![]() |
| Jembatan Panus Lama (gmaps/Tomi Hendrawan) |
Jika berbicara tentang destinasi wisata di Depok, banyak orang mungkin langsung membayangkan pusat kuliner atau ruang terbuka hijau modern. Namun di balik hiruk-pikuk kota satelit Jakarta ini, terdapat sebuah destinasi bersejarah yang menawarkan pengalaman berbeda: wisata sejarah sekaligus wisata cerita rakyat. Jembatan Panus bukan sekadar jalur penyeberangan, melainkan landmark tua yang menyimpan kisah panjang sejak era kolonial Belanda hingga legenda mistis yang masih hidup di tengah masyarakat.
Bagi pecinta wisata sejarah dan urban heritage, Jembatan Panus menjadi tempat menarik untuk melihat sisi lain Depok—lebih tenang, klasik, dan penuh cerita masa lalu.
Jejak Sejarah Kolonial di Tengah Kota Depok
Jembatan Panus telah berdiri sejak tahun 1917, dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bagian dari jalur transportasi penting pada masanya. Jembatan sepanjang sekitar 100 meter ini dirancang oleh insinyur Belanda, Ir. Andre Laurens, untuk menghubungkan wilayah Batavia (kini Jakarta) dengan Bogor.
Pada awal abad ke-20, jembatan ini memiliki peran vital karena menjadi satu-satunya akses utama antarwilayah tersebut. Jalur ini digunakan untuk mobilitas masyarakat, perdagangan, hingga distribusi hasil bumi. Tak heran jika keberadaan Jembatan Panus dahulu dianggap sebagai urat nadi perjalanan di kawasan selatan Batavia.
Nama “Panus” sendiri memiliki cerita unik. Masyarakat lokal yang mayoritas bersuku Sunda lebih akrab menyebutnya dengan nama tersebut. Menurut kisah warga, nama Panus diyakini berasal dari Stevanus Leander, sosok yang tinggal di sekitar jembatan sekaligus berperan dalam proses pembangunannya. Nama itu kemudian melekat hingga sekarang sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.
Spot Wisata Sejarah yang Masih Aktif Digunakan
Meski kini telah berdiri jembatan modern di sekitarnya, Jembatan Panus tetap digunakan oleh pejalan kaki dan pengendara sepeda motor sebagai jalur alternatif. Justru di sinilah daya tariknya: wisatawan dapat merasakan langsung suasana jembatan tua yang masih hidup dan berfungsi hingga hari ini.
Letaknya yang berada tepat di atas Sungai Ciliwung menjadikan area ini memiliki panorama khas. Dari atas jembatan, pengunjung bisa melihat aliran sungai yang menghubungkan Bogor dan Jakarta, lengkap dengan suasana permukiman lama yang memberi nuansa nostalgia.
Menariknya lagi, warga setempat kerap menjadikan jembatan ini sebagai indikator alami untuk memantau ketinggian air sungai. Saat debit air meningkat dari arah Bogor, kondisi di Jembatan Panus sering menjadi tanda awal potensi banjir kiriman menuju Jakarta.
Daya Tarik Mistis yang Melekat
Selain nilai sejarahnya, Jembatan Panus juga dikenal sebagai lokasi yang sarat cerita mistis. Berbagai kisah penampakan makhluk tak kasat mata telah lama beredar di kalangan warga Depok dan menjadi legenda urban yang menambah daya tarik tempat ini.
Ada tradisi unik yang masih dipercaya sebagian masyarakat: pengendara biasanya membunyikan klakson saat melintas sebagai tanda permisi. Kebiasaan ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap penghuni gaib yang konon menjaga kawasan tersebut.
Bagi wisatawan, cerita-cerita ini justru menjadi pengalaman budaya tersendiri. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk melihat bangunan tua, tetapi juga merasakan atmosfer berbeda yang sulit ditemukan di destinasi modern.
Resmi Menjadi Cagar Budaya Depok
Kini, Jembatan Panus telah diakui sebagai salah satu cagar budaya Kota Depok. Pelestariannya dilakukan oleh masyarakat sekitar bersama Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), yang aktif menjaga warisan sejarah kota.
Status ini menjadikan Jembatan Panus bukan hanya tempat lewat, tetapi juga destinasi edukasi sejarah yang penting bagi generasi muda. Pengunjung dapat belajar bagaimana sebuah infrastruktur sederhana mampu menjadi saksi perubahan zaman selama lebih dari satu abad.
Tips Berkunjung ke Jembatan Panus
Agar pengalaman wisata semakin nyaman, berikut beberapa tips saat berkunjung:
- Datang pada pagi atau sore hari untuk menikmati suasana yang lebih tenang.
- Tetap berhati-hati karena jembatan masih aktif digunakan kendaraan.
- Hormati warga sekitar dan lingkungan cagar budaya.
- Jika berkunjung malam hari, datang bersama teman untuk keamanan.
Jembatan Panus membuktikan bahwa destinasi wisata tak selalu harus megah atau modern. Kadang, sebuah jembatan tua justru mampu menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih bermakna—menghubungkan sejarah, budaya lokal, dan cerita rakyat dalam satu tempat. Bagi Anda yang ingin menjelajah sisi berbeda Depok, wisata ke Jembatan Panus layak masuk dalam daftar perjalanan berikutnya.

