![]() |
| Perang Tomat di Cikareumbi Lembang (sumber : x.com/VICE_ID) |
Jika Anda mencari pengalaman wisata budaya yang benar-benar berbeda di Lembang, ada satu tradisi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan: Perang Tomat, atau warga setempat menyebutnya Rempug Tarung Adu Tomat. Acara unik ini digelar setiap tahun di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, dan kini menjadi salah satu agenda budaya paling ditunggu baik oleh warga maupun wisatawan.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan musiman. Ia lahir dari kisah nyata para petani tomat Lembang yang pernah terpukul oleh anjloknya harga komoditas ini. Pada 2012, saat panen begitu melimpah dan harga jual jatuh drastis, petani menghadapi kerugian besar. Banyak tomat yang tak laku dan akhirnya membusuk di ladang.
Di tengah keprihatinan itu, seorang budayawan Sunda, Mas Nanu Muda—akrab disapa Abah Nanu—mengusulkan ide kreatif: menjadikan tomat busuk yang tak layak jual sebagai bagian dari pesta budaya masyarakat. Sebuah gagasan sederhana, namun penuh makna—mengurangi limbah sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk merayakan kreativitas dan kebersamaan.
Rangkaian Acara: Ramai, Guyub, dan Penuh Tawa
![]() |
| Suasana Perang Tomat di Lembang (sumber : x.com/insankml_) |
Perang Tomat biasanya digelar berbarengan dengan upacara adat Ngaruwat Bumi, ritual syukur atas hasil bumi yang melimpah. Di sinilah keseruannya dimulai: ribuan tomat tidak layak konsumsi dijadikan “senjata,” sementara para peserta—mulai dari petani, seniman, pemuda, hingga wisatawan—berdiri berhadapan siap saling lempar.
Jangan bayangkan suasana tegang seperti arena pertarungan. Justru sebaliknya—Perang Tomat berlangsung penuh tawa, teriakan heboh, dan warna merah tomat yang pecah di udara. Meski tampak seperti permainan seru, tradisi ini punya makna simbolis: membersihkan diri dari energi buruk dan membuang kesialan untuk memulai musim baru.
Magnet Wisata Budaya Lembang
![]() |
| Para peserta arak-arakan (sumber : x.com/VICE_ID) |
Sejak dikenal luas, Perang Tomat menjelma menjadi atraksi wisata budaya yang sangat menarik. Setiap tahun, semakin banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk menyaksikan langsung keunikan acara ini. Ada yang hanya menonton, ada pula yang berani ikut “turun gelanggang” dan merasakan sensasi dilempar tomat secara langsung.
Bagi para pelaku wisata lokal, kehadiran Perang Tomat membawa angin segar. Warung makan, pengrajin, hingga pelaku UMKM merasakan dampaknya lewat meningkatnya kunjungan wisatawan.
Kenapa Wajib Masuk Bucket List?
- Pengalaman otentik yang tak bisa ditemukan di tempat lain di Indonesia.
- Atmosfer lokal yang kuat, menghadirkan budaya Sunda yang guyub dan kreatif.
- Momen fotografi yang tak ternilai, penuh ekspresi dan warna.
- Event tahunan yang terus dilestarikan, sehingga pengunjung bisa merasakan partisipasi dalam tradisi yang hidup.
Catatan untuk Wisatawan
Jika Anda berniat ikut serta, siapkan pakaian yang nyaman dan siap kotor. Beberapa peserta bahkan membawa pelindung mata sederhana. Namun yang terpenting, datanglah dengan semangat bermain—karena di Perang Tomat, semua orang adalah bagian dari keseruan itu.
Perang Tomat Lembang bukan hanya tradisi—ia adalah cerita tentang ketangguhan, kreativitas, dan cara masyarakat merayakan hidup.
Jadi, saat berkunjung ke Lembang, jangan lupa cek jadwal penyelenggaraannya. Siapa tahu, Anda pulang membawa pengalaman wisata paling berkesan tahun ini.



