![]() |
| Cafe Madtari Bandung, Warmindo Legendaris di Bandung Tempat Nongkrong Favorit Anak Muda dan Mahasiswa (gmaps/Fitriastoni Oni) |
Bandung tak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Di kota yang dikenal kreatif dan dinamis ini, tempat makan datang dan pergi mengikuti arus tren. Namun di antara derasnya gelombang kafe modern dan konsep kekinian, ada satu nama yang tetap bertahan dengan caranya sendiri: Cafe Madtari.
Bagi mahasiswa dan warga lokal, nama ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah bagian dari memori kolektif tentang malam panjang, obrolan tanpa jeda, dan sepiring Indomie dengan taburan keju melimpah yang sulit dilupakan.
Cafe Madtari dikenal luas sebagai warmindo legendaris di Bandung. Menu yang ditawarkan sebenarnya sederhana dan akrab di lidah banyak orang: Indomie dalam berbagai varian, roti bakar dengan beragam rasa, hingga pisang panggang hangat. Namun kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatannya.
Yang membuatnya menonjol adalah satu ciri khas yang tak dimiliki banyak warung sejenis: parutan keju dalam jumlah berlimpah. Taburan keju yang tebal nyaris menutupi permukaan makanan telah menjadi identitas kuat Madtari. Istilah “keju jabrig” pun melekat sebagai sebutan yang menggambarkan sajian khasnya.
Dari Gerobak Sederhana ke Tempat Ikonik
Perjalanan Cafe Madtari dimulai dari langkah kecil. Sekitar tahun 2000, Dani Madtari, perantau asal Cipatujah, Tasikmalaya, merintis usaha kuliner dengan modal terbatas. Ia memulai dari lapak kaki lima di kawasan Dago, tepatnya di sekitar Dago Plaza.
Menu awalnya tidak rumit. Pisang panggang menjadi salah satu andalan di masa-masa awal. Namun kreativitas dalam mengolah dan menyajikan makanan membuat lapaknya perlahan dikenal. Ide menambahkan keju parut dalam porsi besar menjadi pembeda yang tak biasa pada masa itu. Di tengah warung sederhana lainnya, konsep ini terasa unik dan menarik perhatian.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Penertiban pedagang kaki lima membuat lapak Madtari beberapa kali harus berpindah tempat. Dari Dago, lalu ke Dipati Ukur, hingga akhirnya sempat berjualan di kawasan Sulanjana. Meski berpindah-pindah, pelanggan setia tetap mengikuti. Mahasiswa, yang menjadi segmen utama, menjadikan Madtari sebagai pilihan makan malam murah meriah yang mengenyangkan.
Kesetiaan pelanggan inilah yang menjadi fondasi kuat bertahannya usaha tersebut.
Tetap Setia sebagai Warmindo
Setelah kurang lebih satu dekade berjualan di jalanan, Cafe Madtari akhirnya memiliki tempat permanen di Jalan Ranggagading, Bandung. Meski kini lebih sering disebut “cafe”, nuansa yang dihadirkan tetap sederhana, khas warmindo.
Interiornya jauh dari kesan mewah. Spanduk Indomie terpampang jelas, meja-meja panjang tersusun fungsional, dan suasana yang hangat terasa tanpa dibuat-buat. Di sinilah identitas Madtari terjaga: tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Pilihan menu pun tidak banyak berubah. Indomie rebus dan goreng dengan berbagai topping tetap menjadi primadona. Roti bakar aneka rasa dan pisang bakar masih tersedia sebagai alternatif. Bahkan menu nasi sederhana juga melengkapi daftar hidangan. Harga yang relatif terjangkau semakin memperkuat daya tariknya, terutama bagi kalangan mahasiswa.
Namun lagi-lagi, yang paling dicari adalah sensasi keju parut yang melimpah. Hampir setiap sajian tampil dengan taburan keju tebal, hingga terkadang terlihat berlebihan. Justru di situlah letak pesonanya. Pengunjung datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan pengalaman khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Ruang Sosial di Balik Sepiring Indomie
Di masa jayanya, Cafe Madtari pernah buka selama 24 jam. Jam operasional tanpa henti ini menjadikannya destinasi favorit bagi mereka yang aktif di malam hari. Mahasiswa yang begadang mengerjakan tugas, pekerja dengan jam kerja tak biasa, hingga anak muda yang baru selesai berkumpul, semua pernah singgah di sana.
Banyak kisah lahir dari meja-meja panjang Madtari. Ada yang tertidur sambil menunggu pesanan, ada pula yang terlibat diskusi panjang hingga menjelang pagi. Tempat ini seolah menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam suasana santai dan egaliter.
Cafe Madtari bukan hanya soal makanan murah dan porsi melimpah. Ia telah bertransformasi menjadi titik temu, tempat berbagi cerita, bahkan saksi perjalanan hidup sebagian pengunjungnya.
Bertahan di Tengah Ujian dan Perubahan Zaman
Pandemi COVID-19 sempat menjadi ujian berat bagi banyak pelaku usaha kuliner, termasuk Cafe Madtari. Pembatasan jam operasional dan penurunan jumlah pengunjung memaksa usaha ini beradaptasi. Masa-masa sulit pun tak terhindarkan.
Namun seperti halnya perjalanan panjang sebelumnya, Madtari kembali menunjukkan daya tahannya. Perlahan, aktivitas kembali berjalan. Identitas yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade tetap dipertahankan: menu sederhana, harga bersahabat, dan tentu saja keju parut yang menjadi ciri khas.
Di tengah menjamurnya kafe estetik dengan desain Instagramable dan menu eksperimental, Cafe Madtari membuktikan bahwa konsistensi memiliki nilai tersendiri. Tidak semua tempat harus berubah mengikuti tren. Ada kalanya justru keaslian dan keteguhan pada konsep awal menjadi kekuatan utama.
Bagi banyak orang, menikmati Indomie dengan limpahan keju di Cafe Madtari bukan semata perkara rasa. Ada unsur nostalgia yang ikut tersaji di setiap suapan. Kenangan tentang masa kuliah, persahabatan, dan malam-malam panjang yang penuh cerita terasa hadir kembali.
Selama kenangan itu masih dicari dan dirindukan, Cafe Madtari tampaknya akan terus bertahan. Di peta kuliner Bandung yang terus berkembang, warmindo legendaris ini tetap memiliki tempat istimewa—bukan karena kemewahan, melainkan karena kesederhanaan yang konsisten dan penuh makna.***

