
Mata Air Cigempol Sumedang (sumedang.go.id)
SUMEDANG - Ada kalanya perjalanan wisata tidak harus berakhir di tempat yang ramai, punya banyak wahana, atau dipenuhi spot foto kekinian. Justru di pelosok desa, kita sering menemukan cerita sederhana yang jauh lebih berkesan.
Salah satunya adalah Mata Air Cigempol Sumedang. Berada di Dusun Jemo, Desa Nagrak, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang, mata air ini menawarkan pengalaman berbeda: menikmati suasana alam sekaligus mengenal sumber kehidupan yang telah menjadi bagian dari masyarakat selama lebih dari satu abad.
Perjalanan menuju Mata Air Cigempol dari pusat Kota Sumedang memang membutuhkan waktu sekitar satu jam. Namun, rasa lelah selama perjalanan seolah terbayar ketika memasuki kawasan Desa Nagrak.
Lokasinya berada di kaki Gunung Tampomas. Dari kawasan persawahan, genangan air yang tampak jernih menjadi penanda keberadaan mata air tersebut. Suasananya pun jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Bagi pencinta wisata alam yang menyukai tempat sederhana dan belum terlalu ramai, Cigempol bisa menjadi salah satu destinasi menarik untuk disambangi ketika berada di Sumedang.
Hal paling menarik dari Mata Air Cigempol bukan sekadar kejernihan airnya. Masyarakat setempat menyebut sumber air ini memiliki keistimewaan karena debitnya tetap bertahan meski musim kemarau datang.
Menurut keterangan Sekretaris Desa Nagrak, Hendra Juanda, keberadaan Mata Air Cigempol telah diketahui lebih dari 100 tahun. Bahkan, cerita mengenai mata air tersebut telah diwariskan oleh generasi terdahulu kepada masyarakat sekarang.
Menariknya lagi, selama dikenal masyarakat, Cigempol disebut belum pernah mengalami kekeringan. Debit airnya juga dikatakan tetap stabil meskipun wilayah sekitar menghadapi musim kemarau panjang.
Cigempol sebenarnya memiliki cerita yang lebih dalam daripada sekadar destinasi wisata alam.
Pada masa lalu, mata air ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga. Selain dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian, kawasan tersebut juga menjadi tempat masyarakat bertemu dan berbincang.
Dengan kata lain, Mata Air Cigempol pernah berfungsi sebagai ruang sosial alami. Warga yang datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membangun komunikasi dan menjaga kedekatan antar tetangga.
Kini, kawasan mata air telah mengalami penataan sederhana oleh Pemerintah Desa Nagrak. Terdapat pembatas di sekitar sumber air, pancuran untuk kebutuhan warga, serta penerangan yang memungkinkan kawasan tersebut digunakan pada malam hari.
Bagi wisatawan yang ingin mencari sisi lain wisata Sumedang, Mata Air Cigempol menawarkan sesuatu yang mungkin semakin langka: ketenangan, kesejukan, dan cerita kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama alam.
Sebuah perjalanan sederhana ke kaki Gunung Tampomas yang mengingatkan kita bahwa tempat menarik tidak selalu harus megah. Kadang, cukup sebuah mata air yang terus mengalir untuk membuat sebuah perjalanan terasa berarti.***
