![]() |
| Sumur Pitu di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon (sumber : jurnalpost) |
Cirebon tidak hanya dikenal lewat kuliner empalnya yang melegenda atau keraton yang sarat sejarah. Di balik itu semua, kota pesisir Jawa Barat ini menyimpan wisata religi dan budaya yang hingga kini masih hidup dan dijalankan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah ritual adus sumur pitu yang berada di kawasan Makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati.
Bagi wisatawan religi, ritual ini bukan sekadar mandi di sumber air tua. Adus sumur pitu adalah pengalaman spiritual yang menyatukan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal—menjadikannya daya tarik wisata budaya yang unik dan berbeda dari destinasi lain di Indonesia.
Mengenal Ritual Adus Sumur Pitu
Ritual adus sumur pitu secara harfiah berarti mandi di tujuh sumur. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak masa penyebaran Islam di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam sejarah Islam Nusantara.
Tujuh sumur tersebut berada di sekitar kompleks makam dan hingga kini masih digunakan oleh peziarah yang datang dari berbagai daerah. Masyarakat setempat meyakini bahwa ritual ini merupakan simbol pensucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum atau setelah berziarah.
Daya Tarik Wisata Religi yang Sarat Makna
Berbeda dengan wisata alam atau wisata buatan, daya tarik adus sumur pitu terletak pada nilai spiritual dan filosofisnya. Setiap sumur dipercaya memiliki makna tersendiri yang menggambarkan perjalanan hidup manusia—mulai dari kesadaran diri, kebijaksanaan, hingga keteguhan iman.
Bagi wisatawan, ritual ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam dibanding sekadar berkunjung dan berfoto. Ada nuansa khidmat, tenang, dan reflektif yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern.
Tak heran jika kawasan Makam Sunan Gunung Jati selalu ramai dikunjungi, terutama pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Kliwon, ketika jumlah peziarah meningkat signifikan.
Proses Ritual yang Menjadi Pengalaman Budaya
Pelaksanaan ritual biasanya dilakukan secara sederhana. Peziarah berjalan dari satu sumur ke sumur lainnya, membasuh atau mandi dengan air sumur sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada aturan kaku soal urutan, karena semua sumur dianggap memiliki nilai yang sama.
Beberapa peziarah membawa bunga atau wewangian sebagai simbol niat baik dan ketulusan hati. Pakaian lama yang dikenakan saat mandi sering kali ditinggalkan sebagai lambang meninggalkan sifat buruk dan memulai lembaran baru dalam kehidupan.
Bagi wisatawan, menyaksikan prosesi ini saja sudah menjadi pengalaman budaya yang berharga—sebuah pelajaran tentang bagaimana tradisi lokal masih dijaga dengan penuh penghormatan.
Wisata Religi Sekaligus Wisata Budaya
Menariknya, ritual adus sumur pitu tidak hanya menjadi bagian dari praktik keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial masyarakat setempat. Tradisi ini mempertemukan warga lokal, juru kunci makam, hingga peziarah dari berbagai latar belakang.
Interaksi yang terjalin selama ritual mencerminkan nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan—nilai-nilai yang kini semakin jarang ditemukan di tengah gaya hidup modern.
Bagi blogger wisata, pengalaman ini sangat potensial untuk dikemas sebagai wisata budaya berbasis kearifan lokal yang autentik dan bernilai tinggi.
Tips Berkunjung ke Ritual Adus Sumur Pitu
Jika Anda tertarik menjadikan ritual ini sebagai destinasi wisata religi, perhatikan beberapa hal berikut:
- Gunakan pakaian sopan dan tertutup
- Jaga sikap dan tutur kata selama berada di area makam
- Ikuti arahan juru kunci atau warga setempat
- Hindari niat yang bertentangan dengan nilai religi dan budaya
Dengan menghormati tradisi lokal, pengalaman wisata Anda akan terasa lebih bermakna dan berkesan.
Ritual adus sumur pitu di Makam Sunan Gunung Jati bukan sekadar tradisi lama, melainkan ikon wisata religi Cirebon yang terus hidup hingga kini. Perpaduan antara sejarah, spiritualitas, dan budaya lokal menjadikan ritual ini layak masuk dalam daftar destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi.
Bagi pencinta wisata religi dan sejarah, Cirebon menawarkan lebih dari sekadar perjalanan—ia menghadirkan pengalaman batin yang mendalam melalui tradisi yang dijaga lintas generasi.

