Mengenal Upacara Adat Nyangku di Panjalu: Tradisi Kuno yang Masih Lestari di Ciamis

Jabar Tourism
0

Mengenal Upacara Adat Nyangku di Panjalu: Tradisi Kuno yang Masih Lestari di Ciamis (kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar)

Jika Anda berkunjung ke Ciamis, Jawa Barat, ada satu tradisi unik yang tak boleh dilewatkan—Upacara Adat Nyangku. Ritual budaya yang digelar setiap tahun ini bukan hanya menyuguhkan prosesi adat yang sakral, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata budaya yang jarang ditemui di tempat lain. Bagi para pencinta sejarah maupun wisatawan yang ingin merasakan nuansa tradisi Sunda yang kental, Nyangku bisa menjadi agenda menarik untuk disimak.


Upacara yang berlangsung di Kecamatan Panjalu ini merupakan prosesi penyucian benda-benda pusaka warisan Prabu Sanghyang Borosngora dan para raja Panjalu. Sejak ratusan tahun lalu, pusaka seperti Pedang Zulfikar, Kujang, Keris Komando, hingga goong kecil disimpan di Pasucian Bumi Alit dan hanya dikeluarkan pada hari pelaksanaan Nyangku.


Sejarah Singkat: Dari Syiar Islam Menjadi Festival Budaya

Nama “Nyangku” dipercaya berasal dari kata Arab yanko, yang berarti membersihkan. Dalam dialek Sunda, istilah tersebut berubah menjadi “nyangku”. Tradisi ini diyakini telah dilakukan sejak masa Prabu Sanghyang Borosngora, ketika raja menggunakannya sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam.


Seiring waktu, Nyangku berkembang menjadi identitas budaya masyarakat Panjalu. Hingga kini, ritual ini tetap dijalankan setiap Senin atau Kamis terakhir bulan Maulid. Tak hanya sebagai penghormatan leluhur, upacara ini menjadi ajang berkumpulnya warga dan wisatawan yang ingin melihat langsung keunikan warisan budaya Panjalu.


Makna Upacara: Membersihkan Pusaka, Membersihkan Diri

Bagi masyarakat Panjalu, Nyangku memiliki makna spiritual. Pembersihan pusaka dianggap sebagai simbol penyucian diri. Momen ini menjadi ajang introspeksi, mengingatkan masyarakat untuk memperbaiki perilaku agar tetap sejalan dengan nilai adat dan ajaran agama.


Bagi wisatawan, nilai budaya ini menjadi daya tarik tersendiri. Menyaksikan bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur dengan penuh hormat memberikan pengalaman mendalam yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain.


Rangkaian Prosesi: Dari Air Suci hingga Kirab Pusaka

Inilah bagian yang paling dinantikan para pengunjung. Prosesi Nyangku berlangsung dalam beberapa tahapan, dan masing-masing memiliki daya tarik visual dan makna budaya yang kuat.


1. Pengambilan Air dari Tujuh Mata Air

Beberapa hari sebelum upacara, warga mengambil air suci dari tujuh sumber mata air yang tersebar di sekitar Panjalu, termasuk Situ Lengkong, Gunung Syawal, Cipanjalu hingga Ciomas. Air tersebut disimpan dan didoakan selama 40 hari sebelum digunakan untuk menyucikan pusaka.


2. Malam Pengajian dan Tradisi Gembyung

Menjelang hari puncak, suasana Pasucian Bumi Alit semakin meriah. Masyarakat berkumpul untuk pengajian, pembacaan sholawat, dan pertunjukan seni tradisional seperti Gembyung dan Debus. Ini menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan atmosfer budaya lokal yang autentik.


3. Kirab Pusaka Menuju Pulau Nusa Gede

Di hari upacara, puluhan pusaka dikeluarkan dan diarak menuju Pulau Nusa Gede, pulau kecil yang berada di tengah Situ Lengkong Panjalu. Arak-arakan ini berlangsung khidmat dengan iringan rebana dan lantunan sholawat. Pemandangan kirab yang melintasi danau menjadi salah satu momen paling ikonik dan fotogenik bagi wisatawan.


4. Proses Penyucian Pusaka

Setibanya di pulau, pusaka dibuka dari kain putih pembungkusnya dan dibersihkan menggunakan air suci dan jeruk nipis. Langkah ini dimulai dari pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora, lalu dilanjutkan ke pusaka lainnya. Setelah dibersihkan, setiap pusaka diolesi minyak kelapa khusus, dibungkus lagi dengan janur dan kain putih, kemudian diasapi dengan kemenyan.


5. Pusaka Dipulangkan ke Bumi Alit

Usai seluruh prosesi selesai, pusaka kembali diarak ke Pasucian Bumi Alit dan disimpan hingga upacara Nyangku tahun berikutnya.


Kenapa Wisatawan Perlu Menyaksikan Nyangku?

- Unik dan hanya ada di Panjalu

Ritual ini tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia, menjadikannya pengalaman budaya yang eksklusif.


- Suasana religius sekaligus meriah

Anda bisa merasakan perpaduan spiritualitas, seni, dan tradisi yang berlangsung secara harmonis.


- Spot foto yang menarik

Kirab pusaka melewati Situ Lengkong menawarkan pemandangan yang sangat memukau untuk diabadikan.


- Menambah wawasan budaya Sunda

Nyangku menjadi pintu untuk memahami sejarah Panjalu dan nilai-nilai yang dijaga masyarakatnya hingga kini.


Tips Berkunjung Saat Upacara Nyangku

- Datang lebih pagi agar mendapatkan spot terbaik saat kirab dimulai.

- Gunakan pakaian yang sopan karena acara memiliki unsur sakral.

- Siapkan kamera atau ponsel dengan baterai penuh.

- Hormati setiap prosesi dan ikuti arahan panitia.


Jika Anda sedang berencana liburan ke Ciamis atau mencari pengalaman wisata budaya yang berbeda, Upacara Adat Nyangku di Panjalu layak masuk dalam daftar perjalanan Anda. Tradisi yang telah bertahan ratusan tahun ini bukan hanya menarik untuk disaksikan, tetapi juga memberi makna baru tentang bagaimana sebuah budaya bisa terus hidup dan diteruskan dari generasi ke generasi. Selamat menjelajah Panjalu!

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)