Mengenal Poyok Ungkal, Warisan Lisan yang Mengasah Bahasa dan Merawat Harmoni Sosial dari Sumedang

Jabar Tourism
0

Poyok Ungkal khas Sumedang (youtube : Kebudayaan Sumedang)

Desa Ungkal di Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, menyimpan sebuah tradisi lisan yang tak hanya unik, tetapi juga sarat nilai budaya: Poyok Ungkal. Tradisi ini bukan sekadar celotehan atau olok-olok yang muncul dalam percakapan sehari-hari. Di balik kalimat-kalimat bernada sindiran itu tersimpan kearifan sosial, filosofi hidup, sekaligus kreativitas berbahasa yang sudah mengakar dalam budaya Sunda. Tak heran jika Poyok Ungkal kini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat.


Keberadaan poyok mencerminkan bahwa masyarakat Ungkal memandang seni berbahasa sebagai bagian penting dari interaksi sosial. Nilainya bahkan dianggap lebih luas daripada sekadar hiburan warga, melainkan bagian dari upaya menjaga identitas dan memperkaya khazanah budaya Sunda.


Dalam kehidupan sehari-hari, poyok biasanya muncul di momen-momen santai: saat warga berkumpul di warung, menghabiskan malam ronda, atau sekadar berbincang di halaman rumah tetangga. Kalimat-kalimat sindiran itu hadir spontan, merespons kejadian kecil, penampilan seseorang, atau ucapan yang terdengar menggelitik.


Ciri khas poyok terletak pada penggunaan analogi dan metafora. Sindiran tidak pernah disampaikan secara lugas, melainkan disamakan dengan benda, hewan, atau fenomena alam. Seseorang berbadan besar, misalnya, mungkin disamakan dengan bedug, sementara warga yang doyan memakai pakaian mencolok bisa disebut bangbara.


Di Ungkal, masyarakat membedakan dua jenis sindiran: poyok dan moyokan. Moyokan lebih to the point dan cenderung kasar, sementara poyok bersifat halus, simbolik, bahkan sering tampak seperti teka-teki. Karena itu, poyok dinilai lebih elegan dan menunjukkan kepiawaian seseorang dalam merangkai bahasa. Meski berupa sindiran, poyok justru acap kali mempererat hubungan. Berbalas poyok dalam suasana akrab kerap menjadi pemecah tawa yang menciptakan kehangatan antarwarga.


Lebih dari itu, poyok berfungsi sebagai sarana menyampaikan kritik tanpa menyakiti perasaan. Dalam masyarakat Sunda yang menjunjung keselarasan, cara seperti ini dianggap paling tepat: menegur dengan santun, mengingatkan tanpa mempermalukan.


Kemampuan membuat poyok menjadi kebanggaan tersendiri. Mereka yang jago ber-poyok dipandang cerdas, kreatif, serta memahami nilai budaya lokal. Tradisi ini pun menjadi ruang untuk mengasah kecakapan berbahasa dan menumbuhkan pemikiran kritis.


Poyok juga memainkan peran penting dalam menjaga norma sosial. Melalui sindiran halus, warga mengingatkan satu sama lain untuk tetap berperilaku sopan dan menghormati aturan tak tertulis dalam kehidupan komunitas. Namun, bagi orang luar yang tidak terbiasa dengan cara berbahasa ini, poyok sering disalahartikan sebagai hinaan. Padahal, bagi masyarakat Ungkal, poyok adalah seni verbal yang memiliki tempat khusus dalam budaya mereka.


Meski telah menjadi objek kajian akademis, dokumentasi Poyok Ungkal masih terbatas. Variasi poyok di tiap dusun, perubahan gaya bahasa, hingga pengaruh modernisasi belum sepenuhnya terarsipkan. Tantangan terbesar datang dari perubahan zaman: generasi muda kini lebih dekat dengan bahasa media sosial dibanding metafora tradisional. Jika tidak diwariskan, poyok dikhawatirkan perlahan memudar atau kehilangan keasliannya.


Menariknya, nama Ungkal diperkirakan berasal dari kata wungkal atau batu asahan. Filosofinya selaras dengan fungsi poyok itu sendiri yang menjadi alat untuk “mengasah” kecerdasan, kreativitas verbal, serta kepekaan berpikir masyarakat.


Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumedang, Budi Akbar, menyebut poyok sebagai wujud kearifan lokal yang mengajarkan cara menyampaikan kritik tanpa merusak hubungan sosial. “Ini adalah ciri khas masyarakat Ungkal yang membedakannya dari desa lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bahasa Sunda dalam poyok memiliki kekhasan tersendiri, sehingga memahaminya membutuhkan penguasaan bahasa dan budaya Sunda secara utuh.


Pada akhirnya, Poyok Ungkal bukan hanya permainan kata, melainkan identitas budaya yang membentuk karakter sosial masyarakat. Seni sindiran halus ini menjaga keharmonisan, menguatkan nilai sopan santun, sekaligus memperkaya tradisi lisan Sunda.


“Di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian Poyok Ungkal sangat penting agar warisan ini tidak hilang,” kata Budi. Melalui dokumentasi, pendidikan, dan adaptasi kepada perkembangan zaman, tradisi ini diharapkan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Ungkal khususnya, serta Jawa Barat pada umumnya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)