
Virageawie Indonesia Kolaborasi dengan UMK dan Telkom University, Kenalkan Inovasi Bambu Laminasi Ramah Lingkungan (Dede Diaz Abdurahman)
BANDUNG BARAT – Komitmen mendorong inovasi berbasis material berkelanjutan terus diperkuat Virageawie Indonesia melalui kolaborasi internasional bersama Universitas Malaysia Kelantan (UMK) dan Telkom University. Sinergi tersebut diwujudkan dalam workshop pengolahan bambu laminasi yang digelar di Bandung Barat, sebagai bagian dari program International Student Mobility.
Kegiatan yang diikuti 24 mahasiswa, terdiri dari 20 mahasiswa UMK dan empat mahasiswa Telkom University, menjadi wadah pertukaran pengetahuan sekaligus pengalaman praktik mengenai pemanfaatan bambu sebagai material masa depan yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi.
Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai tahapan pengolahan bambu laminasi, mulai dari proses pemilihan bahan baku, pemotongan bilah bambu, pengeleman, hingga tahap akhir finishing. Melalui teknik tersebut, bambu dapat diubah menjadi material dengan karakter yang kuat, awet, serta memiliki tampilan menyerupai kayu keras.
Tak hanya mempelajari proses produksi, para mahasiswa juga memperoleh edukasi mengenai penggunaan pelapis khusus (coating) untuk bambu yang disampaikan oleh tim Propan Bandung. Pengetahuan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sekaligus daya tahan produk berbahan bambu.
Hasil dari proses tersebut diwujudkan dalam berbagai produk kriya bernilai tambah, seperti kotak tisu, tatakan gelas (coaster), plakat hingga speaker berbahan bambu laminasi. Pendekatan desain modern yang diterapkan menunjukkan bahwa bambu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi material unggulan bagi industri kreatif.
Bagi mahasiswa asal Malaysia, pengalaman ini menghadirkan perspektif baru mengenai potensi bambu. Selama ini, pemanfaatan bambu di negara tersebut masih banyak digunakan untuk kerajinan tradisional maupun kebutuhan konstruksi sederhana. Teknologi laminasi yang diperkenalkan membuka peluang pengembangan produk yang lebih inovatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Founder Virageawie Indonesia, Adang Muhidin, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga menjadi sarana mempererat kerja sama lintas negara sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan material berkelanjutan.
Menurutnya, bambu memiliki keunggulan karena mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan kayu dari hutan alam, sehingga berpotensi menjadi solusi bagi industri yang membutuhkan bahan baku ramah lingkungan.
Melalui program International Student Mobility, Virageawie Indonesia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia dapat terus berkembang. Selain memperluas jaringan akademik internasional, kegiatan ini juga diharapkan mampu melahirkan inovasi baru serta mendorong tumbuhnya generasi muda yang kreatif, adaptif, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan bambu sebagai material masa depan.***
