Situs Pasir Lulumpang Garut, Jejak Megalitikum yang Menantang Rasa Penasaran

Jabar Tourism
0

Situs Batu Lulumpang Garut (sumber: google maps/Dani Ferlani)

Jika kamu mengaku pecinta wisata sejarah, Garut punya satu destinasi yang wajib masuk daftar kunjunganmu: Situs Pasir Lulumpang. Lokasinya berada di Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, sekitar 22 kilometer dari Alun-Alun Garut. Meski tersembunyi di balik perkampungan dan kebun jati, situs ini menyimpan cerita panjang dari zaman megalitikum yang memikat sekaligus misterius.


Nama "Pasir Lulumpang" berasal dari bahasa Sunda: pasir berarti bukit, sedangkan lulumpang adalah lubang atau lekukan pada batu yang bentuknya menyerupai cobek. Di sini, pengunjung akan menemukan tujuh punden berundak—teras batu bertingkat yang tersusun rapi—dengan lubang-lubang di tengah batu yang diduga digunakan untuk ritual pemujaan leluhur pada masa lalu.


Tak hanya itu, di lereng bukitnya juga terdapat teras-teras dengan dinding dari bebatuan. Menurut cerita masyarakat setempat, teras ini dulunya menjadi tempat upacara adat untuk menghormati arwah nenek moyang atau memohon kesuburan lahan.


Sejarah Penemuan Situs Pasir Lulumpang

Meski sudah ada sejak ribuan tahun lalu, peninggalan purbakala ini sempat kurang mendapat perhatian. Baru pada tahun 1994, pemerintah Kabupaten Garut melaporkan keberadaan situs ini kepada Balai Arkeologi Bandung. Hasil penelitian menemukan bahwa di Desa Cimareme terdapat delapan bukit yang mengelilingi rawa Ranca Gabus, dan Pasir Lulumpang adalah situs dengan temuan arkeologis terbanyak.


Seiring waktu, kondisi situs ini mengalami perubahan. Jika dahulu ada tujuh batu lumpang, kini hanya tersisa tiga. Sebagian hilang atau rusak akibat faktor alam dan kurangnya perawatan.


Pada Oktober 2023, tim arkeolog kembali melakukan penelitian lebih mendalam. Mereka mengukur dan mendokumentasikan lima batu lumpang yang masih bisa diteliti, salah satunya memiliki lubang dengan diameter sekitar 27 cm. Penelitian ini diharapkan bisa membuka lebih banyak informasi tentang fungsi sebenarnya batu-batu tersebut.


Menariknya, pada awal 2025, pemerintah Desa Cimareme mulai mengangkat kembali Pasir Lulumpang sebagai destinasi wisata sejarah unggulan, lengkap dengan promosi digital dan rencana pengembangan fasilitas agar pengunjung lebih nyaman.


Pengalaman Berkunjung

Perjalanan menuju lokasi utama situs memerlukan waktu sekitar 30 menit dari jalan utama. Jalurnya berupa jalan setapak yang membelah kebun jati dan lahan warga, menghadirkan suasana pedesaan yang tenang. Sesampainya di sana, pengunjung akan disambut udara sejuk, suara alam, dan pemandangan punden berundak yang memancing imajinasi—membayangkan bagaimana masyarakat prasejarah menjalani upacara di tempat ini.


Bagi pecinta fotografi, tempat ini menawarkan banyak sudut menarik. Bentuk batu lumpang yang unik, susunan punden yang megah, hingga latar belakang pepohonan hijau menjadi komposisi alami yang memanjakan lensa kamera.


Tips Wisata ke Pasir Lulumpang

- Gunakan alas kaki yang nyaman – Jalur menuju situs cukup menanjak dan licin saat musim hujan.

- Datang pagi atau sore – Cahaya matahari lebih lembut dan suasana lebih teduh.

- Bawa bekal secukupnya – Belum banyak warung di sekitar lokasi.

- Hargai situs bersejarah – Jangan memindahkan atau merusak batu, serta hindari meninggalkan sampah.


Situs Pasir Lulumpang bukan sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga jendela masa lalu yang memperlihatkan kecerdasan dan spiritualitas masyarakat prasejarah di Garut. Dengan nilai sejarah yang tinggi dan panorama alam yang asri, tempat ini layak dikunjungi baik oleh peneliti, pelajar, maupun wisatawan yang haus akan cerita dari masa lampau.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)