Menjelajah Kampung Anyaman Bambu di Sumedang: Menjaga Tradisi dari Generasi ke Generasi

Jabar Tourism
3 minute read
0

Kampung Anyaman Bambu di Sumedang (sumber : facebook/Baraya Sumedang)

Kalau bicara soal Jawa Barat, bukan cuma keindahan alam dan kulinernya aja yang bikin orang jatuh hati. Provinsi ini juga kaya akan kerajinan tangan khas yang diwariskan turun-temurun. Dari batik Cirebon, wayang golek, hingga keramik Plered, semuanya punya cerita dan nilai budaya yang nggak bisa diremehkan. Nah, di antara sekian banyak kerajinan tangan itu, ada satu yang cukup unik dan masih bertahan sampai sekarang: kerajinan anyaman bambu dari Kampung Pangaroan, Sumedang.


Di balik suasana tenang Dusun Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, ternyata tersimpan kehidupan yang penuh semangat dari para perajin anyaman bambu. Kampung ini udah puluhan tahun dikenal sebagai sentra penghasil berbagai perkakas rumah tangga berbahan bambu. Meskipun zaman udah makin modern, nyatanya anyaman bambu di kampung ini tetap eksis dan jadi sumber penghidupan bagi sekitar 50 perajin yang masih aktif sampai hari ini.


Uniknya, hampir setiap rumah di kampung ini memproduksi kerajinan bambu. Mulai dari nyiru (nampan besar), cecempeh (wadah kecil), dingkul (semacam penutup makanan), boboko (tempat nasi), sampai hihid (kipas tradisional), semua dikerjakan dengan telaten dan penuh cinta oleh tangan-tangan terampil yang mewarisi keahlian ini dari leluhurnya.


Ihun, Kepala Dusun Pangaroan, menceritakan bahwa tradisi menganyam bambu ini udah ada sejak zaman kakek-nenek mereka. Meski nggak tahu persis sejak kapan tradisi ini dimulai, tapi yang jelas sudah berjalan puluhan tahun. “Saya juga nerusin dari orang tua. Ya, hanya ingin menjaga warisan aja,” ujarnya dengan nada sederhana tapi penuh rasa tanggung jawab.


Menurut Ihun, menjaga tradisi ini bukan cuma soal mempertahankan budaya, tapi juga menggali potensi desa yang bisa jadi kekuatan ekonomi lokal. Itulah kenapa dia bersama warga bertekad untuk terus mengembangkan kerajinan ini, biar nggak hilang ditelan waktu. Mereka masih aktif memproduksi berbagai alat rumah tangga dari bambu, dan semua bahan bakunya tersedia melimpah di sekitar kampung—karena sejak dulu leluhur mereka juga sudah membudidayakan pohon bambu.


Soal produksi, seorang perajin bisa membuat sekitar tiga buah kerajinan besar seperti nyiru atau boboko dalam sehari. Sementara untuk barang yang lebih kecil seperti cecempeh dan hihid, jumlahnya bisa lebih banyak. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000 per buah, tergantung jenis dan ukurannya.


Untuk urusan pemasaran, mereka nggak tinggal diam. Selain memanfaatkan penjualan online, produk-produk anyaman ini juga dititipkan ke Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sumedang agar bisa dipromosikan dan dijual lebih luas. Bahkan ada juga yang sudah menembus pasar ke daerah Bandung.


Hebatnya lagi, para perajin di Pangaroan ini nggak pernah kesulitan soal bahan baku. “Alhamdulillah, sampai sekarang nggak pernah ada keluhan soal bambu. Karena memang di sekitar sini banyak pohon bambu yang sengaja dibudidayakan sejak dulu,” tutur Ihun.


Kampung Pangaroan bukan cuma tentang kerajinan bambu, tapi juga tentang bagaimana masyarakat lokal menjaga tradisi, merawat warisan budaya, dan menyulapnya menjadi peluang ekonomi. Di tengah gempuran zaman yang serba digital, mereka membuktikan bahwa tradisi juga bisa bertahan dan berkembang asalkan dijaga dengan hati.


Bagi kamu yang suka dengan budaya lokal, atau sekadar penasaran dengan kehidupan para perajin bambu, Kampung Pangaroan layak banget untuk dikunjungi. Di sana kamu nggak cuma bisa melihat langsung proses pembuatannya, tapi juga merasakan kedekatan warga dengan alam dan warisan leluhur mereka. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana kesederhanaan bisa jadi kekuatan yang luar biasa.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)
June 28, 2025