Keripik Tike Khas Indramayu: Camilan Unik dari Umbi Rawa yang Gurih dan Alami

Jabar Tourism
0

Keripik Tike Khas Indramayu (Disparbud jabar)

Di jalur Pantura yang membentang di pesisir utara Jawa Barat, ada satu hal yang selalu berhasil mencuri perhatian para pelintas: ragam kuliner khas yang menggoda lidah. Salah satu yang paling unik datang dari Kabupaten Indramayu—sebuah camilan tradisional bernama keripik tike. Meski belum setenar oleh-oleh lain, makanan ini justru menyimpan cerita menarik dari proses pembuatannya yang masih alami hingga cita rasanya yang khas.


Keripik tike merupakan olahan berbahan dasar umbi tanaman tike, sejenis rumput liar yang banyak tumbuh di area berlumpur dan rawa-rawa. Di Kecamatan Losarang, tanaman ini bukan sekadar gulma, melainkan sumber penghidupan bagi sebagian warga. Dua desa, yakni Jumbleng dan Pangkalan, dikenal sebagai sentra produksi keripik tike yang hingga kini masih mempertahankan cara pengolahan tradisional.


Proses pembuatannya terbilang sederhana, namun membutuhkan ketelatenan. Umbi tike yang telah dipanen terlebih dahulu dibersihkan dari lumpur, lalu dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga benar-benar kering. Setelah itu, umbi yang berwarna kehitaman tersebut dipipihkan dengan cara digeprek—mirip seperti proses pembuatan emping. Tahap akhir, umbi yang sudah pipih digoreng hingga renyah tanpa tambahan bahan pengawet, menjadikannya camilan yang relatif aman dikonsumsi.


Cita rasa keripik tike cukup sulit dijelaskan. Gurihnya tidak berlebihan, dengan sensasi renyah yang ringan dan sedikit rasa khas dari umbi rawa yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran jika camilan ini mulai dilirik wisatawan, terutama dari Jakarta dan Bogor, yang kerap memesannya sebagai oleh-oleh unik dari Indramayu.


Menurut salah satu perajin di Desa Jumbleng, bahan baku tike mentah biasanya dibeli dari pengepul dengan harga sekitar Rp25.000 per kilogram. Setelah melalui proses panjang, keripik tike siap jual dibanderol sekitar Rp100.000 per kilogram. Harga tersebut sebanding dengan proses produksi yang masih manual serta ketersediaan bahan yang tidak selalu melimpah.


Bagi Anda yang sedang menjelajahi Indramayu atau melintas di jalur Pantura, keripik tike bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang berbeda dari biasanya. Di balik kesederhanaannya, camilan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat pesisir yang mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tinggi. Sebuah pengalaman rasa yang tidak hanya lezat, tetapi juga sarat cerita.


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)