![]() |
| Ritual Mipit di Kasepuhan Sinar Resmi (facebook/Saragosa Gia) |
Di lereng Gunung Halimun Salak, Sukabumi, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sini, tepatnya di Kasepuhan Sinar Resmi, padi bukan sekadar komoditas pangan, melainkan entitas suci yang diperlakukan dengan penuh hormat. Puncaknya terpancar saat ritual Mipit digelar—sebuah tradisi memetik padi pertama yang menandai harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Bagi masyarakat luar, panen mungkin hanya urusan arit dan karung. Namun di Sinar Resmi, memanen adalah prosesi spiritual. Ritual Mipit, yang berasal dari kata mipit (memetik), merupakan upacara "meminta izin" kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Sri) sebelum bulir-bulir kuning mulai dipisahkan dari batangnya.
Warga kasepuhan percaya bahwa padi memiliki "nyawa". Itulah mengapa, alat yang digunakan wajib berupa ani-ani, sebilah pisau kecil yang disembunyikan di telapak tangan. Penggunaan ani-ani bertujuan agar sang padi tidak merasa kesakitan atau terkejut saat dipotong. Sebuah gestur lembut yang mencerminkan etika tinggi masyarakat Sunda Wiwitan terhadap alam.
Lantunan Doa di Tengah Hamparan Kuning
Prosesi dimulai saat matahari belum terlalu tinggi. Abah Asep Nugraha, sang pemimpin adat, memimpin rombongan menuju petak sawah yang telah ditentukan. Wangi kemenyan menyeruak di antara semilir angin, berpadu dengan rapalan doa-doa kuno dalam bahasa Sunda yang puitis.
Sesajen berupa aneka kue pasar, kopi, hingga hasil bumi lainnya diletakkan di sudut sawah sebagai simbol penghormatan. Setelah doa dipanjatkan, Abah akan memotong beberapa ikat padi terbaik yang nantinya akan dijadikan indung pare (padi induk). Padi ini tidak akan dimakan, melainkan disimpan di puncak Leuit (lumbung) sebagai "bibit keberkahan" untuk musim tanam berikutnya.
Ketahanan Pangan yang Abadi
Yang menarik, Ritual Mipit adalah gerbang menuju kedaulatan pangan yang luar biasa. Di Sinar Resmi, padi dilarang keras untuk diperjualbelikan. Hasil panen disimpan di ratusan leuit yang berjejer rapi di sekitar desa. Sistem ini terbukti ampuh; mereka tidak pernah kekurangan pangan meski musim kemarau melanda atau harga beras di pasar melonjak tajam.
Mengunjungi Kasepuhan Sinar Resmi saat ritual Mipit memberikan perspektif baru bagi wisatawan. Kita diajak merenung bahwa pangan bukan soal angka produksi semata, melainkan soal rasa syukur. Di sini, kemewahan bukan terletak pada teknologi modern, melainkan pada ketenangan hati saat melihat lumbung-lumbung terisi penuh tanpa ada satu pun bulir yang terbuang sia-sia.
Jika Anda berencana berkunjung, pastikan datang saat musim panen tiba (sekitar pertengahan tahun). Rasakan sensasi menyentuh bulir padi dengan ani-ani, dan pulanglah dengan pemahaman baru tentang arti "menghargai nasi di atas piring kita."

