Mengenal Dodol Kacang Hijau Lazida, Legenda Oleh-oleh Tasikmalaya Sejak 1965

Jabar Tourism
0

Mengenal Dodol Kacang Hijau Lazida, Legenda Oleh-oleh Tasikmalaya Sejak 1965 (pinterest)

Bagi banyak pelancong yang berkunjung ke Tasikmalaya, satu pertanyaan kerap muncul: apa sih oleh-oleh khas yang wajib dibawa pulang dari Kota Santri ini? Kota Tasik memang terkenal dengan beragam camilan yang mudah dikemas, mulai dari keripik pedas, kerupuk renyah, hingga aneka kue aci dan kue bawang. Namun di balik ragam pilihan tersebut, ada satu kudapan legendaris yang keberadaannya telah menembus lintas generasi: Dodol Kacang Hijau Lazida.


Camilan tradisional ini mulai dibuat sekitar tahun 1965. Pada masa itu, produk ini belum dikenal dengan nama “Lazida”, dan proses penjualannya pun masih sebatas memenuhi pesanan warga. Menariknya, sebelum tahun 2000-an, membuat dodol kacang hijau adalah tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Tasikmalaya, terutama saat menyambut hari besar seperti Idul Fitri. Dari sekian banyak pembuatnya, dodol racikan keluarga Lazida menjadi yang paling tersohor berkat perpaduan rasa kacang hijau dan gula aren yang khas serta daya tahannya yang lama.


Taswana Saleh, generasi penerus usaha keluarga ini, menceritakan bahwa proses pembuatan dodol kacang hijau membutuhkan ketelatenan luar biasa. “Total waktu ngolah bisa sampai enam jam, belum termasuk pencetakan dan pengemasan pakai kertas minyak,” kata Saleh. Dalam logat Sunda yang kental, ia menjelaskan detail prosesnya: kacang hijau dimasak dalam wajan besar bersama gula pasir hingga benar-benar kering, lalu digiling. Setelah itu baru dicampur dengan santan dan gula aren yang telah dikinca. Semua dikerjakan manual, tanpa mesin.


Menurut Saleh, banyak pelanggan setia memilih dodol kacang hijau ini bukan hanya karena rasa tradisionalnya, tetapi juga karena manfaat kandungan kacang hijau dan gula arennya. Kacang hijau dikenal kaya nutrisi, mendukung kesehatan pencernaan, menjaga kadar gula darah, mengandung antioksidan, hingga berperan dalam kesehatan jantung dan tulang. Sementara gula aren menawarkan energi alami, membantu menjaga stabilitas gula darah, dan baik untuk sistem pencernaan.


“Pelanggan sering bilang cocok buat diet dan untuk lambung,” ujar Saleh. Ia menuturkan bahwa varian rasa jahe sempat sangat diminati karena memberikan sensasi hangat di tenggorokan. Namun saat ini varian tersebut hanya diproduksi jika ada pesanan khusus, karena pihaknya belum berani menyetok terlalu banyak.


Dalam hal pemasaran, dodol Lazida memiliki sejarah panjang. Produk ini pernah merambah Tasikmalaya, Pangandaran, Malangbong, Purwokerto, bahkan Bandung sejak sebelum tahun 2000-an. Masa keemasan dodol terjadi justru saat krisis moneter 1998, ketika produksi per hari bisa menembus lebih dari 700 kemasan. Ketika itu usaha masih dipegang oleh kakak Saleh. Namun perjalanan usaha tidak selalu mulus: mulai dari kehilangan pelanggan, kegagalan ekspansi ke wilayah Galunggung, hingga hantaman pandemi Covid-19.


Meski begitu, Saleh dan istrinya tetap memilih bertahan menjaga warisan kuliner keluarga—sebuah ikon oleh-oleh Tasikmalaya yang berharap kembali berjaya seperti era 1990-an. Sentra produksi masih berlokasi di Jalan Bantar, Kota Tasikmalaya. Sementara produknya bisa ditemukan di sejumlah toko, seperti Ramona, Saung Gunung Jati, Raja Sale, Grosir Jaya Rasa, BSR dekat Karangresik, hingga Toko Ladu Tasik di depan Kampung Suasana.


Dodol Kacang Hijau Lazida bukan sekadar cemilan manis. Ia adalah bagian dari sejarah kuliner Tasikmalaya, yang terus bertahan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)