![]() |
| Gereja Santo Yusuf Cirebon (katolikana) |
Cirebon selama ini dikenal sebagai kota penting dalam sejarah penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa. Namun di balik identitas tersebut, tersimpan kisah lain yang tak kalah menarik. Di kota pelabuhan yang pernah menjadi pusat perdagangan ini berdiri gereja Katolik pertama di Jawa Barat, yakni Gereja Santo Yusuf Cirebon.
Secara geografis, Cirebon berada di jalur strategis pantai utara Jawa bagian barat. Pada abad ke-19, aktivitas perdagangan berkembang pesat, termasuk industri gula yang hasil produksinya bahkan menembus pasar Amerika. Dinamika ekonomi inilah yang kemudian membuka jalan bagi masuknya komunitas Katolik dan berdirinya tempat ibadah permanen.
Perintis perkembangan Katolik di Cirebon disebut-sebut adalah seorang pengusaha gula bernama Louis Theodorus Gonsalves. Pada 26 Desember 1878, ia membeli sebidang tanah di kawasan Lemahwungkuk, yang kini beralamat di Jalan Yos Sudarso No. 20, Kota Cirebon. Di atas lahan inilah cikal bakal Gereja Santo Yusuf Cirebon dibangun.
Tahun 1878 menjadi tonggak penting karena Cirebon ditetapkan sebagai stasi pertama di Jawa Barat dan masih berada dalam wilayah Vicariatus Apostolicus Bataviensis, sebuah otoritas gerejawi di daerah misi yang belum berstatus keuskupan penuh. Pastor A.v. Moorsel, SJ tercatat sebagai pastor pertama yang melayani umat di Cirebon.
Proses pembangunan gereja berlangsung sekitar dua tahun dan rampung pada 1880. Peresmian dilakukan pada 10 November 1880 oleh Mgr. Adam Carel Claessens. Sejak saat itu, Gereja Santo Yusuf resmi menjadi gereja Katolik pertama di Jawa Barat sekaligus embrio lahirnya Keuskupan Bandung. Di Cirebon sendiri, gereja ini tercatat sebagai bangunan gereja tertua kedua setelah Gereja Kristen Pasundan.
Pada masa awal, pelayanan gereja ditujukan terutama bagi warga Eropa beragama Katolik yang tinggal di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Wilayah pelayanannya bahkan meluas hingga Tegal, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Awalnya dikelola para Pastor Jesuit, namun sejak 1927 tongkat estafet penggembalaan beralih kepada para Imam Salib Suci (OSC).
Hingga kini, bangunan bergaya Eropa tersebut masih berdiri kokoh. Fasad depan dan salib di puncak gereja tetap dipertahankan, sementara sejumlah penyesuaian dilakukan tanpa menghilangkan karakter aslinya. Lebih dari sekadar tempat ibadah, Gereja Santo Yusuf Cirebon menjadi saksi perjalanan sejarah Gereja Katolik di Jawa Barat dan warisan arsitektur religius yang terus hidup di tengah kota pesisir ini.

