
Kopi Lisung yang disiapkan oleh Suhendin (Dokumentasi Istimewa)
KABUPATEN BANDUNG — Ada pengalaman berbeda ketika menikmati kopi di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Di tengah menjamurnya kedai kopi dengan mesin modern, Kopi Lisung justru mempertahankan cara lama yang nyaris terlupakan.
Kopi khas ini diperkenalkan dalam Festival Kopi Kamojang yang berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, di Foodcourt Kahuripan Kamojang, Desa Laksana. Festival tersebut digelar kelompok KAHURIPAN KAMOJANG dengan dukungan PLN Indonesia Power UBP Kamojang.
Keistimewaan Kopi Lisung bukan hanya pada rasa, tetapi juga proses pembuatannya. Biji kopi disangrai menggunakan kendi di atas tungku, kemudian ditumbuk memakai lesung kayu. Air untuk menyeduhnya pun dipanaskan secara tradisional.
Menariknya, metode penyaringan yang digunakan juga jauh dari peralatan kopi modern. Bubuk kopi ditaruh pada corong berbahan anyaman rotan, sementara tetesannya ditampung menggunakan wadah dari batok kelapa.
Tradisi tersebut dipertahankan oleh Suhendin, seorang pensiunan yang mengisi waktu luangnya dengan mengolah kopi. Putrinya, Siti Sarah, mengatakan bahwa sang ayah menjadi satu-satunya orang di lingkungan mereka yang masih membuat kopi dengan metode tersebut.
“Hanya Bapak yang bisa bikin kopi seperti ini di sini,” ujar Siti Sarah.
Yang membuat Kopi Lisung semakin unik, Suhendin tidak membuka kedai atau menjadikannya sebagai usaha komersial. Ia hanya membuat kopi ketika ada orang yang datang ke rumahnya. Bahkan, takaran kopi dibuat berdasarkan perkiraan, bukan timbangan, sehingga rasa yang dihasilkan bisa berbeda setiap kali diseduh.
Siti menyebut pengalaman menikmati kopi di sana memang tidak selalu mudah didapat. Pengunjung harus datang langsung ke rumah dan memastikan Suhendin sedang berada di tempat.
“Kalau mau minum kopi datang saja langsung ke rumah. Kalau Bapak di rumah, bisa melihat proses dan menikmati kopi lisung ini,” kata Siti.
Selain menjaga tradisi, Suhendin juga membeli biji kopi dari petani kecil yang hanya memiliki sedikit tanaman kopi. Dengan begitu, secangkir Kopi Lisung bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menjadi cara sederhana membantu hasil panen petani lokal tetap memiliki nilai.***
