![]() |
| Salah satu produk Pala Nusantara (sumber : facebook/Pala Nusantara) |
Kabut pagi masih menggantung ketika matahari malu-malu muncul di rooftop sebuah bangunan di Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Danu, pendiri Pala Nusantara, menyiapkan segelas kopi tubruk di gelas enamel kesayangannya. Di hadapannya, selembar kain tenun Sumba yang mulai pudar warnanya terhampar di samping moodboard bertuliskan ambisi besar: “Paris 2025”. Aroma kopi, rempah, dan kain katun seolah menyatu dengan tekad yang sudah menemaninya sejak belasan tahun lalu.
Perjalanan Pala dimulai pada 2008. Kala itu, tiga mahasiswa—Danu, Raka, dan Wulan—berkumpul di garasi sempit dengan modal hanya Rp3 juta, mesin jahit pinjaman sang ibu, dan tumpukan kaos polos. “Kami ingin membuat pakaian yang bisa membawa cerita Indonesia ke luar negeri,” ujar Danu mengenang. Namun badai datang lebih cepat. Banjir besar 2010 nyaris memusnahkan seluruh stok, membuat toko kecil mereka terpaksa tutup sementara.
Titik terang baru muncul enam tahun kemudian. Pada 2016, seorang buyer dari Tokyo tanpa sengaja menemukan tas anyaman Pala di sebuah pameran lokal. Dari pertemuan sederhana itu, lahirlah kolaborasi dengan para perajin tenun NTT. Setahun berselang, dunia mode terkejut ketika seorang model Prancis memamerkan tas Pala di panggung Paris Fashion Week—membuat nama brand kecil dari Bandung itu viral. Pesanan ekspor pertama sebanyak 200 tas ke Jepang pun meluncur tak lama setelahnya.
![]() |
| Produk fashion Pala Nusantara (sumber : facebook/Pala Nusantara) |
Pandemi 2020 kembali mengguncang. Namun Pala memilih adaptasi cepat: memproduksi masker berbahan tenun. Keputusan itu bukan hanya menyelamatkan bisnis, tetapi juga mempertahankan penghasilan 47 pengrajin yang bergantung pada mereka.
Kini, dari studio mungil seluas 120 meter persegi, Pala telah hadir di 12 negara. Setiap produknya disertai QR code yang mengarah ke profil pengrajinnya—menjadikan transparansi sebagai napas baru industri mode etis. Tak ada sisa material yang terbuang; potongan kecil kain disulap menjadi aksesori, memperkuat komitmen mereka terhadap prinsip zero waste. “Dulu tenunan saya hanya dipakai untuk seserahan. Sekarang, anak saya bisa kuliah karena penjualan tas yang dipamerkan di Paris,” tutur Mbok Siti, salah satu penenun asal Sumba.
Kesuksesan itu mengantar mereka membuka flagship store di Paris yang memadukan estetika modern dengan sentuhan gamelan dan lampu neon. Tetapi jalan ke depan tak selalu mulus. Pala menghadapi serbuan fast fashion dari China, regulasi karbon yang makin ketat di Uni Eropa, serta pasar generasi Z yang mudah berpaling. Meski demikian, Danu tetap teguh menolak investor besar. “Saya takut kehilangan rasa kopi tubruk yang dulu jadi pelecut semangat kami,” ujarnya.
Tahun 2025 menjadi fase baru. Pala Nusantara tak hanya menjual produk, tetapi juga menebar ilmu. Akademi Pala ditargetkan melatih 1.000 anak muda desa untuk menjadi desainer. Sementara itu, mereka menyiapkan koleksi carbon-neutral pada 2030. Di rooftop tempat semuanya sering dimulai, kain tenun usang yang dulu hanya menjadi inspirasi kini dipajang rapi dalam bingkai—mengabadikan perjalanan 20 tahun sebuah mimpi.
Pala Nusantara bukan sekadar menembus dunia. Ia membawa kembali kebanggaan ke tanah sendiri—pelan, pasti, dan setia pada tiap jahitan.


