Kibar Budaya XI, Upaya Menjaga Napas Seni dan Kerajinan Tasikmalaya

Jabar Tourism
0

Pelaksanaan Kibar Budaya XI Kota Tasikmalaya (Dokumentasi Istimewa)

TASIKMALAYA
- Malam di Kampung Situbeet, RW 08, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Sabtu (25/7/2026), terasa berbeda. Denting musik tradisional, alunan lagu Sunda, hingga pertunjukan wayang golek berpadu dalam kemeriahan Kibar Budaya XI yang diselenggarakan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT).


Ajang yang dikemas dalam konsep panggung rakyat ini kembali menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat, seniman, budayawan, dan pemerintah untuk merayakan kekayaan budaya Tasikmalaya yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.


Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra, menyampaikan apresiasinya kepada DKKT yang dinilai konsisten menghadirkan kegiatan budaya secara berkelanjutan. Menurutnya, Kibar Budaya bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ikhtiar bersama untuk memperkuat identitas daerah dan menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda.


“Penampilan para seniman dan anak-anak muda malam ini menunjukkan bahwa budaya Tasikmalaya masih hidup dan memiliki masa depan,” ujarnya.


Dicky juga menyoroti potensi Kampung Situbeet yang sejak dahulu dikenal sebagai sentra anyaman bambu. Namun, keterbatasan bahan baku membuat sebagian perajin mulai meninggalkan profesi tersebut. Pemerintah, kata dia, tengah menjajaki kolaborasi dengan Perhutani Provinsi guna mendorong penanaman bambu di kawasan Situbeet agar tradisi kerajinan ini dapat kembali berkembang.


Sementara itu, Ketua DKKT, Tatang Pahat, mengatakan Kibar Budaya XI merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan pelestarian budaya yang sebelumnya digelar melalui Ngarumat Hulu Cai di Gunung Kokosan, Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari.


Ia menegaskan, setiap wilayah di Tasikmalaya memiliki kekhasan yang patut dibanggakan. Mangkubumi dengan anyaman bambu dan alas kaki, Kawalu sebagai sentra bordir, Tamansari dengan Kelom Geulis, hingga Purbaratu yang dikenal melalui anyaman mendong.


“Budaya dan kerajinan lokal dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Karena itu, kami berencana membawa Kibar Budaya ke seluruh kecamatan di Kota Tasikmalaya,” katanya.


Di balik kemeriahan acara, para sesepuh setempat turut mengisahkan asal-usul nama Situbeet yang berasal dari istilah “Situ Deet” atau danau dangkal. Kisah itu menjadi pengingat bahwa identitas sebuah daerah lahir dari sejarah yang diwariskan lintas generasi.


Dari panggung sederhana di Situbeet, semangat menjaga seni, budaya, dan produk lokal kembali dinyalakan—sebuah langkah kecil untuk memastikan jati diri Tasikmalaya tetap lestari di masa mendatang.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)