![]() |
| Kolontong khas Tasikmalaya (Astri Nurhidayati) |
Berwisata ke Jawa Barat rasanya belum lengkap tanpa menyusuri jejak kuliner tradisionalnya. Di balik popularitas batagor, surabi, atau peuyeum, ada satu camilan klasik yang masih setia menjaga rasa dan tradisi: kolontong. Jajanan khas Sunda ini mungkin tak selalu muncul di etalase modern, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Kolontong bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah bagian dari cerita perjalanan, memori masa kecil, dan identitas kuliner masyarakat Sunda yang masih bertahan hingga kini.
Mengenal Kolontong, Camilan Tradisional Sarat Nilai Budaya
Kolontong dikenal sebagai jajanan manis dengan tekstur renyah yang dibuat dari bahan sederhana, seperti tepung ketan dan gula. Proses pembuatannya masih banyak dilakukan secara tradisional, mulai dari pengolahan adonan hingga tahap pemasakan.
Beberapa daerah di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, hingga wilayah Banten, dikenal sebagai tempat di mana kolontong masih bisa ditemukan dengan mudah. Biasanya, jajanan ini dijajakan di pasar tradisional, pusat oleh-oleh daerah, atau dibuat khusus saat momen tertentu.
Secara tampilan, kolontong memang sederhana. Namun ketika digigit, sensasi renyah berpadu dengan rasa manis yang pas langsung meninggalkan kesan hangat, cocok dinikmati sambil menyeruput kopi atau teh hangat.
Kolontong dalam Tradisi dan Kehidupan Masyarakat Sunda
Bagi masyarakat Sunda, kolontong memiliki makna lebih dari sekadar camilan. Jajanan ini kerap hadir dalam perayaan hari besar seperti Lebaran, acara keluarga, hingga hajatan adat. Kehadirannya sering kali menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Tak heran jika banyak orang Sunda yang mengaitkan kolontong dengan nostalgia. Setiap gigitan seolah membawa kembali ingatan akan suasana kampung halaman, dapur nenek, dan kebersamaan keluarga di masa lalu.
Daya Tarik Kolontong untuk Wisata Kuliner
Dalam konteks wisata, kolontong punya potensi besar sebagai bagian dari wisata kuliner berbasis budaya lokal. Keunikan rasa, proses pembuatan tradisional, serta ceritanya yang lekat dengan kehidupan masyarakat menjadikannya menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman autentik.
Wisatawan yang berkunjung ke Jawa Barat bukan hanya mencari tempat indah untuk berfoto, tetapi juga ingin mencicipi kuliner yang punya cerita. Di sinilah kolontong menemukan relevansinya — sederhana, jujur, dan penuh makna.
Mengunjungi pasar tradisional atau sentra oleh-oleh daerah, lalu menemukan kolontong yang dibuat langsung oleh warga lokal, sering kali justru menjadi pengalaman wisata yang paling berkesan.
Menjaga Eksistensi Jajanan Tradisional di Era Modern
Di tengah gempuran makanan modern dan camilan instan, keberadaan kolontong memang tidak sepopuler dulu. Namun, masih ada para pelaku UMKM dan masyarakat lokal yang setia mempertahankan resep turun-temurun ini.
Upaya pelestarian kuliner seperti kolontong bukan hanya soal menjaga rasa, tetapi juga menjaga identitas daerah. Dengan memperkenalkan kolontong melalui blog wisata, media digital, dan konten perjalanan, jajanan tradisional ini bisa kembali dikenal oleh generasi muda dan wisatawan luar daerah.
Kolontong adalah bukti bahwa kekayaan wisata Jawa Barat tidak hanya terletak pada alam dan budayanya, tetapi juga pada kuliner tradisional yang penuh cerita. Saat berkunjung ke Tanah Sunda, luangkan waktu untuk mencicipi jajanan klasik ini.
Karena dalam setiap rasa manis dan renyah kolontong, tersimpan kisah tentang tradisi, kebersamaan, dan perjalanan panjang kuliner lokal yang patut dijaga.

