![]() |
| Mengenal Rasi, Makanan Pokok Unik Kampung Adat Cireundeu yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya (instagram/genpi.bdgraya) |
Jika berbicara tentang wisata budaya di Jawa Barat, nama Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi patut masuk dalam daftar kunjungan. Kampung adat ini bukan hanya menyimpan nilai tradisi yang kuat, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner khas yang unik dan jarang ditemui di daerah lain, yaitu rasi. Berbeda dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang mengandalkan nasi, warga Cireundeu menjadikan rasi sebagai makanan pokok sehari-hari.
Keunikan inilah yang membuat Kampung Adat Cireundeu semakin menarik bagi wisatawan, terutama mereka yang gemar menjelajahi wisata budaya dan kuliner tradisional berbasis kearifan lokal.
Apa Itu Rasi? Makanan Pokok Berbahan Singkong
Rasi merupakan makanan pokok yang terbuat dari singkong (ubi kayu) yang diolah hingga menyerupai nasi. Secara visual, rasi tampak seperti butiran nasi berwarna putih kecokelatan, namun dengan tekstur yang sedikit lebih kenyal dan aroma khas singkong. Proses pembuatannya pun cukup panjang, mulai dari pengupasan, pengeringan, penumbukan, hingga akhirnya dikukus sebelum disajikan.
Bagi masyarakat Kampung Adat Cireundeu, rasi bukan sekadar pengganti nasi. Makanan ini telah menjadi bagian dari identitas dan filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun sejak lebih dari 100 tahun lalu.
Sejarah Rasi dan Filosofi Hidup Warga Cireundeu
Tradisi mengonsumsi rasi bermula dari kondisi geografis dan sosial di masa lalu. Pada awal abad ke-20, beras bukanlah bahan pangan yang mudah diakses oleh warga Cireundeu. Singkong, yang lebih mudah ditanam dan dirawat, kemudian dipilih sebagai sumber pangan utama.
Namun seiring waktu, pilihan ini berkembang menjadi sebuah prinsip hidup. Masyarakat Cireundeu meyakini bahwa mengonsumsi rasi mengajarkan nilai kesederhanaan, kemandirian, dan kebersamaan. Dalam kepercayaan lokal, rasi dianggap sebagai makanan yang menumbuhkan ketenangan dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Rasi dan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
![]() |
| Proses Pembuatan Nasi Rasi (Dede Diaz Abdurahman) |
Keberadaan rasi menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu menciptakan sistem ketahanan pangan mandiri. Warga Kampung Adat Cireundeu tidak bergantung sepenuhnya pada beras, melainkan memanfaatkan potensi alam sekitar secara berkelanjutan.
Rasi biasanya disantap bersama lauk sederhana seperti sayur-sayuran, ikan asin, tahu, tempe, serta lalapan. Pola makan ini tidak hanya mencerminkan gaya hidup sehat, tetapi juga menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Nilai budaya yang terkandung dalam tradisi rasi akhirnya mendapat pengakuan resmi. Pada tahun 2021, rasi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Penetapan ini menegaskan bahwa rasi bukan sekadar makanan tradisional, melainkan warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Bagi wisatawan, pengakuan ini semakin menguatkan posisi Kampung Adat Cireundeu sebagai destinasi wisata budaya yang autentik dan edukatif.
Daya Tarik Wisata Kuliner dan Budaya
Kini, Kampung Adat Cireundeu mulai dilirik sebagai tujuan wisata budaya dan kuliner tradisional. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya bisa mencicipi rasi secara langsung, tetapi juga belajar tentang proses pembuatannya serta filosofi hidup masyarakat setempat.
Pengalaman ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang mencari perjalanan bermakna, bukan sekadar berfoto, tetapi juga memahami tradisi dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Rasi adalah bukti bahwa kekayaan kuliner Nusantara tidak selalu berpusat pada nasi. Dari Kampung Adat Cireundeu, kita belajar tentang kemandirian pangan, kesederhanaan hidup, dan kekuatan tradisi yang mampu bertahan di tengah modernisasi. Bagi pecinta wisata budaya, mengenal rasi bukan hanya soal mencicipi makanan unik, tetapi juga menyelami filosofi hidup masyarakat adat Jawa Barat.


