![]() |
| Mengenal Kesenian Sasapian, Warisan Budaya Asli Kabupaten Bandung Barat (sumber : pandjidarwani) |
Kesenian sasapian dikenal sebagai salah satu warisan budaya tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Seni pertunjukan rakyat ini diyakini berasal dari Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, dan telah hidup di tengah masyarakat sejak era 1930-an. Hingga kini, sasapian masih dipertahankan sebagai simbol identitas budaya Sunda di wilayah Bandung utara.
Budayawan Sunda, Mas Nanu Muda atau yang akrab disapa Bah Nanu, menjelaskan bahwa sasapian merupakan kesenian lokal yang berbeda asal-usulnya dengan kuda renggong dari Sumedang. Ia menyebut sasapian sudah dikenal sejak sekitar tahun 1932 dan mengalami beberapa penyesuaian setelah Indonesia merdeka. Dari Desa Cihideung, kesenian ini kemudian menyebar ke desa-desa lain di kawasan Bandung bagian utara.
Menurut Bah Nanu, kemunculan kesenian sasapian tidak berkaitan langsung dengan kondisi geografis Lembang yang dikenal sebagai sentra peternakan sapi. Ia menegaskan bahwa sasapian justru memiliki akar kuat dalam budaya pertanian masyarakat setempat. Pada masa lalu, warga Cihideung tidak hanya membudidayakan tanaman hias, tetapi juga mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama.
Dalam konteks budaya, sapi memiliki makna simbolis yang cukup penting. Bah Nanu menjelaskan bahwa sapi dipandang sebagai perlambang kesejahteraan dan kesuburan tanah. Meski memiliki nilai filosofis yang tinggi, sapi di wilayah Cihideung tidak disakralkan seperti di India. Menariknya, sebelum pengaruh Kerajaan Mataram masuk ke tanah Sunda, simbol kesuburan lebih sering diwakili oleh sapi, bukan kerbau. Pergeseran simbol ini terjadi seiring perubahan kekuasaan dan budaya.
Selain sasapian, figur sapi juga hadir dalam khazanah mitologi Sunda melalui tokoh Sapi Gumarang. Tokoh ini dikenal dalam kisah Wawacan Sulanjana sebagai jelmaan manusia sakti yang menguasai hasil panen padi di Kerajaan Galuh. Kisah tersebut berakhir ketika Sulanjana berhasil menaklukkan Sapi Gumarang, yang kemudian dimaknai sebagai simbol kemenangan atas keserakahan dan ketidakseimbangan alam.
Dalam praktik pertunjukannya, kesenian sasapian ditampilkan oleh sejumlah penari yang diiringi musik tradisional Sunda. Alat musik seperti kendang, terompet, dan gong menjadi pengiring utama yang menciptakan suasana magis dan dinamis. Salah seorang penari berada di dalam replika sapi yang terbuat dari rangka bambu dan kain, menyerupai konsep barongsai. Sementara itu, penari lain berperan seolah-olah sedang mengejar atau memburu sapi tersebut.
Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya dilakukan ritual khusus berupa pemberian sesaji pada sapi bohongan. Ritual ini dipimpin oleh seorang tokoh adat atau pemimpin upacara. Dalam proses pertunjukan, gerak tari penari di dalam sapi kerap terlihat seperti orang yang mengalami kesurupan, sehingga menciptakan nuansa mistis yang kuat.
Bah Nanu mengungkapkan bahwa pada masa lalu, bagian kepala sapi menggunakan perlengkapan yang biasa dipakai dalam prosesi memandikan jenazah. Dalam alur tarian, sapi digambarkan diburu hingga disembelih. Makna dari adegan tersebut sangat luas dan terbuka untuk berbagai penafsiran, mulai dari simbol pengendalian nafsu hewani hingga representasi pengorbanan demi keseimbangan hidup.
Ia juga menilai kesenian sasapian memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Sebagai kesenian rakyat, sasapian dinilai adaptif terhadap perubahan zaman. Salah satu contohnya adalah masuknya unsur bedil-bedilan yang baru dikenal setelah masa kemerdekaan, tanpa menghilangkan nilai tradisi yang melekat.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat, Hernandi Tismara, menyampaikan bahwa sasapian saat ini telah menjadi ikon kesenian di Desa Cihideung. Ke depan, pemerintah daerah berupaya mendorong sasapian agar dapat diakui sebagai ikon resmi kesenian khas Kabupaten Bandung Barat.
Menurutnya, proses tersebut memerlukan tahapan yang tidak singkat. Berbagai kajian budaya dan prosedur administratif perlu dilakukan sebelum sasapian dapat dipromosikan secara luas sebagai kesenian asli daerah. Meski demikian, upaya pelestarian dan pengembangan sasapian terus dilakukan agar kesenian ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Dengan nilai historis, filosofis, dan estetika yang kuat, kesenian sasapian bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan cerminan perjalanan budaya masyarakat Bandung Barat yang sarat makna dan kearifan lokal.

