengacu pada catatan kuno “Ujar Ratu Sabda Raja” dari masa pemerintahan Raden Arya Kikis.


Selain itu, momen ini juga dipercaya bertepatan dengan masuk Islamnya Raden Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umun, yang merupakan suami Ratu Talaga ke-6. Jadi, ada unsur sejarah sekaligus religi yang melekat di dalamnya.


Serunya Prosesi Nyiramkeun Pusaka

Rangkaian acara biasanya dimulai dengan kirab pusaka — arak-arakan benda-benda bersejarah seperti arca Raden Panglurah, Ratu Simbarkancana, gong, pedang, dan artefak lainnya dari kantor kecamatan menuju Museum Talaga Manggung.


Air yang digunakan untuk “memandikan” pusaka ini juga nggak sembarangan. Diambil dari sembilan mata air keramat, seperti Gunung Bitung, Situ Sangiang, Cikiray, Wana Perih, Lemahabang, Regasari, Cicamas, Ciburuy, dan Nunuk. Airnya dibawa dengan bambu kuning, lalu disatukan dalam kendi sebelum digunakan untuk prosesi penyiraman.


Begitu semua siap, para sesepuh memulai ritual menyiram pusaka sambil memanjatkan doa. Suasana terasa khidmat, tapi sekaligus hangat, karena diakhiri dengan tahlilan dan makan bersama. Ini bukan sekadar acara adat, tapi juga ajang silaturahmi yang mempertemukan keluarga besar keturunan kerajaan dengan warga sekitar.


Lebih dari Sekadar Ritual Budaya

Prosesi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung (sumber : facebbok/Majalengka Cenghar Cetar)

Bagi masyarakat Talaga Manggung, Nyiramkeun Pusaka bukan cuma “mandi-mandiin benda bersejarah”. Ini adalah cara mereka menghormati leluhur, menjaga hubungan antar generasi, dan merawat identitas budaya yang hampir punah kalau tidak dilestarikan.


Menariknya, pemerintah daerah dan komunitas setempat sekarang mulai memoles tradisi ini jadi agenda wisata budaya. Wisatawan bisa menyaksikan langsung prosesi yang penuh simbol dan makna, sekaligus belajar sejarah Kerajaan Talaga Manggung yang dulunya berperan penting di wilayah Majalengka.


Tips Buat Kamu yang Mau Datang

Kalau kamu tertarik menyaksikan tradisi ini, pastikan datang sesuai jadwal di bulan Safar. Karena tanggalnya mengikuti kalender Hijriah, sebaiknya cek dulu info terbaru dari pemerintah desa atau pengelola Museum Talaga Manggung.


Selain kamera untuk mengabadikan momen, jangan lupa bawa rasa penasaran dan respek terhadap budaya lokal. Ingat, ini adalah prosesi sakral, jadi hargai aturan dan arahan panitia.


Kenapa Wajib Masuk Itinerary?

- Unik & Langka – Nggak semua daerah punya tradisi seperti ini.

- Kaya Makna – Ada sejarah kerajaan, nilai religi, dan kearifan lokal.

- Fotogenik – Kirab pusaka dan prosesi adatnya cocok banget buat konten.

- Interaksi Lokal – Kesempatan kenal langsung sama warga dan keturunan kerajaan.


Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung adalah bukti kalau wisata itu nggak melulu soal pemandangan alam. Tradisi ini adalah “pintu waktu” yang mengajak kita menyelami sejarah, merasakan nuansa masa lalu, dan ikut menjaga warisan budaya yang tak ternilai.


Jadi, kalau tahun depan kamu punya rencana liburan ke Majalengka, coba deh atur waktumu biar pas sama jadwal tradisi ini. Dijamin pulang bawa cerita yang lebih dari sekadar foto.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)