Cerita di Balik Anyaman Pandan Rajapolah: Warisan Tradisi dari Tasikmalaya yang Mendunia

Jabar Tourism
0

Kerajinan Anyaman Pandan Rajapolah (sumber : Facebook/Kerajinan Tangan Rajapolah)

Kalau kamu berkunjung ke Tasikmalaya, jangan lupa mampir ke Rajapolah — sebuah kecamatan kecil yang punya reputasi besar di dunia kerajinan tangan. Di sinilah seni menganyam pandan bukan sekadar keterampilan, tapi juga napas kehidupan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap helai pandan yang dianyam punya cerita, dan setiap produk yang dihasilkan menyimpan nilai budaya yang tak lekang oleh waktu.


Perjalanan panjang anyaman pandan di Rajapolah dimulai sekitar tahun 1915. Waktu itu, warga setempat membuat tikar aria — tikar dua lapis yang empuk dan nyaman dipakai duduk. Lapisan atasnya disebut halusan karena lebih lembut, sementara lapisan bawah disebut kasaran. Pewarna yang digunakan masih alami, berasal dari bahan-bahan di alam sekitar. Warna-warnanya sederhana tapi hangat: merah darah, cokelat tua, dan kuning keemasan. Siapa sangka, dari tikar sederhana itu lahir industri kerajinan yang kini dikenal hingga ke luar negeri?


Mulai Dikenal Lewat Tudung dan Pameran

Sekitar tahun 1920, seorang warga bernama Haji Sidik dari Kampung Cibereko mempelopori pembuatan tudung pandan. Inovasinya menarik perhatian pemerintah daerah. Sang Bupati bahkan membantu memperkenalkan karya anyaman Rajapolah melalui pameran besar bernama Jaareurs — semacam pasar malam atau festival dagang yang digelar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.


Dari pameran inilah, anyaman Rajapolah mulai dikenal luas, bahkan sampai diekspor ke Belanda! Bayangkan, karya tangan warga kampung di Tasikmalaya bisa melanglang buana ke Eropa di awal abad ke-20 — luar biasa, kan?


Pasang Surut Nasib Para Pengrajin Anyaman Rajapolah

Sekitar tahun 1925, sekelompok pengusaha asal Prancis mendirikan perusahaan bernama Olivier. Mereka membeli tudung dalam jumlah besar dengan harga tinggi, membuat banyak warga beralih menjadi pengrajin. Tapi sayangnya, kejayaan itu tak bertahan lama. Perusahaan tersebut tiba-tiba tutup tanpa alasan yang jelas, dan para pengusaha asing itu pulang ke negaranya.


Sejak saat itu, kehidupan para pengrajin Rajapolah kembali menurun. Tak ada lagi pembeli besar, dan sebagian warga bahkan terpaksa merantau ke luar daerah.


Bangkit Lagi Lewat Inovasi

Harapan baru muncul di tahun 1962, ketika seorang pengrajin bernama Di’mat Sastrawiria mencoba membuat berbagai produk lain dari pandan. Ia tak hanya membuat tikar, tapi juga tas, dompet, kipas, hingga tempat pensil. Dari situlah industri anyaman Rajapolah mulai hidup kembali.


Generasi berikutnya pun melanjutkan tradisi ini. Salah satu yang sukses adalah keluarga Ir. H. Yayang Waryan, yang membawa produk Rajapolah ke pasar nasional seperti Jakarta dan Bali, bahkan sampai ke luar negeri lewat pesanan khusus dari pembeli asing.


Masa Keemasan dan Tantangan Modern

Memasuki tahun 1990-an, anyaman Rajapolah mencapai masa kejayaan. Para pedagang berperan besar dalam rantai usaha ini — mulai dari menyediakan bahan baku sampai memasarkan produk jadi. Tapi di sisi lain, banyak pengrajin kecil yang belum memahami pemasaran, sehingga sering kali hanya kebagian keuntungan sedikit.


Meski begitu, semangat mereka tidak surut. Hingga kini, Rajapolah tetap menjadi pusat kerajinan tangan yang ramai dikunjungi wisatawan, terutama mereka yang suka berburu oleh-oleh khas daerah.


Bersaing di Era Global tapi Tetap Lokal

Di era modern sekarang, produk anyaman Rajapolah sudah melangkah ke pasar ekspor. Pemesanan dalam jumlah besar dengan desain khusus membuat para pengrajin semakin kreatif. Tapi tantangan juga makin besar, karena mereka harus bisa bersaing dengan produk serupa dari luar negeri.


Namun, keunikan produk Rajapolah tetap tak tergantikan. Dari bahan alami hingga desain etnik yang khas, semua dibuat dengan cinta dan ketelatenan khas Tasikmalaya. Setiap lipatan pandan seolah menyimpan cerita perjuangan, kesabaran, dan kebanggaan.


Berburu Anyaman Saat Wisata ke Rajapolah

Kalau kamu liburan ke Tasikmalaya, mampirlah ke sentra kerajinan Rajapolah Art Village. Di sini kamu bisa melihat langsung proses menganyam pandan, bahkan mencoba membuat kerajinan sendiri. Banyak toko dan galeri yang menjual berbagai produk — mulai dari tas, topi, tikar, hingga dekorasi rumah yang cantik dan ramah lingkungan.


Selain jadi tempat berburu oleh-oleh, Rajapolah juga menawarkan pengalaman wisata budaya yang unik. Kamu bisa berbincang dengan pengrajin, belajar filosofi di balik motif anyaman, dan menyadari betapa kayanya warisan budaya lokal kita.


Anyaman pandan Rajapolah bukan sekadar kerajinan tangan, tapi juga simbol ketekunan dan kreativitas masyarakat Tasikmalaya. Dari tikar sederhana hingga menembus pasar dunia, semuanya lahir dari tangan-tangan yang bekerja dengan hati. Jadi, kalau kamu ingin membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar suvenir, bawalah sepotong cerita — cerita tentang ketekunan, budaya, dan cinta dari Rajapolah.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)