![]() |
| Situs Candi Bojongmenje Bandung (id.sejarah.net) |
Di tengah kawasan permukiman di Kabupaten Bandung, tersimpan sebuah jejak peradaban kuno yang masih menyimpan banyak misteri. Situs ini dikenal sebagai Situs Bojongmenje, sebuah situs arkeologi yang hingga kini masih terus diteliti oleh para ahli. Meski belum setenar candi-candi besar di Pulau Jawa, keberadaan situs ini menjadi bukti bahwa wilayah Bandung juga pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Nusantara.
Secara administratif, Situs Bojongmenje berada di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Hingga saat ini proses penelitian dan pemugaran masih berlangsung, sehingga bentuk asli maupun fungsi bangunan candinya belum dapat dipastikan secara utuh. Namun, temuan-temuan awal dari penggalian telah memberikan gambaran menarik mengenai usia dan karakter bangunan tersebut.
Para arkeolog menemukan bahwa bangunan candi ini tersusun dari batu andesit, dengan perkiraan ukuran dasar sekitar enam meter pada tiap sisinya. Dari sisa-sisa struktur yang ditemukan, tampak bahwa konstruksi candi ini sangat sederhana. Dindingnya hanya terdiri dari satu lapis batu tanpa ukiran atau ornamen dekoratif. Kesederhanaan ini justru menjadi petunjuk penting bagi para peneliti. Banyak ahli menduga bahwa Candi Bojongmenje kemungkinan dibangun lebih awal dibandingkan candi-candi megah seperti Candi Prambanan maupun Candi Borobudur.
Menariknya, hingga kini belum ditemukan catatan tertulis yang secara langsung menyebut keberadaan candi ini dalam naskah kuno. Berdasarkan analisis arkeologis, para peneliti memperkirakan bangunan ini berasal dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi, sebuah periode penting dalam perkembangan peradaban Hindu-Buddha di Jawa Barat.
Kisah penemuan situs ini pun cukup unik. Situs Bojongmenje pertama kali ditemukan pada 18 Agustus 2002 secara tidak sengaja oleh warga setempat yang sedang mencari tanah untuk menguruk jalan gang di sekitar lokasi. Saat menggali tanah di lahan milik seorang warga bernama Anen, mereka melihat kerumunan semut yang mencurigakan. Setelah digali hingga kedalaman sekitar setengah meter, ditemukan rongga tanah dengan susunan batu yang tampak rapi di sekelilingnya. Penggalian kemudian dilanjutkan hingga kedalaman sekitar 80 sentimeter sebelum akhirnya dihentikan dan dilaporkan kepada pihak berwenang.
Sejak saat itu, penelitian arkeologi mulai dilakukan secara bertahap. Hingga akhir 2005, proses penggalian masih berlangsung karena area situs berada di tengah perkampungan warga. Menariknya, bentuk area penggalian yang cekung membuat lokasi ini sekilas tampak seperti kolam.
Untuk menjaga kelestariannya, area candi kini dipagari guna mencegah kerusakan atau pencurian artefak. Di sekitar lokasi juga dibangun fasilitas sederhana yang digunakan sebagai tempat pencatatan penelitian serta penyimpanan sementara benda-benda temuan dari situs tersebut.
Bagi pecinta wisata sejarah di Bandung, Situs Bojongmenje menjadi destinasi yang menarik untuk mengenal sisi lain warisan budaya Sunda. Meski masih dalam tahap penelitian, situs ini membuka jendela kecil menuju masa lalu yang pernah hidup di tanah Bandung ratusan tahun silam.

