![]() |
| West Java Festival (sumber : facebook/West Java Festival) |
Gubernur Jawa Barat mengajak seluruh masyarakat untuk ikut merayakan kebanggaan daerah melalui gelaran West Java Festival 2025, sebuah pesta rakyat yang menjadi simbol semangat kolaborasi, kreativitas, dan kearifan lokal. “Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan identitas budaya Sunda yang penuh nilai kehidupan,” ujar Gubernur Jawa Barat dalam sambutannya saat membuka acara di Bandung.
West Java Festival tahun ini kembali hadir dengan kemeriahan yang lebih besar dan lebih berwarna. Rangkaian acaranya meliputi pertunjukan seni budaya, pameran produk ekonomi kreatif, talkshow inspiratif, workshop interaktif, hingga penampilan spektakuler dari para musisi ternama Tanah Air. Tak hanya menjadi ajang hiburan, festival ini juga menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif dan pariwisata Jawa Barat pascapandemi.
Tema “Gapura Panca Waluya”: Akar Filosofi Sunda untuk Masa Depan
Mengusung tema “Gapura Panca Waluya”, West Java Festival 2025 menghadirkan makna mendalam yang bersumber dari nilai-nilai kearifan budaya Sunda. Tema ini mengandung lima prinsip kehidupan, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, yang menjadi panduan moral bagi masyarakat Jawa Barat dalam menapaki era modern tanpa kehilangan jati diri.
Nilai Cageur melambangkan kesehatan jasmani, rohani, dan spiritual. Dalam konteks pariwisata, cageur berarti mengembangkan wellness tourism—konsep wisata yang menyatukan manusia dengan alam, menghadirkan pengalaman kuliner sehat, dan mengajak hidup lebih selaras dengan lingkungan.
Sementara Bageur menekankan pentingnya sikap peduli terhadap sesama dan lingkungan. Nilai ini merefleksikan karakter masyarakat Sunda yang someah hade ka semah—ramah, jujur, dan penuh ketulusan dalam berinteraksi dengan siapa pun.
Nilai Bener berbicara tentang integritas dan tanggung jawab. Prinsip ini menjadi pijakan dalam mengelola pariwisata dan budaya secara beretika, agar setiap destinasi tetap lestari serta memberi manfaat bagi masyarakat lokal.
Selanjutnya, Pinter menggambarkan kecerdasan dan kemampuan berstrategi. Di era digital yang menuntut inovasi cepat, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga warisan budaya sekaligus beradaptasi dengan teknologi dan tren global.
Terakhir, Singer melambangkan semangat kreatif dan inovatif. Melalui nilai ini, masyarakat Jawa Barat didorong untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif—mulai dari kriya, seni pertunjukan, hingga kuliner khas yang menjadi daya tarik wisata.
Festival yang Jadi Simbol Kolaborasi dan Kemajuan
Nilai-nilai luhur dalam Panca Waluya menjadi arah pembangunan pariwisata dan kebudayaan Jawa Barat agar tetap berakar pada kearifan lokal. Semangat tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam, budaya, dan ekonomi agar berjalan beriringan menuju masa depan yang berkelanjutan.
Menariknya, West Java Festival kini telah resmi menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) yang digagas oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Penetapan ini menegaskan posisi West Java Festival sebagai salah satu agenda unggulan nasional yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menyebutkan, penyelenggaraan festival ini tidak hanya berfokus pada promosi destinasi wisata, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ekonomi kreatif daerah. “Dampak ekonominya sangat terasa, mulai dari meningkatnya kunjungan wisatawan hingga terbukanya peluang usaha baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan berbagai kegiatan inspiratif dan nilai-nilai budaya yang mengakar, West Java Festival 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan gerbang menuju masa depan Jawa Barat yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer—sehat, peduli, jujur, cerdas, dan kreatif.

