![]() |
| Bangunan Tua Suge di Cianjur, Jejak Kejayaan Saudagar Tionghoa di Masa Lampau (instagram/visitcianjur) |
Di tengah hiruk pikuk kawasan perkotaan Cianjur, sebuah bangunan tua berdiri kokoh meski termakan usia. Letaknya yang strategis di persimpangan Jalan Otista, Jalan Ir. H. Juanda, dan Jalan Taifur Yusuf membuat bangunan ini mudah dikenali masyarakat. Warga sekitar lebih akrab menyebutnya dengan nama Suge, sebuah penanda lokasi yang hingga kini masih sering digunakan sebagai patokan arah.
Sekilas, bangunan tersebut tampak seperti bangunan lama yang tak terurus. Atapnya mulai lapuk, sebagian struktur runtuh, dan bagian dalamnya tak lagi berfungsi. Namun di balik kondisi fisiknya yang memprihatinkan, bangunan tua Suge menyimpan kisah panjang tentang kejayaan seorang pengusaha besar keturunan Tionghoa di Cianjur pada masa kolonial.
Menurut sejarawan Cianjur, Pepep Johar, nama Suge sebenarnya merupakan pelesetan dari Gow Su Gwe, sosok pemilik bangunan sekaligus pengusaha sukses pada zamannya. “Dulu itu adalah toko milik Gow Su Gwe. Nama bangunannya diambil dari nama pemiliknya, hanya saja sekarang masyarakat lebih mengenalnya sebagai Suge,” jelas Pepep.
Pada masa itu, Gow Su Gwe bukanlah pedagang biasa. Ia menjalankan usaha toko kelontong, namun skala dan jangkauannya jauh melampaui pedagang lokal lainnya. Tokonya dikenal sebagai pemasok utama kebutuhan makanan dan kudapan bagi orang-orang Eropa, terutama bangsa Belanda yang bermukim dan beraktivitas di Cianjur.
Kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja. Salah satu keunggulan Gow Su Gwe adalah kemampuannya berbahasa Belanda, sebuah keahlian langka di kalangan pengusaha lokal, termasuk dari etnis Tionghoa sendiri. “Tidak banyak yang mau dan mampu belajar bahasa Belanda saat itu. Gow Su Gwe belajar dengan serius hingga fasih, sehingga ia dipercaya menjadi pemasok makanan bagi orang Eropa,” ungkap Pepep.
Seiring berjalannya waktu, usaha Gow Su Gwe terus berkembang. Tidak hanya terbatas pada penjualan bahan makanan dan camilan, tokonya juga mulai menyediakan beberapa jenis material bangunan. Meski tidak lengkap, diversifikasi usaha tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi ekonomi yang ia bangun sejak era kolonial hingga awal masa kemerdekaan.
Sayangnya, kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Memasuki era 1960-an, situasi sosial dan politik di Indonesia memanas. Kerusuhan bernuansa SARA yang pecah pada tahun 1962 dan 1965 turut berdampak besar di Cianjur. Toko Gow Su Gwe menjadi salah satu sasaran penjarahan dan perusakan.
Pepep menuturkan bahwa sebelum kerusuhan terjadi, hubungan antara etnis Tionghoa dan masyarakat pribumi di Cianjur sejatinya berjalan harmonis. “Sebenarnya saat itu hidup damai. Namun karena hasutan dan situasi nasional yang memanas, kerusuhan akhirnya juga merembet ke Cianjur,” ujarnya.
Pasca kerusuhan, usaha Gow Su Gwe mengalami kemunduran drastis. Tidak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Usahanya sempat diteruskan oleh keturunannya, namun tidak mampu mengembalikan kejayaan seperti sebelumnya. Perlahan, toko yang pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi itu pun tutup dan dibiarkan terbengkalai.
Kini, bangunan tua Suge hanya berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Cianjur. Ia merekam masa kejayaan pengusaha Tionghoa di era kolonial, sekaligus menjadi pengingat kelamnya konflik sosial yang pernah terjadi. Tanpa perawatan dan perhatian serius, bangunan bersejarah ini kian rapuh dimakan waktu. “Bangunan itu sekarang tidak terawat. Padahal ia menyimpan sejarah panjang, dari masa penjajahan hingga era 1960-an,” tutup Pepep.
Keberadaan bangunan tua Suge seharusnya menjadi pengingat bahwa Cianjur memiliki warisan sejarah multikultural yang kaya. Jika dikelola dengan baik, bangunan ini bukan hanya penanda lokasi, tetapi juga dapat menjadi media edukasi sejarah bagi generasi mendatang.

