![]() |
| Pemandangan Salah Satu Sisi Viaduct Stasiun Tanjungsari Sumedang (x.com/Irps_BD) |
Jelajahi sejarah Tanjungsari Sumedang, dari bekas pusat pemerintahan hingga destinasi wisata bersejarah di Priangan.
SUMEDANG - Kabupaten Sumedang tidak hanya dikenal dengan tahu legendaris dan panorama alamnya yang memikat. Di bagian barat wilayah ini, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah Priangan, yakni Tanjungsari. Kecamatan yang kini ramai sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pendidikan tersebut ternyata memiliki peran penting dalam perkembangan pemerintahan, pertanian, hingga transportasi di Jawa Barat.
Bagi wisatawan yang menyukai wisata sejarah, Tanjungsari menawarkan cerita menarik yang dapat membawa pengunjung menelusuri perjalanan waktu dari era kolonial hingga masa modern.
Konon, nama Tanjungsari berasal dari pohon tanjung yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut. Di bawah rindangnya pepohonan itu, masyarakat sering berkumpul, berdagang, dan berinteraksi. Aktivitas sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi pusat kehidupan yang membentuk identitas wilayah Tanjungsari hingga sekarang.
Jauh sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Sumedang, Tanjungsari pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Parakanmuncang. Pada tahun 1810, pemerintahan kolonial memindahkan ibu kota kabupaten ke wilayah yang saat ini dikenal sebagai Tanjungsari. Lokasinya yang dekat dengan jalur strategis Jalan Raya Pos menjadikan kawasan ini memiliki peran penting dalam mobilitas dan administrasi pada masanya.
Meski status tersebut tidak berlangsung lama akibat perubahan kebijakan pemerintahan kolonial Inggris, jejak sejarahnya masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Tanjungsari.
Selain dikenal sebagai pusat pemerintahan tempo dulu, Tanjungsari juga memiliki warisan pendidikan yang berharga. Pada tahun 1914, pemerintah kolonial mendirikan sekolah pertanian yang kini dikenal sebagai SMK PPN Tanjungsari. Sekolah ini termasuk salah satu lembaga pendidikan pertanian tertua di Indonesia dan hingga kini masih berperan dalam mencetak generasi muda di bidang agrikultur.
Perkembangan sektor pertanian dan perkebunan di kawasan ini juga mendorong pembangunan jalur kereta api pada awal abad ke-20. Rel sepanjang lebih dari 11 kilometer menghubungkan Rancaekek dengan Tanjungsari untuk mengangkut hasil perkebunan seperti kopi, karet, dan tembakau. Jalur tersebut sempat menjadi urat nadi perekonomian sekaligus mendukung kebutuhan logistik militer pada masa kolonial.
Meskipun rel kereta api telah dibongkar pada masa pendudukan Jepang, bangunan bekas Stasiun Tanjungsari masih dapat ditemukan hingga saat ini. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta sejarah dan fotografi yang ingin mengabadikan jejak masa lalu.
Setelah Indonesia merdeka, Tanjungsari terus berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Sumedang Barat. Kehadiran KUD Tandangsari yang dikenal sebagai salah satu koperasi susu sapi perah terbesar di Jawa Barat turut memperkuat sektor ekonomi masyarakat setempat.
Kini, Tanjungsari tidak hanya menjadi kawasan persinggahan menuju Jatinangor atau Sumedang kota. Lebih dari itu, wilayah ini merupakan destinasi wisata sejarah yang menyimpan kisah tentang pemerintahan, pendidikan, transportasi, dan perkembangan ekonomi Priangan. Bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain Sumedang, Tanjungsari adalah tempat yang layak masuk dalam daftar perjalanan berikutnya.***

