![]() |
| Simping Kaum khas Purwakarta (sumber : gmaps/Simping Kaum Teh Ina) |
Jika Anda berkunjung ke Purwakarta, belum lengkap rasanya tanpa mencicipi camilan khas yang satu ini — kue Simping Kaum. Kudapan renyah berbentuk bundar tipis ini bukan hanya sekadar teman minum teh atau kopi, tetapi juga warisan kuliner yang sarat sejarah dan menjadi kebanggaan masyarakat Purwakarta, Jawa Barat.
Simping adalah camilan yang terbuat dari campuran tepung tapioka dan terigu, diberi sentuhan bumbu penyedap serta aroma rempah dan buah-buahan alami. Teksturnya ringan, gurih, dan renyah, membuat siapa pun yang mencicipinya pasti ingin menambah lagi.
Keistimewaan simping bukan hanya pada rasanya, tetapi juga pada kisah di baliknya. Konon, camilan ini dulu menjadi sajian istimewa bagi para Raja Sunda. Kini, simping tetap menjadi simbol kebanggaan masyarakat Purwakarta dan menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang datang ke kota ini.
Jejak Simping Kaum, dari Warisan Kerajaan hingga Ikon Kuliner
Kisah populer menyebutkan bahwa perkembangan simping dimulai dari Kampung Kaum, Purwakarta, berkat sosok Haji Engkun—seorang keturunan ningrat Tatar Sunda yang dikenal sebagai pelopor usaha simping di daerah tersebut. Hingga kini, aroma wangi simping yang baru matang masih semerbak di Jalan Baing Marzuki, Kelurahan Cipaisan, kawasan yang menjadi sentra pembuatan Simping Kaum.
Lokasinya pun sangat mudah dijangkau, hanya beberapa ratus meter dari Alun-Alun Purwakarta. Jika Anda berjalan-jalan di area ini, jangan heran bila melihat barisan tungku tradisional dan para pengrajin yang dengan telaten memanggang adonan simping di atas cetakan besi panas. Prosesnya masih mengandalkan cara manual yang diwariskan turun-temurun — sederhana namun penuh keahlian.
Beragam Rasa yang Menggoda Selera
Kini, simping hadir dalam berbagai varian rasa yang semakin menggugah selera. Selain rasa gurih klasik, Anda juga bisa menemukan rasa kencur, bawang, pandan, nanas, durian, stroberi, hingga nangka. Setiap varian menawarkan pengalaman rasa yang unik, mulai dari aroma harum pandan hingga manis segar buah tropis.
Tak sedikit wisatawan yang menjadikan Simping Kaum sebagai oleh-oleh khas Purwakarta karena daya tahannya cukup lama dan kemasannya kini makin modern. Bahkan, beberapa produsen lokal telah mulai memasarkan simping secara online, menjangkau pecinta kuliner tradisional di berbagai daerah.
Menariknya, masih banyak warga lokal yang tidak mengetahui asal-usul nama “simping.” Namun, menurut beberapa penjual, nama ini diyakini berasal dari kata “sumping” yang berarti datang dalam bahasa Sunda. Filosofinya indah — siapa pun yang datang ke Purwakarta, seolah harus membawa pulang simping sebagai tanda telah menyumping di kota tersebut.
Tantangan di Balik Kebertahanan Rasa Tradisional
Meski popularitasnya tinggi, para pengrajin Simping Kaum kini menghadapi tantangan berat. Harga bahan baku seperti tepung tapioka dan rempah alami terus meningkat, sementara mereka tetap berkomitmen menggunakan bahan asli tanpa perasa buatan.
Namun semangat menjaga warisan rasa tak pernah padam. Banyak pelaku UMKM Purwakarta terus berinovasi dalam kemasan, pemasaran, dan varian rasa agar Simping Kaum tetap eksis di tengah persaingan kuliner modern. Bahkan, Dinas Pariwisata Purwakarta kini turut mendorong simping agar diakui sebagai ikon kuliner khas daerah yang mampu memperkuat citra Purwakarta sebagai destinasi wisata budaya dan kuliner.
Simping Kaum, Cita Rasa yang Tak Lekang Waktu
Lebih dari sekadar camilan, Simping Kaum adalah simbol keuletan dan kebanggaan masyarakat Purwakarta. Di setiap kepingan tipisnya tersimpan cerita panjang tentang sejarah, kearifan lokal, dan cinta terhadap warisan kuliner tradisional.
Jadi, saat Anda berlibur ke Purwakarta, sempatkanlah mampir ke Kampung Kaum untuk menyaksikan langsung proses pembuatan simping dan membawa pulang beberapa bungkus sebagai oleh-oleh. Karena setiap gigitan simping bukan hanya soal rasa — tetapi juga tentang sejarah dan identitas Purwakarta yang manis untuk dikenang.

