![]() |
| Kesenian Bangreng Sumedang (Galamedia News) |
Mengenal sejarah Bangreng Sumedang, seni tradisional Sunda yang memadukan hiburan rakyat dan dakwah Islam sejak abad ke-16.
SUMEDANG - Kabupaten Sumedang tidak hanya dikenal melalui kuliner tahunya yang legendaris, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang sarat nilai sejarah. Salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga kini adalah Bangreng, sebuah kesenian tradisional yang memadukan unsur hiburan rakyat dengan nilai-nilai keagamaan. Kesenian ini lahir dari perjalanan panjang budaya Sunda yang berkelindan dengan proses penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.
Secara historis, akar Bangreng dapat ditelusuri hingga kesenian Terebang yang berkembang sekitar abad ke-16. Pada masa itu, alat musik rebana berukuran besar digunakan sebagai media dakwah Islam. Tradisi tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati beserta para utusannya di wilayah Sumedang.
Seiring berjalannya waktu, kesenian Terebang mengalami perkembangan menjadi Gembyung. Pertunjukan ini tampil lebih dinamis dengan tambahan berbagai alat musik seperti gendang, gong, kecrek, dan tarompet. Transformasi tersebut membuat pertunjukan semakin diminati masyarakat karena tidak hanya bernuansa religius, tetapi juga menghibur.
Memasuki akhir 1960-an, lahirlah Bangreng sebagai bentuk penyempurnaan dari Gembyung. Nama Bangreng sendiri merupakan gabungan dari kata “bang” yang merujuk pada terebang dan “reng” yang berasal dari ronggeng. Perpaduan irama rebana dengan tarian ronggeng menciptakan pertunjukan yang meriah, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat.
Meski berkembang menjadi hiburan rakyat, Bangreng tetap mempertahankan nuansa religiusnya. Pertunjukan biasanya diawali dengan lantunan salawat, dilanjutkan dengan tarian dan musik tradisional, lalu ditutup kembali dengan doa atau salawat. Kesenian ini kerap hadir dalam berbagai acara masyarakat seperti khitanan, pernikahan, hingga peringatan hari besar.
Di tengah gempuran hiburan modern, Bangreng masih mampu bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Sumedang. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat pada tahun 2020 semakin menegaskan pentingnya kesenian ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Sunda yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.***

