![]() |
| Rujak Ciherang Banjaran (sumber : gmaps/Fernando Mulia) |
Berwisata ke Bandung rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner legendarisnya. Di antara deretan jajanan populer, Rujak Ciherang Banjaran hadir sebagai salah satu ikon kuliner tradisional yang tak lekang oleh waktu. Usianya bahkan hampir menyentuh satu abad, namun cita rasanya tetap setia pada racikan awal yang diwariskan turun-temurun sejak tahun 1918.
Rujak ini bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari perjalanan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Banjaran, Kabupaten Bandung. Setiap cobek yang diulek, setiap aroma honje yang tercium, seakan membawa pengunjung kembali ke masa lalu.
Jejak Sejarah Rujak Ciherang yang Dimulai dari Gerobak Keliling
Kisah Rujak Ciherang bermula dari tangan terampil seorang perempuan bernama Mak Empeuh. Pada awal abad ke-20, ia menjajakan rujak racikannya secara sederhana dengan cara berkeliling di sekitar Kampung Ciherang, Banjaran. Saat itu, kawasan tersebut ramai oleh para pekerja proyek jalur kereta api Bandung–Ciwidey.
Tanpa promosi besar-besaran, rujak buatan Mak Empeuh perlahan dikenal luas karena rasanya yang berbeda. Dari mulut ke mulut, nama “Rudjak Tjiherang” mulai melekat sebagai rujak khas dengan aroma dan rasa yang tidak ditemukan di tempat lain.
Seiring waktu, usaha keluarga ini berkembang. Jika dahulu dijajakan secara keliling, sejak sekitar tahun 1990-an Rujak Ciherang mulai menetap di satu lokasi di jalur Banjaran–Soreang. Meski tempatnya berubah, resep aslinya tetap dipertahankan, diwariskan hingga generasi keempat.
Rahasia Kelezatan: Bumbu Tanpa Air dan Aroma Honje yang Khas
Keunikan Rujak Ciherang terletak pada bumbunya. Berbeda dari rujak pada umumnya, bumbu rujak Ciherang dibuat tanpa tambahan air, sehingga teksturnya lebih kental dan tahan lama. Inilah salah satu alasan mengapa rujak ini bisa dibawa bepergian jauh tanpa kehilangan rasa.
Komposisi bumbunya sederhana namun kaya karakter: gula merah, cabai rawit, garam, asam, dan yang paling khas adalah honje atau kecombrang. Aroma honje yang tajam dan segar memberikan sensasi unik sejak suapan pertama — pedas, manis, asam, dan harum berpadu seimbang.
Buah-buahan yang digunakan pun dipilih dengan cermat, disajikan segar, dan diulek langsung menggunakan cobek tradisional. Proses ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman kuliner autentik khas Sunda.
Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat
![]() |
| Rujak Ciherang Banjaran (sumber : Nia Yunia) |
Pengakuan ini menegaskan bahwa Rujak Ciherang bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang pelestarian budaya lokal. Di tengah gempuran makanan modern, rujak ini tetap berdiri dengan identitasnya sendiri.
Rujak Ciherang Hari Ini: Kuliner Wajib Saat Wisata ke Bandung Selatan
Kini, Rujak Ciherang menjadi salah satu tujuan wisata kuliner wajib di Bandung Selatan. Tak hanya dikunjungi warga lokal, banyak wisatawan dari luar kota yang sengaja mampir untuk mencicipi rujak legendaris ini.
Menariknya, Rujak Ciherang juga mengikuti perkembangan zaman. Selain disajikan langsung di tempat, bumbunya kini tersedia dalam bentuk kemasan, memudahkan wisatawan membawa pulang sebagai oleh-oleh khas Bandung.
Di balik kesederhanaannya, Rujak Ciherang adalah bukti bahwa kuliner tradisional bisa bertahan dan terus dicintai tanpa harus kehilangan jati diri.
Lebih dari Sekadar Rujak
Menikmati Rujak Ciherang bukan hanya soal rasa pedas dan manis yang menggugah selera. Ia adalah pengalaman menyantap sejarah, budaya, dan cerita panjang sebuah keluarga yang menjaga warisan leluhur dengan penuh konsistensi.
Jika kamu berencana menjelajah Bandung dan ingin merasakan kuliner autentik dengan cerita kuat di baliknya, Rujak Ciherang Banjaran layak masuk dalam daftar kunjunganmu.


