Stasiun Cirebon: Jejak Sejarah dalam Layanan Kereta Api Indonesia di Cirebon

Jabar Tourism
2 minute read
0

Stasiun Cirebon (sumber : pinterest)

Di tengah hiruk-pikuk Kota Cirebon, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia. Stasiun Cirebon, salah satu stasiun tertua di negeri ini, bukan hanya sekadar tempat naik-turun penumpang, tetapi juga memiliki kisah menarik yang berkaitan erat dengan industri gula di sepanjang pesisir utara Jawa.


Terletak di Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, stasiun ini berada dalam jaringan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 3 Cirebon. Dengan lokasinya yang strategis, Stasiun Cirebon melayani perjalanan ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.


Pentingnya nilai sejarah Stasiun Cirebon diakui oleh pemerintah melalui penetapannya sebagai cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010. Dengan status tersebut, bangunan ini tidak hanya dipertahankan sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang harus dijaga keasliannya.


Sejarah Stasiun Cirebon tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri gula yang berkembang pesat di sepanjang Pantura Jawa. Jalur kereta api di kawasan ini awalnya dibangun oleh dua perusahaan berbeda: Staatssporwegen (SS), yang merupakan perusahaan milik pemerintah kolonial Belanda, dan Samarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), perusahaan kereta api swasta. Pada 3 Juni 1912, SS meresmikan jalur Cikampek-Cirebon sepanjang 137 kilometer, sekaligus membuka layanan transportasi umum di Stasiun Cirebon.


Namun, jauh sebelum itu, upaya pembangunan jalur kereta sudah dimulai sejak akhir abad ke-19. Pada tahun 1885-1886, Java Spoorweg Maatschappij (JSM) membuka jalur Tegal-Slawi-Balapulang, namun mengalami kendala finansial yang berujung pada pengambilalihan oleh SCS pada tahun 1892. SCS kemudian melanjutkan pembangunan jalur Cirebon-Semarang yang akhirnya rampung pada tahun 1899, berkat dukungan industri gula yang berkembang pesat di kawasan tersebut.


Stasiun Cirebon dibangun dengan sentuhan arsitektur khas art deco yang dirancang oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Gaya ini memberikan ciri khas tersendiri pada bangunan stasiun, yang memiliki kemiripan dengan beberapa bangunan tua lainnya di Cirebon, seperti Balai Kota Cirebon, Bank Indonesia Cirebon, dan gedung Tobacco British American (BAT).


Meski telah mengalami beberapa kali peremajaan, bangunan utama Stasiun Cirebon tetap mempertahankan bentuk aslinya. Salah satu elemen art deco yang paling mencolok adalah bagian fasadnya yang dihiasi dengan dua menara. Dahulu, di depan menara ini terdapat tulisan "kaartjes" (karcis) di sebelah kiri dan "bagage" (bagasi) di sebelah kanan, yang menunjukkan pemisahan layanan penumpang dan bagasi sejak masa kolonial.


Saat pertama kali dioperasikan, Stasiun Cirebon memiliki empat pintu masuk utama yang tetap digunakan hingga kini. Sementara itu, pintu keluar stasiun berada di sisi kiri bangunan, berdekatan dengan loket tiket. Tata letak ini mencerminkan bagaimana perencanaan awal masih dipertahankan dalam operasionalnya hingga saat ini.


Seiring perkembangan zaman, Stasiun Cirebon terus menjalankan fungsinya sebagai pusat transportasi utama di kawasan Pantura. Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, stasiun ini tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan banyak orang, sekaligus menjadi saksi bisu sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia.


Dengan segala nilai historis dan arsitektur uniknya, Stasiun Cirebon bukan hanya tempat pemberhentian kereta, tetapi juga sebuah simbol kejayaan masa lalu yang tetap hidup dalam modernitas transportasi Indonesia.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)