Menyusuri Jejak Sejarah Terowongan Sasaksaat, Warisan Kolonial yang Masih Kokoh Hingga Saat Ini

Jabar Tourism
0

Terowongan Sasaksaat kini (sumber : pinterest)

Di balik hijaunya perbukitan Cipatat, Bandung Barat, tersimpan sebuah lorong panjang yang menembus perut Bukit Cidepok. Namanya Terowongan Sasaksaat, jalur kereta legendaris yang hingga kini masih berfungsi sebagai jalur aktif kereta api jarak jauh. Panjangnya mencapai 949 meter, menjadikannya bukan hanya terowongan tertua, tapi juga terpanjang di Indonesia yang masih digunakan.


Sekilas, lubang besar itu mungkin tampak seperti bekas galian tambang. Namun sesungguhnya, ia adalah saksi bisu sejarah transportasi di negeri ini. Dibangun sejak tahun 1902 pada masa kolonial Belanda, ketika rel kereta masih diprioritaskan untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi, teh, hingga beras. Lebih dari seabad kemudian, konstruksinya masih berdiri kokoh, seakan menantang waktu.


Dibangun dengan Alat Sederhana, Dikerjakan dengan Tenaga Rodi

Proses pembangunan Terowongan Sasaksaat bukanlah pekerjaan mudah. Tanpa bantuan teknologi canggih, pekerja pribumi dan Tionghoa menggali tanah menggunakan peralatan sederhana seperti linggis dan balincong. Peta perencanaan berada di tangan teknisi Eropa yang memimpin proyek, sementara para pekerja lokal memeras tenaga demi berdirinya jalur vital ini.


Menariknya, penggalian dilakukan dari dua arah sekaligus—utara dan selatan. Ketika akhirnya kedua lubang bertemu di tengah, hasilnya begitu presisi. Sebuah pencapaian teknik luar biasa pada masanya, tanpa bantuan GPS atau teknologi pemetaan modern. Tidak heran jika hingga kini terowongan ini masih dianggap sebagai mahakarya teknik sipil era kolonial.


Detail Teknis yang Menakjubkan

Terowongan ini memiliki tinggi 4,31 meter dengan lebar 3,92 meter. Jalurnya dibuat sedikit menanjak di bagian tengah agar air dari bukit bisa mengalir ke samping, mencegah genangan di bantalan rel. Dinding atap diperkuat dengan semen setebal hampir satu meter untuk menahan rembesan air. Semua detail teknis itu membuatnya tetap kokoh, bahkan setelah lebih dari seratus tahun digunakan.


Di dalam terowongan juga terdapat 35 ceruk kecil atau sleko—tempat aman bagi petugas yang berjaga bila kereta tiba-tiba melintas. Sleko inilah yang menjadi ruang penyelamat bagi penjaga terowongan seperti Krisna Budirohman, yang saban hari berjalan memeriksa kondisi rel. Dengan santai, ia bercerita bahwa masuk ke sleko ketika kereta lewat sudah jadi rutinitas, “seperti masuk kamar sendiri.”


Dari Komoditas Ekspor hingga Kereta Penumpang Modern

Terowongan Sasaksaat dulu (sumber : pinterest)

Pada masa kolonial, Terowongan Sasaksaat menjadi jalur utama pengangkut komoditas ekspor. Kini, fungsinya tetap vital sebagai lintasan kereta jarak jauh dan lokal, mulai dari Argo Parahyangan, Harina, Ciremai, Serayu, hingga rute Cibatu–Purwakarta. Dari zaman kolonial hingga era digital, terowongan ini tidak pernah berhenti melayani pergerakan manusia dan barang.


Bagi sebagian orang, Terowongan Sasaksaat mungkin hanya bagian dari infrastruktur transportasi. Namun bagi Krisna, sang penjaga, terowongan ini adalah rumah kedua. Selain menjaga jalur, ia kerap menemani mahasiswa atau fotografer yang datang untuk meneliti atau sekadar mengabadikan momen. Suasana hening, gelap, dan gemanya suara kereta justru menghadirkan kesan mistis sekaligus magis.


Terowongan Sasaksaat membuktikan bahwa warisan kolonial tak selalu usang atau rapuh. Ia adalah infrastruktur yang tetap bekerja dengan baik, tanpa perlu renovasi besar-besaran. Meski tidak sering masuk daftar destinasi wisata populer atau tren media sosial, keberadaannya setiap hari membantu ribuan penumpang menempuh perjalanan antarkota.


Lebih dari sekadar jalur besi, Terowongan Sasaksaat adalah simbol keteguhan. Ia tetap lurus, kuat, dan setia meski zaman terus berubah. Di tengah infrastruktur modern yang sering tak bertahan lama, terowongan ini justru menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dibangun dengan presisi dan dedikasi mampu menembus waktu.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)