![]() |
| Museum Konferensi Asia-Afrika (sumber : instagram/mkaa_kemlu) |
Bandung, kota yang dikenal dengan udara sejuk dan lanskap pegunungan nan memesona, ternyata tak hanya menyuguhkan pesona alam dan kuliner yang menggoda. Di balik hiruk-pikuk modernitasnya, kota ini menyimpan rekam jejak sejarah dunia yang luar biasa. Salah satunya bisa Anda temukan di Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA), yang kini tengah menghadirkan sebuah pameran temporer yang sayang untuk dilewatkan: “Kuasa Kata di KAA: Sketsa Sidang Komite, A Portrayal of Asian-African Solidarity.”
Pameran yang resmi dibuka pada Senin, 7 Juli 2025 ini, menghadirkan pengalaman berwisata sejarah yang lebih dari sekadar melihat artefak tua. Diresmikan langsung oleh Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Umar Hadi, pameran ini mengangkat kembali semangat solidaritas Asia-Afrika yang dulu pernah menggema dari kota Bandung dan mengguncang tatanan dunia pasca-kolonial.
Dari Sketsa ke Sejarah: Napas Solidaritas Asia-Afrika
Pameran ini mengusung konsep visual berupa sketsa-sketsa dokumentatif dari sidang-sidang komite dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Dengan sentuhan artistik dan pendekatan naratif yang kuat, pengunjung seakan diajak melintasi waktu, menyaksikan bagaimana perdebatan, gagasan, dan kata-kata para delegasi dari 29 negara berkembang kala itu mengalir, menyatu dalam satu suara: merdeka dan bermartabat.
Tak hanya sebagai pelengkap koleksi museum, pameran ini menjadi ruang kontemplatif yang menyentuh hati dan menggugah pemikiran. Setiap lukisan dan narasi yang dipamerkan memberi pesan bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari senjata, tetapi juga dari keberanian berbicara, berunding, dan memperjuangkan keadilan.
Wisata Edukasi yang Menginspirasi
Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda di Bandung, mengunjungi Museum KAA selama pameran ini berlangsung bisa menjadi pilihan yang penuh makna. Pameran "Kuasa Kata di KAA" terbuka untuk umum hingga 30 Agustus 2025, memberikan cukup waktu untuk menjadikannya sebagai bagian dari itinerary liburan atau kunjungan edukatif.
Tidak hanya untuk pecinta sejarah, pameran ini juga sangat cocok untuk para pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin memahami bagaimana peristiwa monumental di masa lalu bisa menjadi cermin dan pelajaran untuk masa kini.
Dalam sambutannya saat pembukaan, Dubes Umar Hadi juga mengajak generasi muda untuk menjadikan semangat Bandung sebagai inspirasi. “Dunia sedang tidak baik-baik saja. Tapi dari Bandung, semangat solidaritas dan keberanian bisa kembali kita hidupkan,” ujarnya. Sebuah pesan yang relevan di tengah kondisi dunia yang penuh tantangan seperti sekarang.
Museum yang Tak Pernah Sepi Makna
Museum Konferensi Asia-Afrika sendiri telah lama menjadi ikon wisata sejarah di Kota Bandung. Berada di Jalan Asia Afrika, museum ini dikelilingi banyak destinasi menarik lainnya seperti Gedung Merdeka, Jalan Braga yang ikonik, dan kawasan Alun-Alun Bandung. Lokasinya yang strategis membuat museum ini mudah diakses oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dengan pameran ini, Museum KAA membuktikan diri sebagai tempat wisata sejarah yang tidak membosankan. Justru sebaliknya, ia mampu menyajikan nilai-nilai sejarah dalam kemasan yang visual, naratif, dan menggugah hati.
Jadi, jika Anda tengah merencanakan liburan ke Bandung atau sekadar jalan-jalan akhir pekan, sempatkanlah berkunjung ke Museum Konferensi Asia-Afrika. Rasakan atmosfer sejarah dunia yang pernah ditorehkan dari kota ini, dan biarkan kata-kata dari masa lalu memberi makna baru bagi perjalanan Anda.
Karena wisata sejati bukan hanya soal melihat yang indah, tapi juga merasakan yang bermakna. Dan di Museum KAA, Anda akan menemukan keduanya: visual yang memukau dan nilai sejarah yang menggugah.

