
Bi Raspi Maestro Ronggeng Gunung dari Ciamis (pinterest)
CIAMIS - Di tengah derasnya perubahan zaman, masih ada sosok yang memilih bertahan bersama tradisi leluhur. Salah satunya adalah Bi Raspi, maestro Ronggeng Gunung asal Dusun Karang Gewok, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Perempuan yang lahir sekitar 1956 itu telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga Ronggeng Gunung, kesenian tradisional yang memiliki akar panjang dalam sejarah masyarakat Priangan Timur dan kerap dikaitkan dengan warisan budaya Kerajaan Galuh.
Perkenalannya dengan Ronggeng Gunung dimulai sejak usia 13 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar sekitar 1972, Bi Raspi mulai menekuni kesenian tersebut. Dari panggung-panggung sederhana hingga berbagai kegiatan masyarakat, namanya kemudian dikenal sebagai salah satu penjaga pakem Ronggeng Gunung.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, ia kerap tampil dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari ruwatan lembur, sedekah bumi, hingga syukuran panen. Ronggeng Gunung ketika itu bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Keunikan Ronggeng Gunung yang dipertahankan Bi Raspi terletak pada kekuatan gerak kakinya. Berbeda dengan banyak tari Sunda yang memberikan porsi relatif seimbang antara gerakan tangan dan kaki, Ronggeng Gunung justru menonjolkan ketukan serta dinamika langkah kaki.
Pementasannya pun tetap sederhana dan buhun. Minim ornamen tidak berarti kehilangan daya tarik. Justru kesederhanaan tersebut menjadi bagian penting dari karakter Ronggeng Gunung yang menyimpan nilai estetika, sejarah, sekaligus nuansa sakral.
Bi Raspi juga dikenal tidak hanya menguasai gerakan tari, tetapi memahami tembang serta sejumlah aspek ritual yang melekat dalam tradisi tersebut. Karena itu, keberadaannya menjadi penting bagi peneliti, seniman, koreografer, maupun budayawan yang ingin mempelajari bentuk asli Ronggeng Gunung.
Kini, tantangan pelestarian semakin berat. Usia para sesepuh terus bertambah, sementara minat generasi muda untuk mempelajari pakem tari, olah vokal, dan ritual Ronggeng Gunung masih terbatas. Wafatnya Bi Pejoh pada April 2025 semakin menyisakan sedikit pelaku yang benar-benar memahami tradisi tersebut dari sumbernya.
Harapan pelestarian kini salah satunya bertumpu pada putri semata wayang Bi Raspi yang turut mempelajari kesenian tersebut. Meski demikian, upaya mencari penerus dari kalangan anak muda di luar keluarga masih menghadapi berbagai kendala.
Di tengah ancaman kepunahan itu, Bi Raspi bukan sekadar seorang penari. Ia adalah penghubung antara generasi hari ini dengan tradisi masa lalu. Selama masih ada yang belajar, mendokumentasikan, dan mementaskan Ronggeng Gunung sesuai pakemnya, warisan budaya dari tanah Ciamis itu masih memiliki kesempatan untuk terus bernapas.***
