![]() |
| Situ Sipatahunan Bandung (sumber : gmaps/Situ Sipatahunan) |
Keindahan alam Indonesia memang tak pernah habis untuk dikagumi. Dari gunung, pantai, hingga danau, setiap sudutnya memiliki keunikan tersendiri. Salah satu yang menarik perhatian di kawasan Bandung Selatan adalah Situ Sipatahunan, sebuah danau buatan bersejarah yang terletak di Baleendah, Kabupaten Bandung. Meski belum sepopuler Ciwidey atau Pangalengan, pesona dan potensi wisata di tempat ini tak kalah memikat.
Situ Sipatahunan bukanlah danau alami, melainkan danau buatan yang sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Awalnya, danau ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar — mulai dari irigasi pertanian hingga keperluan rumah tangga. Airnya berasal dari aliran di perbukitan selatan, yang menjadi sumber utama bagi warga Baleendah kala itu.
Dengan luas sekitar dua hektare, danau ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat setempat selama puluhan tahun. Nama “Sipatahunan” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang dipercaya memiliki makna filosofis terkait ketenangan dan keberlangsungan hidup. Kini, meski fungsinya bergeser menjadi area wisata, nilai sejarah dan budaya dari tempat ini tetap terasa kuat.
Lokasi Strategis dan Akses Mudah
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, Situ Sipatahunan terletak di RW 5, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Bandung. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kota menjadikan tempat ini alternatif wisata alam yang lebih dekat dan mudah dijangkau dibandingkan destinasi populer di Bandung Selatan lainnya seperti Situ Patenggang atau Danau Cileunca di Pangalengan yang berjarak lebih dari 50 kilometer.
Akses menuju lokasi bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalan menuju kawasan ini cukup baik, meski di beberapa titik masih memerlukan perbaikan agar lebih nyaman bagi wisatawan.
Pesona Alam dan Potensi Wisata
Meskipun merupakan danau buatan, Situ Sipatahunan menawarkan pemandangan yang tenang dan menyejukkan. Di pagi hari, kabut tipis yang menyelimuti permukaan air menambah suasana damai, sangat cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota.
Menariknya, di kawasan ini juga terdapat air terjun kecil di perbukitan selatan danau yang menambah daya tarik wisata alamnya. Meski belum dikelola secara maksimal, air terjun tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai spot trekking atau wisata petualangan ringan.
Selain itu, area sekitar danau juga sering digunakan warga untuk berbagai kegiatan, seperti olahraga pagi, bersepeda, hingga acara budaya lokal. Jika dikelola dengan baik, Situ Sipatahunan bisa menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang memadukan unsur sejarah, alam, dan kearifan lokal.
Upaya Revitalisasi dari Pemerintah Kabupaten Bandung
Beberapa tahun terakhir, kondisi Situ Sipatahunan sempat memprihatinkan. Sampah yang berserakan dan fasilitas umum yang rusak membuat kawasan ini kurang diminati wisatawan. Namun, harapan mulai muncul ketika Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menegaskan bahwa lahan Situ Sipatahunan merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Bandung.
Dengan kepemilikan yang jelas, proses revitalisasi dan penataan kawasan akan lebih mudah dilakukan. Pemerintah berencana memperbaiki fasilitas wisata, menambah area taman tematik, serta membangun jalur pejalan kaki yang ramah pengunjung. Selain itu, beberapa komunitas lingkungan dan pegiat wisata lokal juga mulai terlibat dalam gerakan kebersihan dan penghijauan di sekitar danau.
Harapan Baru untuk Wisata Baleendah
Jika dikelola dengan serius, Situ Sipatahunan berpotensi menjadi destinasi unggulan wisata Baleendah. Kombinasi antara nilai sejarah, keindahan alam, dan lokasi yang strategis membuatnya sangat layak dikunjungi, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus pergi jauh dari Kota Bandung.
Dengan dukungan pemerintah daerah, komunitas lokal, dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, Situ Sipatahunan bisa kembali bersinar sebagai ikon wisata Bandung Selatan yang menyuguhkan ketenangan, keasrian, dan nilai sejarah yang tak ternilai.

