Dodol Ketan Kasepuhan Banten Kidul, Cita Rasa Tradisi dari Tanah Adat di Sukabumi

Jabar Tourism
0

Dodol Ketan Kasepuhan Banten Kidul (sumber : pinterest)

Di balik pesona alam Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, berdiri tegak sebuah kampung adat yang menjadi penjaga warisan leluhur—Kasepuhan Sinar Resmi. Kampung ini bukan hanya dikenal karena adat dan tatanan hidupnya yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai Kasepuhan Banten Kidul, tetapi juga karena kekayaan kulinernya yang menggoda selera. Salah satu yang paling istimewa adalah dodol ketan, kudapan tradisional yang menjadi simbol rasa syukur dan kebersamaan masyarakat adat.


Dodol ketan bukan sekadar makanan manis yang mengenyangkan. Di Kasepuhan Banten Kidul, panganan ini menyimpan nilai filosofis yang dalam. Ia kerap hadir dalam berbagai upacara adat dan perayaan, terutama dalam Seren Taun, sebuah ritual tahunan yang menjadi bentuk penghormatan masyarakat kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang melimpah. Dalam momen itu, dodol ketan disajikan kepada para tamu sebagai wujud sambutan hangat dan ungkapan rasa syukur.


Terbuat dari campuran beras putih, beras ketan hitam, santan, dan gula aren, dodol ini memiliki cita rasa yang khas. Perpaduan antara manisnya gula aren dan gurihnya santan menghasilkan aroma harum yang menggugah. Proses pembuatannya pun tidak bisa dianggap sepele. Seluruh bahan dicampur dan dimasak perlahan di atas wajan besar yang dipanaskan dengan bara kayu bakar. Dengan sabar, adonan diaduk tanpa henti selama lima hingga enam jam, hingga menghasilkan tekstur kenyal dan warna cokelat pekat yang menandakan kematangan sempurna.


Keunikan dodol ketan versi Kasepuhan ini juga terlihat dari cara masyarakat Ciptagelar, salah satu wilayah adat Banten Kidul, mempertahankan tradisi pembuatannya secara turun-temurun. Di sana, pembuatan dodol bukan hanya kegiatan dapur semata, melainkan ritual kebersamaan. Para warga biasanya bergotong royong, mulai dari menyiapkan bahan, menyalakan tungku api, hingga mengaduk adonan bersama-sama sambil bercengkerama dan melantunkan pantun adat. Suasana penuh kekeluargaan itu menjadikan proses pembuatan dodol terasa begitu hangat dan bermakna.


Bagi masyarakat Ciptagelar, dodol ketan juga memiliki nilai simbolik. Kelekatan teksturnya diibaratkan sebagai lambang persatuan dan kekokohan hubungan sosial di antara warga adat. Semakin kenyal dan lembut dodol yang dihasilkan, semakin besar pula rasa bangga mereka terhadap hasil kerja bersama. Tak heran, dodol ini sering dijadikan buah tangan khas bagi siapa pun yang berkunjung ke Kasepuhan.


Di tengah gempuran kuliner modern, dodol ketan Kasepuhan Banten Kidul tetap bertahan sebagai warisan kuliner yang sarat makna. Ia bukan hanya rasa manis dari gula aren dan santan, tetapi juga manisnya kebersamaan dan kesetiaan masyarakat adat terhadap warisan budaya leluhur mereka.


Lewat dodol ketan ini, Kasepuhan Banten Kidul mengajarkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, melainkan meneguhkan identitas dalam setiap lapisan rasa — dari kenyalnya adonan hingga hangatnya makna di balik setiap potongan dodol.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)