Mengenal Ngertakeun Bumi Lamba, Ritual Sakral di Tangkuban Perahu yang Merawat Harmoni Alam dan Manusia

Jabar Tourism
0

Upacara Adat Ngertakeun Bumi Lamba (Instagram/@panggelar_ngertakeunbumilamba)

Mengenal Ngertakeun Bumi Lamba di Tangkuban Perahu, ritual adat Sunda yang mengajarkan harmoni manusia dan alam.

BANDUNG BARAT - Gunung Tangkuban Perahu tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam favorit di Jawa Barat. Di balik keindahan kawah dan panorama pegunungannya, kawasan ini juga menjadi tempat berlangsungnya salah satu tradisi budaya Sunda yang sarat makna, yaitu Upacara Adat Ngertakeun Bumi Lamba.


Pada Minggu, 21 Juni 2026, ritual tahunan yang memasuki penyelenggaraan ke-18 ini kembali digelar di kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Bandung Barat. Upacara tersebut menjadi momentum spiritual sekaligus budaya yang mengajak masyarakat untuk merefleksikan hubungan antara manusia dan alam semesta.


Secara harfiah, Ngertakeun Bumi Lamba memiliki makna memelihara serta menyejahterakan bumi yang luas. Filosofi ini lahir dari pandangan hidup masyarakat Sunda yang meyakini bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam. Karena itu, menjaga keseimbangan lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan.


Nilai tersebut tercermin dalam berbagai rajah, kidung, dan ajaran leluhur Sunda yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu ungkapan yang sering dikaitkan dengan tradisi ini berbunyi, “Urang jeung alam taya antarana, mun aya antarana urang rek cicing dimana?” yang berarti manusia dan alam tidak memiliki batas pemisah. Pesan ini menegaskan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kelestarian alam.


Lebih dari sekadar ritual adat, Ngertakeun Bumi Lamba juga menjadi sarana untuk mengenal akar peradaban Sunda. Dalam pandangan budaya Sunda, kehidupan ideal adalah kehidupan yang menjunjung tinggi etika, pengetahuan, serta penghormatan terhadap alam. Konsep “Ibu Bumi, Bapak Angkasa” menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dengan sumber kehidupan yang harus dijaga dan dirawat.


Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya rasa syukur atau nganuhunkeun. Masyarakat diajak menyadari bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Sang Pencipta melalui alam yang menyediakan sumber kehidupan. Melalui kesadaran tersebut, manusia diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih damai, sejahtera, dan selaras dengan lingkungan sekitar.


Pesan pelestarian alam menjadi salah satu inti utama dalam pelaksanaan Ngertakeun Bumi Lamba. Nilai ini sejalan dengan ajaran Prabu Siliwangi yang tertuang dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Dalam ajaran tersebut ditekankan pentingnya menjaga hutan, melindungi sumber mata air, merawat tempat-tempat suci, hingga memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.


Prosesi upacara yang dimulai pada pagi hari ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada leluhur, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa. Harapan yang dibawa melalui ritual tersebut adalah terciptanya alam yang lestari, tanah yang subur, sumber air yang terjaga, serta kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.


Bagi wisatawan yang tertarik pada wisata budaya dan kearifan lokal, Ngertakeun Bumi Lamba menawarkan pengalaman yang berbeda. Tradisi ini bukan hanya menyuguhkan keindahan prosesi adat, tetapi juga mengajak setiap orang untuk memahami pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)