
Padaringan Leuweung Awi Cisurupan (Humas Pemkot Bandung)
KOTA BANDUNG - Di balik hiruk pikuk pusat kota Bandung, masih ada sudut-sudut hijau yang menyimpan ketenangan sekaligus cerita tentang bagaimana masyarakat menjaga warisan alamnya. Salah satunya adalah Padaringan Leuweung Awi Cisurupan, sebuah destinasi wisata baru yang memadukan hutan bambu, kuliner tradisional, seni budaya, hingga semangat gotong royong warga dalam satu kawasan yang asri.
Berada di kawasan Cisurupan, Kota Bandung, tempat ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar berwisata. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan suasana pasar tradisional yang berpadu dengan nuansa pedesaan Sunda. Konsep tersebut menjadikan Padaringan Leuweung Awi Cisurupan sebagai salah satu destinasi wisata berbasis masyarakat yang layak masuk dalam daftar kunjungan ketika berada di Bandung.
Destinasi ini resmi diaktivasi oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Peresmian tersebut menjadi langkah awal pengembangan kawasan wisata yang mengedepankan pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Dalam sambutannya, Farhan menegaskan bahwa kawasan ini merupakan hasil kolaborasi masyarakat yang patut dijaga bersama.
![]() |
| Walikota Bandung Muhammad Farhan (Humas Pemkot Bandung) |
"Ini adalah karya masyarakat. Karena itu menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga setiap pohon dan kelestarian kawasan ini. Pepohonan membuat Kota Bandung tetap sejuk, menjaga sumber air, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang dicari wisatawan," ujar Muhammad Farhan.
Lebih dari sekadar tempat rekreasi, Padaringan Leuweung Awi Cisurupan juga dirancang sebagai ruang edukasi yang mengajak pengunjung memahami pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Menurut Farhan, menjaga kelestarian lingkungan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
Keunikan lain dari destinasi ini adalah konsep pasar tradisional berbasis alam. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal hadir menawarkan beragam kuliner khas Sunda yang menggugah selera. Menariknya lagi, transaksi dilakukan menggunakan koin kayu, sebuah simbol sederhana yang menghidupkan kembali nuansa pasar tempo dulu sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Tak hanya berburu kuliner, pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan seni budaya, berjalan santai di tengah rindangnya hutan bambu, hingga mengunjungi Situs Religi Mbah Garut yang berada di dalam kawasan. Perpaduan wisata alam, budaya, dan spiritual inilah yang membuat pengalaman berkunjung terasa lebih lengkap.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan bahwa pengembangan Padaringan Leuweung Awi Cisurupan merupakan bagian dari strategi membangun destinasi wisata berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Cisurupan, Ari Irawan, berharap kegiatan ini dapat terus digelar secara rutin dua kali setiap bulan sehingga mampu menjadi ruang pemberdayaan UMKM sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
"Kami berharap Padaringan Leuweung Awi Cisurupan dapat terus konsisten diselenggarakan dua kali setiap bulan, sekaligus menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, dan penguatan wisata berbasis masyarakat," ungkap Ari Irawan.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Kota Bandung, Padaringan Leuweung Awi Cisurupan menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Di sini, keindahan alam bukan hanya menjadi latar berfoto, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus dirawat bersama. Perpaduan hutan bambu yang teduh, cita rasa kuliner tradisional, pertunjukan seni, serta semangat kebersamaan warga menjadikan destinasi ini layak disebut sebagai salah satu wajah baru wisata berbasis komunitas di Kota Bandung.***

