![]() |
| Bangunan PLTA Cinangling Subang (Vidi Susanto) |
Kabupaten Subang, Jawa Barat, tak hanya dikenal lewat hamparan perkebunan teh dan udara pegunungan yang sejuk. Di balik lanskap alamnya yang asri, tersimpan sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi awal perkembangan teknologi listrik di wilayah ini. Bangunan tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cinangling, sebuah peninggalan era kolonial yang kini menarik perhatian wisatawan pencinta sejarah dan eksplorasi tempat bersejarah.
PLTA Cinangling berlokasi di Desa Sampih, Kecamatan Dawuan, berada di jalur penghubung Kalijati–Sagalaherang. Meski kondisinya tak lagi beroperasi, bangunan ini masih memancarkan aura masa lalu, menghadirkan cerita tentang bagaimana air sungai pernah menjadi sumber energi utama bagi aktivitas perkebunan di Subang.
Dibangun untuk Perkebunan di Masa Kolonial
PLTA Cinangling dibangun pada tahun 1936, saat Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pembangkit ini difungsikan sebagai penyuplai listrik bagi perkebunan milik perusahaan besar bernama Pamanukan and Tjiasem Landen (P&T Lands). Listrik dari PLTA ini digunakan untuk mendukung operasional perkebunan di berbagai wilayah, seperti Jalupang, Gunung Tua, Tambaksari, hingga Ciater.
Di dalam bangunan PLTA, masih tersimpan mesin generator tua buatan perusahaan asal Swiss, Escher Wyss, dengan kapasitas sekitar 1.900 tenaga kuda (PK). Mesin inilah yang dulu menjadi tulang punggung suplai listrik untuk kebutuhan industri perkebunan.
Mengandalkan Aliran Sungai Curugagung
Sumber energi PLTA Cinangling berasal dari aliran Sungai Curugagung yang dialirkan melalui sistem irigasi Cikopi. Sekitar 300 meter dari lokasi pembangkit, terdapat bangunan irigasi tua dengan tulisan “VOLTOOID 1929”, menandakan bahwa infrastruktur air di kawasan ini sudah dibangun lebih awal sebelum PLTA beroperasi.
Perpaduan antara teknologi, aliran sungai, dan alam sekitar menjadikan kawasan ini tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki daya tarik visual bagi wisatawan yang gemar berburu spot unik dan bersejarah.
Dari Sumber Energi ke Wisata Sejarah
Seiring bertambahnya usia dan keterbatasan perawatan, PLTA Cinangling akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 2017. Kini, bangunan ini berdiri sebagai peninggalan sejarah yang menyimpan cerita panjang tentang perkembangan listrik dan industri perkebunan di Subang.
Meski belum dikelola secara resmi sebagai destinasi wisata, PLTA Cinangling memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata sejarah dan edukasi, terutama bagi pengunjung yang tertarik pada warisan teknologi dan bangunan kolonial. Dengan pengelolaan yang tepat, tempat ini bisa menjadi alternatif wisata unik di Subang, memadukan alam, sejarah, dan cerita masa lalu dalam satu perjalanan.

.jpg)