Ngaruat Gunung Manglayang: Tradisi Sakral Menjaga Harmoni Alam dan Kehidupan

Jabar Tourism
0

Ngaruat Gunung Manglayang: Tradisi Sakral Menjaga Harmoni Alam dan Kehidupan (facebook/Nunuh Sutisna)

Kabut tipis yang menggantung di kawasan Batu Kuda, Gunung Manglayang, Bandung Timur, menjadi saksi sebuah tradisi yang terus hidup di tengah perubahan zaman. Pagi itu, puluhan warga tampak sibuk menata sesajen dan perlengkapan ritual. Udara sejuk pegunungan seolah memperkuat suasana khidmat upacara ngaruat Gunung Manglayang, sebuah tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.


Upacara ngaruat biasanya dilaksanakan setiap awal tahun, tepatnya pada bulan Februari. Bagi warga sekitar Gunung Manglayang, ritual ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya.


Venol, anggota Divisi Atikan Manglayang, menjelaskan bahwa ngaruat memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurutnya, ngaruat adalah proses simbolik untuk “memotong” atau menjauhkan berbagai unsur negatif, baik yang melekat pada diri manusia maupun yang berpotensi merusak lingkungan sekitar.


“Kalau ngaruat itu aktivitas untuk membersihkan atau menjauhkan hal-hal negatif, agar kehidupan kembali seimbang,” ujar Venol.


Secara historis, tradisi ngaruat berakar dari kisah dalam naskah klasik Sudamala. Cerita tersebut mengisahkan tokoh Sadewa yang melakukan ruatan terhadap Durganini, istri Dewa Siwa, guna membebaskannya dari kutukan. Nilai-nilai penyucian dan pemulihan keseimbangan dari kisah inilah yang kemudian diadaptasi dalam praktik ngaruat hingga sekarang.


Menariknya, tradisi ini tetap lestari meski mengalami perjumpaan dengan berbagai perubahan budaya dan kepercayaan. Ketika ajaran Islam mulai masuk ke wilayah ini, ngaruat tidak ditinggalkan. Justru sebaliknya, tradisi tersebut berakulturasi tanpa menghilangkan esensi dan makna aslinya.


“Tradisi ngaruat tetap dijalankan, hanya disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa mengubah nilai dasarnya,” jelas Venol.


Rangkaian upacara ngaruat di Gunung Manglayang berlangsung melalui beberapa tahapan. Prosesi diawali dengan ritual memohon izin atau mipit amit yang hanya diikuti oleh juru kunci dan para sesepuh. Tahapan ini bersifat tertutup dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.


Pada akhir bulan Februari, rangkaian dilanjutkan dengan ruatan ageung atau ruatan besar. Pada tahap inilah masyarakat umum, komunitas pecinta alam, hingga pemerhati budaya turut dilibatkan. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan bahwa ngaruat tidak hanya milik komunitas adat, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat luas.


Sebelum prosesi utama digelar, para sesepuh biasanya menjalani puasa dan laku spiritual tertentu. Selain doa dan ritual simbolik, upacara ngaruat juga sarat dengan pesan kepedulian lingkungan. Setelah prosesi doa dan pemotongan hewan, masyarakat bersama-sama melakukan penanaman pohon di kawasan hutan sekitar Gunung Manglayang.


Jenis pohon yang ditanam pun bukan sembarangan. Pohon-pohon dari keluarga ficus seperti beringin, kiara, bunut, dan koang dipilih karena dianggap memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama sebagai penyimpan air dan penyangga tanah.


“Makna utama ngaruat bukan hanya soal spiritual, tapi juga tindakan nyata menjaga alam. Gunung adalah sumber kehidupan karena air berasal dari sana. Jika gunung rusak, kehidupan di bawahnya pasti ikut terdampak,” tegas Venol.


Di tengah arus modernisasi, tidak dapat dimungkiri bahwa tradisi seperti ngaruat kerap dipandang sebelah mata. Sebagian masyarakat menganggap ritual adat sudah tidak relevan dengan kehidupan masa kini. Namun, warga Gunung Manglayang justru memilih mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya sekaligus sarana edukasi konservasi lingkungan.


Nilai-nilai ngaruat terus diwariskan kepada generasi muda. Anak-anak kerap diajak menyaksikan bahkan ikut terlibat dalam prosesi. Melalui pengalaman langsung, mereka belajar tentang kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.


Bagi masyarakat Gunung Manglayang, ngaruat bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah bagian dari jati diri dan cara hidup. Selama masih ada kesadaran untuk menjaga alam dan melaksanakan ritual dengan ketulusan, tradisi ngaruat diyakini akan terus hidup, mengakar kuat di kaki Gunung Manglayang, menjadi pengingat bahwa harmoni alam dan manusia harus selalu dijaga bersama.


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)