Mengenal Seni Beluk Sumedang, Tembang Buhun Bernada Tinggi yang Kini Mulai Langka

Jabar Tourism
0

Kesenian Tradisional Beluk di Sumedang (Youtube/Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)

Di tengah derasnya arus kesenian modern, Jawa Barat sebenarnya masih menyimpan warisan budaya vokal yang unik dan penuh karakter. Salah satunya adalah Seni Beluk, sebuah kesenian tradisional Sunda yang memiliki ciri khas pada olah suara bernada tinggi dengan lengkingan melengkung dan alunan melodi yang berliku-liku. Menariknya, teknik vokal yang terdengar kompleks ini justru sebagian besar dibawakan oleh para lelaki.


Bagi masyarakat Sumedang, kesenian Beluk bukanlah hal baru. Meski kini mulai jarang terdengar, beberapa kelompok seni masih mempertahankan tradisi ini, salah satunya berada di wilayah Cirangkong. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan budaya buhun masih hidup, meskipun menghadapi tantangan zaman.


Jejak Panjang Seni Beluk di Tatar Sunda

Berdasarkan catatan dalam buku Dokumentasi Potensi Budaya Sumedang, seni Beluk telah berkembang di Tatar Sunda sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, kesenian ini diyakini sebagai salah satu bentuk awal seni vokal Sunda yang kemudian melahirkan berbagai tradisi tembang lainnya.


Perkembangan Beluk tidak terlepas dari masuknya tradisi tembang wawacan, yakni cerita panjang yang dilagukan menggunakan pola pupuh sebagai struktur syairnya. Kesenian ini disebut-sebut mulai diperkenalkan oleh Wiratanu I, atau dikenal sebagai Dalem Cikundul Cianjur, tokoh yang berasal dari Talaga, Majalengka. Ia merupakan putra Wangsagoparana, salah satu tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat.


Dalam perjalanan hidupnya, Wiratanu I yang memiliki hubungan dengan lingkungan Keraton Cirebon kerap menghabiskan waktu bersama rombongannya di area pertanian setelah menetap di Cianjur sekitar tahun 1677. Saat beristirahat selepas bekerja di ladang, mereka melantunkan wawacan dengan nada khas sebagai hiburan sekaligus pengusir rasa takut, mengingat pada masa itu lingkungan masih dipenuhi binatang buas. Dari kebiasaan inilah seni Beluk perlahan berkembang di masyarakat.


Sementara itu, menurut budayawan Aki Wangsa, Beluk juga lahir dari tradisi masyarakat agraris yang biasa bernyanyi saat mengolah sawah atau membajak ladang. Nyanyian bernada tinggi yang dilantunkan secara spontan kemudian berkembang menjadi bentuk kesenian vokal yang terstruktur.


Tembang Buhun yang Mengandalkan Kekuatan Suara

Secara esensi, Beluk merupakan tembang buhun atau tembang kuno yang menitikberatkan pada teknik vokal, khususnya permainan tinggi rendah nada. Tidak seperti kebanyakan seni pertunjukan tradisional lainnya, Beluk tidak menggunakan alat musik pengiring. Seluruh kekuatan pertunjukan bertumpu pada kemampuan suara para pelantunnya.


Dalam penyajiannya, seorang juru ilo biasanya membuka pertunjukan dengan membacakan pupuh tertentu, kemudian dilanjutkan oleh juru beluk yang mengembangkan lantunan tersebut menjadi alunan vokal panjang dan melengking.


Syair yang dibawakan berasal dari wawacan atau cerita babad yang disusun dalam berbagai pupuh, seperti Kinanti, Asmaradana, Pucung, Dangdanggula, Balabak, Magatru, Mijil, hingga Ladrang. Isi cerita yang dilagukan pun beragam, tergantung penguasaan pelantunnya, mulai dari kisah Wawacan Ogin, Rengganis, Babar Nabi, Mundinglaya, Lutung Kasarung, hingga legenda Ciung Wanara.


Fungsi Sosial dalam Tradisi Masyarakat

Seni Beluk bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari tradisi sosial masyarakat Sunda. Pertunjukan biasanya digelar di dalam rumah dalam berbagai acara adat, seperti kelahiran bayi, khitanan, pernikahan, syukuran keluarga, hingga resepsi tertentu. Kehadirannya menjadi simbol doa, ungkapan syukur, sekaligus sarana kebersamaan masyarakat.


Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi Beluk mulai tergerus. Minimnya regenerasi pelaku seni, kurangnya pembinaan dari lembaga terkait, serta menurunnya kemampuan generasi muda dalam memahami pupuh menjadi tantangan besar bagi kelestariannya. Di sisi lain, dominasi hiburan modern membuat kesenian tradisional seperti Beluk semakin jarang dikenal.


Tantangan Pelestarian di Era Modern

Saat ini, Seni Beluk bisa dikatakan berada di persimpangan antara bertahan atau perlahan dilupakan. Tanpa adanya kader penerus dan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, kesenian vokal khas Sunda ini berisiko hilang dari ingatan generasi mendatang.


Padahal, Beluk bukan sekadar seni suara, melainkan rekaman sejarah budaya masyarakat Sunda yang merepresentasikan kehidupan agraris, spiritualitas, serta tradisi lisan yang kaya makna. Upaya pelestarian melalui edukasi budaya, dokumentasi, hingga pengenalan kepada generasi muda menjadi langkah penting agar tembang buhun ini tetap hidup.


Di Sumedang sendiri, seni Beluk masih tersebar di beberapa kecamatan dan terus dijaga oleh para pelaku seni tradisi. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di balik modernisasi, masih ada suara masa lalu yang layak untuk terus didengar dan diwariskan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)